Perburuan Aksi Beli di Bursa Belum Berakhir

NERACA

Jakarta – Begitu besarnya kepercayaan investor terhadap industri pasar modal, di dukung sentiment positif dari dalam negeri dan luar negeri menjadi alasan pada investor domestic dan asing untuk lebih berlama-lama lagi mengkoleksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bahkan derasnya, transaksi beli yang dilakukan investor memicu laju indeks harga saham gabungan (IHSG) seharian berada di zona hijau.

Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko mengatakan, indeks BEI melanjutkan kenaikan meski dibayangi oleh sentimen dari terkoreksinya mata uang rupiah terhadap dolar AS,”Walaupun masih terbebani oleh pelemahan rupiah, namun pelaku pasar masih melakukan aksi beli dengan mengakumulasi saham-saham yang masih rendah," katanya di Jakarta, Kamis (18/9).

Dirinya memperkirakan, bila momentum kenaikan masih berlanjut maka arah indeks BEI selanjutnya akan menuju ke level 5.218-5.251 poin pada Jum’at akhir pekan. Sementara Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, pasar masih merespon positif sentimen dari Tiongkok yang menyediakan likuiditas sebanyak 500 miliar yuan atau setara dengan 81 miliar dolar AS kepada lima bank terbesarnya untuk mendukung pertumbuhan perekonomian,”Sentimen itu cukup positif mempengaruhi pasar domestik Kamis,”paparnya.

Asal tahu saja, mengakhiri perdagangan Kamis, indeks BEI ditutup menguat 19,958 poin (0,38%) ke level 5.208,142. Sementara Indeks LQ45 tumbuh 8,104 poin (0,92%) ke level 886,764. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai lebih dari Rp 300 miliar di pasar reguler. Dana asing akhirnya masuk lagi ke lantai bursa.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 186.819 kali dengan volume 5,898 miliar lembar saham senilai Rp 5,972 triliun. Sebanyak 108 saham naik, 177 turun, dan 99 saham stagnan. Rata-rata bursa di Asia menutup perdagangan di zona hijau, kecuali pasar saham Tiongkok yang masih melemah. Sentimen positif datang dari Wall Street yang mencetak rekor.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Taisho (SQBI) naik Rp 26.000 ke Rp 306.000, Astra Agro (AALI) naik Rp 775 ke Rp 23.850, Matahari (LPPF) naik Rp 600 ke Rp 16.700, dan BCA (BBCA) naik Rp 300 ke Rp 12.550. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 550 ke Rp 6.750, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 550 ke Rp 26.775, J Resources (PSAB) turun Rp 450 ke Rp 5.175, dan Sona Topas (SONA) turun Rp 395 ke Rp 4.100.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup menguat 22,212 poin (0,43%) ke level 5.210,396. Sementara Indeks LQ45 menguat 7,171 poin (0,82%) ke level 885.831. Saham-saham bank dan perkebunan naik cukup tinggi berkat aksi beli investor. Investor asing tak banyak bertransaksi, tapi siang ini sudah mencatat pembelian bersih dengan nilai tipis.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 103.856 kali dengan volume 3,7 miliar lembar saham senilai Rp 3,3 triliun. Sebanyak 145 saham naik, 118 turun, dan 85 saham stagnan. Volume dan nilai transaksi perdagangan saham melonjak karena ada transaksi pembelian saham PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) senilai Rp 876 miliar di pasar negosiasi. Transaksi ini difasilitasi broker Bahana Securities (DX) selaku pembeli dan Sinarmas Sekuritas (DH) selaku penjual.

Pergerakan bursa-bursa regional pada sesi pertama, masih sama seperti diawal perdagangan dengan rata-rata menguat dan hanya pasar saham Tiongkok yang melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Siloam (SILO) naik Rp 250 ke Rp 15.850, Astra Agro (AALI) naik Rp 250 ke Rp 23.325, BCA (BBCA) naik Rp 225 ke Rp 12.475, dan Tower Bersama (TBIG) naik Rp 125 ke Rp 8.350. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 600 ke Rp 6.700, SMART (SMAR) turun Rp 400 ke Rp 6.450, J Resources (PSAB) turun Rp 125 ke Rp 5.500, dan Citra Marga (CMNP) turun Rp 75 ke Rp 3.020.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka menguat 8,21 poin atau 0,16% menjadi 5.196,39 didorong sentimen eksternal dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,05 poin (0,23%) ke level 880,71,”Sentimen positif global masih cukup kuat mempengaruhi pasar saham domestik," kata Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah.

Dia menuturkan, bank sentral AS dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) masih mempertahankan suku bunga rendah 0,25%, meski berencana untuk mengakhiri program pembelian aset bulanan pada Oktober tahun ini. Selain itu, lanjut dia, bank sentral Tiongkok (PBoC) yang meningkatkan likuiditas dengan menyuntikkan 500 miliar yuan atau setara dengan US$ 81 miliar dengan tenor 3 bulan ke lima bank terbesarnya untuk mendukung pertumbuhan masih menjadi sentimen positif di pasar.

Oleh karena itu, imbas dari sentiment Tiongkok dan Amerika Serikat diyakini menjaga momentum kenaikan indeks BEI. Dari dalam negeri, menurut Alfiansyah, masih minim sentiment hanya sentimen individual emiten dan faktor teknis sebagai penopang indeks BEI.

Dia mengatakan, pasca diumumkannya struktur kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pasar domestik kembali dihadapkan pada ketidakpastian, terutama mengenai profil menteri dalam kabinet, dukungan parlemen kepada pemerintahan presiden terpilih dan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 170,00 poin (0,70%) ke level 24.206,41, indeks Nikkei naik 165,25 poin (1,04%) ke level 16.053,74 dan Straits Times menguat 6,50 poin (0,20%) ke posisi 3.303,37. (bani)

Related posts