Polemik Konversi Lahan

Oleh: M Reza Hafiz Akbar

Peneliti Indef

Upaya perluasan lahan pertanian di Indonesia nampaknya belum sebanding dengan alih fungsi lahan yang terjadi sehingga defisit lahan pertanian kian tidak terhindarkan. Data Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa alih fungsi lahan pertanian mencapai 100.000 ribu ha per tahun. Di sisi lain, kemampuan mencetak lahan saawah baru hanya 40.000 ha per tahun. Celakanya, lahan-lahan subur seperti yang ada di Pulau Jawa menjadi ladang terbesar konversi lahan pertanian. Alhasil, luas lahan pertanian di Indonesia dengan penduduk 253 juta jiwa hanya sebesar 8,1 juta ha. Bandingkan dengan Thailand yang jumlah penduduknya seperempat dari penduduk Indonesia, memiliki luas lahan hingga 9 juta ha.

Akar masalah yang menjadi biang utama konversi lahan pertanian adalah ketiadaan insentif bagi pemilih lahan, terutama petani, untuk mempertahankan lahannya sebagai lahan untuk usaha tani. Ketiadaan insentif pemilik lahan untuk mempertahankan lahannya terwujud dalam trade off antara menggarap dan menjualnya. Menggarap lahan pertanian tidak selalu menguntungkan bagi petani, terlebih petani gurem dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,2 hektar. Penggarapan lahan 0,2 hektar berimplikasi pada ketidakseimbangan antara biaya (real cost dan opportunity cost) dan hasilnya.

Biaya yang dikeluarkan oleh petani adalah keniscayaan, tapi hasilnya belum tentu dikarenakan usaha pertanian rentan terhadap perubahan cuaca, terlebih saat ini perubahan iklim semakin terasa. Akibatnya terdapat pos biaya untuk penyesuaian terhadap perubahan iklim. Pada akhirnya, menjual lahan pertanian adalah jalan yang biasa ditempuh petani gurem, telebih dengan iming-iming harga tanah yang tinggi dikarenakan lokasi lahan pertanian yang strategis semisal di pinggir jalan.

Disamping ketiadaan insentif, implementasi RTRW kabupaten/kota, provinsi dan nasional terkait lahan pertanian abadi juga seringkali keluar jalur. Ketidakpatuhan birokrasi daerah terhadap implementasi RTRW seringkali menambah pelik masalah konversi lahan di daerah-daerah. Tidak jarang, meski dalam RTRW sudah tercantum lahan abadi pertanian, alih fungsi lahan pertanian abadi tidak sedikit terjadi. Melihat kondisi tersebut, solusi yang dapat diajukan agar lahan pertanian di Indonesia tidak semakin tergerus antara lain Pertama, pelaksanaan reforma agraria dengan membatasi kepemilikan lahan. Adanya pembatasan kepemilikan lahan dengan batas maksimum dan minimum, memungkinkan tidak ada lagi petani gurem. Implikasinya, tidak ada lagi trade off antara menjual lahan dan menggarap lahan untuk usaha tani yang dikerjakan sendiri.

Kedua, mekanisme subsidi yang tepat sasaran kepada para petani. Selama ini pemerintah memberikan insentif kepada petani berupa subsidi benih dan pupuk yang seringkali tidak tepat sasaran. Untuk itu, subsidi harga jual produk pertanian dapat menjadi salah satu alternatif. Subsidi tersebut akan menjamin petani mendapat keuntungan yang memadai dari menjual hasil pertanian dan tidak perlu takut jika harga jual anjlok.

Terakhir, pengenaan sanksi tegas kepada pemerintah daerah yang mengijinkan alih fungsi lahan sawah abadi menjadi pilihan kebijakan untuk mempertahankan keberadaan lahan pertanian. Sanksi tegas misalnya bisa dilaksanakan dengan memberikan disinsentif dalam pengucuran DAU-DAK bagi pemerintah daerah yang membiarkan alih fungsi lahan pertanian yang masuk kategori sawah abadi.

BERITA TERKAIT

Puradelta Optimis Target Bakal Tercapai - Jual Lahan 60 Hektar

NERACA Jakarta - Pengembang lahan industri PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) optimistis bisa membukukan mar­keting sales 60 hektare lahan hingga…

TOTL Siapkan Dana Sekitar Rp 56,51 Miliar - Akuisisi Lima Lahan di Bogor

NERACA Jakarta - PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) tengah memacu rencananya untuk mengakuisisi 5 lahan yang berada di wilayah…

Intiland Kembali Kembangkan Ngoro Industrial Park 3 - Laris Manis Penjualan Lahan

NERACA Jakarta – Mendongkrak pertumbuhan penjualan, PT Intiland Development Tbk (DILD) menyiapkan proyek kawasan industri Ngoro Industrial Park (NIP) 3…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Finansial BUMN Konstruksi Jebol

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Ambisi membangun infrastruktur ternyata membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. BUMN di sektor…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…