PGN Akuisisi Sejumlah Blok Migas

NERACA

Jakarta – Demi memperkuat pasokan gas untuk domestik, Perusahaan Gas Negara (PGN) mengakuisisi sejumlah blok migas pada 2014. Di awal tahun, lewat anak perusahaan Saka Energi Indonesia (SEI), PGN mencaplok 75% hak partisipasi KKKS Blok Pangkah senilai US$650 juta. Alhasil, kini SEI memiliki 100% blok Ujung Pangkah.

Direktur Keuangan PGN Riza Pahlevi mengatakan bahwa pihaknya juga menginvestasikan sebesar US$175 juta untuk pengembangan shale gas di blok Fasken Eagle Ford di Texas, Amerika Serikat. "Pembangunan infrastruktur gas dan investasi di blok-blok migas tersebut dibiayai secara mandiri oleh perusahaan," ujarnya di Jakarta, Kamis (18/9).

Ia menyatakan investasi perseroan diantaranya dengan penerbitan global bond senilai US$1,35 miliar dan pinjaman sindikasi dari sejumlah lembaga keuangan global sebesar US$650 juta. Untuk mewujudkan konversi ke gas bumi, tiga pilar utamanya: ketersediaan pasokan gas, pembangunan infrastruktur dan daya serap pasar harus dikembangkan secara bersamaan.

“PGN bersama pemerintah dan mitra usaha lainnya akan terus bersinergi, sehingga gas bumi dapat menjadi energi yang mampu membangun kemandirian dan memperkuat daya saing ekonomi nasional,” jelas Riza Pahlevi.

Lebih jauh lagi, Riza mengatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong peningkatan pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan infrastruktur untuk mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. “Sebagai BUMN kami akan berusaha menjadi solusi bagi pemerintah dan masyarakat dalam mendorong penguatan ekonomi nasional melalui pemanfaatan gas bumi,” katanya.

Dengan sinergi dan dukungan semua pihak, lanjut dia, PGN optimis program konversi energi ke gas bumi dapat terwujud sehingga masyarakat dapat menggunakan energi yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.Ia menambahkan pembangunan infrastruktur gas bumi yang terus dilakukan PGN merupakan inisiatif perusahaan untuk mendorong gas bumi sebagai salah satu sumber energi utama dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM.

Selama tahun 2014, ia memaparkan bahwa untuk mendorong percepatan konversi dari bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) di sektor transportasi, PGN berinisiatif untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dan mobile refueling unit (MRU) di Jakarta dan Jawa Barat.

“Saat ini perseroan telah mengoperasikan tiga SPBG di wilayah Pondok Ungu Bekasi, Ketapang (Jakarta Barat), dan Bogor serta menyuplai gas bumi untuk 14 SPBG di DKI Jakarta,” katanya.

Untuk memudahkan akses konsumen, M Riza Pahlevi Tabrani mengatakan PGN juga telah membangun dan mengoperasikan MRU di kawasan Monas, Waduk Pluit, dan Pool Trans Jakarta Cawang. MRU yang disediakan PGN mampu melayani 500 kendaraan roda empat per hari. “Hingga akhir tahun ini PGN menargetkan menambah lagi 12 SPBG,” katanya.

Menurut dia, untuk mewujudkan konversi ke gas bumi terdapat tiga pilar utama, yakni ketersediaan pasokan gas, pembangunan infrastruktur, dan daya serap pasar harus dikembangkan secara bersamaan. “PGN bersama pemerintah dan mitra usaha lainnya akan terus bersinergi,” jelasnya.

Perusahaan Tertutup

Dilain sisi, Pengamat energi Kurtubi mengungkapkan Perusahaan Gas Nasional (PGN) Tbk harus bisa kembali menjadi perusahaan yang dipegang seluruhnya oleh negara. Karena selama ini PGN telah menjadi milik swasta sebagian sahamnya. “PGN harus dikembalikan ke negara untuk membangun infrastruktur, sekarang milik swasta separuhnya,” ujar Kurtubi.

Kurtubi berharap di kabinet pemerintah Jokowi-JK selanjutnya, PGN bisa membangun jaringan infrastruktur gas. Dengan begitu pasokan gas di dalam negeri yang sangat banyak bisa menggantikan energi minyak bumi yang semakin menipis dan selalu impor dalam pengolahannya. “Kita pindah ke gas, nggak bisa bangun infrastruktur gas, karena PGN sudah diswastakan," ungkap Kurtubi.

Ia juga memaparkan bahwa selama ini pemerintah hanya berbicara akan membangun infrastruktur gas. Namun dalam kenyataannya untuk membangun kilang minyak di dalam negeri saja belum bisa terwujud. “Katanya bangun kilang rugi, itu urusan lain. Ada kilang bisa minyak bisa menciptakan lapangan kerja tidak tergantung impor BBM dari luar,” papar Kurtubi.

BERITA TERKAIT

Migas Penyebab Turunnya Kinerja Ekspor Januari

NERACA Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor Januari 2019 dibanding Desember 2018 disebabkan oleh turunnya…

RUU Migas Dinilai Harus Berpihak Kepada Daerah

RUU Migas Dinilai Harus Berpihak Kepada Daerah NERACA Jakarta - Kalangan DPD RI mengingatkan Rancangan Undang Undang Minyak dan Gas…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Wacana Kenaikan HPP Gula Bisa Dorong Biaya Produksi UMKM

NERACA Jakarta – Wacana untuk menaikkan HPP gula akan membawa dampak bagi industri, salah satunya berpotensi menambah biaya produksi UMKM.…

Produk Indonesia Jelajah Lebih dari 100 Negara

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengaku senang karena ada produk dengan merek asli Indonesia yang telah "menjajah" lebih dari…

Sektor Pangan - Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan…