Mahal Biaya Pengobatan

Oleh: Kencana Sari

Peneliti Badan Litbang Kesehatan

Bayangan kabinet Jokowi sebagai presiden terpilih sudah diketahui. Pro dan kontra pun bermunculan, terutama karena kabinet yang katanya akan ramping ternyata tak seramping dugaan. Sekarang mari kita kita simak nasib bidang kesehatan di era Jokowi kelak. Dalam visi misinya secara tegasJokowi menyatakan jika terpilih menjadi presiden RI ke-7, maka anggaran kesehatan akan dialokasikan minimal 5% untuk meningkatkan pelayanan kesehatan baik pencegahan maupun pengobatan.

Sesuai dengan amanat UU No. 36 tahun 2009 pasal 171 ayat 1berbunyi:“Besar anggaran kesehatan pemerintah dialokasikan minimal 5% (lima persen) dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji”. Dalam RAPBN 2014 Kementerian Kesehatan mendapatkan anggaran sekitar Rp 44,9 trilliun, hanya berkisar 2,47% dari total RAPBN 2014. Walau ini memang “peninggalan” dari era Presiden SBY yang sulit diotak-atik lagi oleh Jokowi nantinya.

Kemudian perlu dipertegas adalah anggaran mana yang lebih besar apakah untuk pengobatan ataukah pencegahan. Agaknya selama ini paradigma sakit yang dianut. Terbukti dari data pembiayaan kesehatan 1995-2012 ternyata lebih dari 90% terserap untuk program upaya kesehatan perorangan yang berorientasi pengobatan. Kurang dari 10% saja yang merupakan upaya pencegahan. Padahal upaya pencegahan mempengaruhi status kesehatan hingga 70%-80%. Sebaliknya upaya pengobatan hanya mempengaruhi 10%-20% kesehatan masyarakat.

Seorang ahli dari Center for Disease Prevention menyebutkan bahwa adanya penyebaran kasus Ebola merupakan salah satu contoh mandulnya upaya pencegahan dan penularan penyakit. Padahal upaya pencegahan sangatlah mudah dilakukan. Misalnya saja membudayakan cuci tangan dan mengontrol tekanan darah dapat mencegah kita dari berbagai penyakit infeksi maupun kronis. Tapi sedihnya, masih banyak masyarakat yang abai apalagi menjadikannya sebagai budaya.

Tidak hanya itu saja, dari sisi ekonomi pencegahan terhadap risiko timbulnya penyakit akan lebih menguntungkan. Contohnya saja yang simpel bahwa setiap dolar yang dihabiskan untuk imunisasi anak akan memberikan benefit kembali sebesar US$10. Tetapi sayangnya tingkat anak yang tidak diimunisasi semakin meningkat dengan alasan orang tuanya yang tidak mau anaknya diimunisasi. Hal ini perlu penyadaran kembali kepada masyarakat.

Seperti halnya beberapa pakar berpendapat yang penting adalah bagaimana mengubah pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan berupaya untuk hidup sehat. Tapi tentu saja masyarakat perlu disadarkan terlebih dahulu bagaimana hidup yang sehat.

BERITA TERKAIT

Musim Panen, Harga Beras Masih Mahal di Kabupaten Sukabumi

Musim Panen, Harga Beras Masih Mahal di Kabupaten Sukabumi NERACA Sukabumi - Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Sukabumi…

Kapuas Prima Serap Dana Rp 1,9 Miliar - Danai Biaya Eskplorasi

NERACA Jakarta - PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) mengaku sudah menghabiskan dana sekitar Rp1,9 miliar untuk membiayai kegiatan eksplorasi…

Biaya Proyek Kereta Jakarta-Surabaya Membengkak Jadi Rp100 Triliun

NERACA Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan anggaran pembiayaan Proyek Kereta Api Jakarta-Surabaya melonjak menjadi lebih dari Rp100…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Estimasi Risiko Proyek Infrastruktur

    Oleh: Ariyo DP Irhamna Peneliti INDEF   Pemerintah memiliki ambisi yang sangat besar untuk mengejar ketinggalan infrastruktur kita.…

Keniscayaan Kompetisi dan Kolaborasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Tidak ada kompetisi, dunia akan sepi. Tanpa ada kompetisi ilmu pengetahuan…

Petahana & Terdakwa

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Riak pesta demokrasi berlabel pilkada serentak mulai satu…