Kinerja Lesu, UNTR Revisi Target Penjualan

NERACA

Jakarta – Belum pulihnya harga batu bara seiring anjloknya harga komoditas dunia, memberikan imbas yang berarti terhadap bisnis penjuaan alat berat. Kondisi inilah yang dirasakan PT United Tractors Tbk (UNTR) yang harus merevisi target penjualan tahun ini.

Wakil Presiden PT United Tractors Tbk (UNTR) Gidion Hasan menyatakan, melemahnya harga komoditas batu bara menghantam kinerja perseroan. Hal ini menyebabkan turunnya jumlah target penjualan alat berat yang sebelumnya ditargetkan 4.200, menjadi 4.000 sampai akhir tahun 2014,”Sektor pertambangan biasa menyumbang pendapatan 60-70% sekarang 35%,”katanya di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut dia menambahkan, untuk total belanja modal tak mengalami perubahan yaitu sekitar US$ 300 juta. Yang disumbang dari PT Pamapersada Nusantara (Pama) sebesar US$ 250 juta yakni unit usaha bergerak di kontraktor pertambangan. Dana tersebut juga dihabiskan untuk peremajaan alat-alat berat.

Disebut, saat ini realisasi belanja modal sudah mencapai US$ 140 juta sampai Juli. Sekadar informasi, hingga Juli 2014 penjualan alat berat Komatsu UNTR tercatat sebanyak 2.508 unit. Jumlah ini turun 9% dibanding penjualan periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 2.770 unit.

Tahun ini menjadi tantangan bagi PT United Tractor Tbk, lantaran proyeksi permintaan dari sektor pertambangan dan harga komoditas yang terus bergejolak. Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan juga di akibatkan dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.

Bahkan menurut Himpunan Alat Berat Indonesia, hingga akhir tahun ini produksi alat berat nasional diperkirakan mencapai 8.000 unit atau 75%. Dimana angka ini menurun dari target awal tahun sebesar 10.000 unit. Merespon kondisi tersebut, United Tractor lebih memilih angka konservatif dan termasuk penurunan angka belanja modal atau capital expenditure tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Sementara Presiden Direktur UNTR Djoko Pranoto pernah bilang, perusahaan memang telah memperkirakan permintaan alat berat nasional di tahun ini akan stagnan sebanyak 10.500 unit. Oleh karena itu, fokus perseroan di tahun ini akan lebih kepada peningkatan pangsa pasar (market share) bukan memacu volume penjualan.,“Ditagetkan market share bisa mencapai 43% di 2014, lebih tinggi dari tahun lalu yang 41%," ucapnya. (bani)

BERITA TERKAIT

HOKI Taksir Penjualan Semester I Tumbuh 15%

NERACA Jakarta – Meskipun mencatatkan penurunan laba bersih di kuartal pertama 2019 karena telat panen, emiten produsen beras kemasan PT…

Lepas 800 Juta Saham Baru - Inocycle Targetkan Penjualan Tumbuh 40%

NERACA Jakarta – Rencanakan go publik, PT Inocycle Technology Group Tbk terus pacu ekspansi bisnis dengan membuka pabrik baru. Dimana…

AKIBAT PERANG DAGANG DAN FAKTOR POLITIK - Asumsi Makro 2019 Diprediksi Meleset dari Target

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 tidak sesuai target. Penyebabnya faktor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Masih Rugi, Citra Putra Tidak Bagi Dividen

Mempertimbangkan kondisi perusahaan yang masih mencatatkan rugi sepanjang tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)…

Tawarkan IPO Rp 396-525 Persaham - Hensel Davest Tambah 300 Ribu Agen Baru

NERACA Jakarta – Dalam rangka penetrasi pasar, khususnya mengoptimalkan pasar di Timur Indonesia, PT Hensel Davest Indonesia Tbk sebagai perusahaan…

Sinar Mas Agro Bagi Dividen Rp 750 Per saham

NERACA Jakarta - Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMART (SMAR)…