Pasar Modal Tidak Khawatirkan The Fed - Kenaikan Suku Bunga

NERACA

Jakarta – Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga atau Fed Rate sehingga memicu capital outflow, banyak menjadi khawatiran bagi pelaku pasar. Namun sebaliknya, bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku tidak khawatir dengan rencana tersebut,”Kita tidak perlu mengatasi apa-apa, karena yang lebih banyak mempengaruhi pasar modal Indonesia adalah perekonomian Indonesia,”kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito di Jakarta, Rabu (17/9).

Menurut dia, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang positif sehingga potensi kinerja perusahaan tercatat atau emiten di BEI akan tetap positif. Selain itu, ia juga mengaku bahwa pihaknya tidak khawatir investor asing yang menempatkan dananya di pasar saham akan melakukan aksi lepas,”Kalau investor yang melakukan investasi di pasar saham tidak akan kemana-mana. Mereka akan cari negara-negara yang punya potensi ekonomi dan laba emitennya baik. Dan itu ada di Indonesia," ucapnya.

Ito Warsito menambahkan bahwa di sepanjang tahun ini aliran dana asing yang masuk ke pasar saham domestik telah mencapai sekitar Rp53,8 triliun. Dimana angka tersebut, diklaim tertinggi

sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Kemudian jumlah itu bisa bertambah jika pemerintah mendatang dinilai positif oleh pasar.

Meski aliran dana asing masuk ke pasar saham cukup deras, Ito Warsito juga mengaku tidak khawatir terjadi penggelembungan (bubble) di pasar modal Indonesia, dikarenakan kinerja emiten yang bagus,”Bubble atau tidak tergantung dari kinerja emiten-emiten Indonesia. Maksudnya, kalau kinerja emiten rendah tetapi di hargai tinggi itu 'bubble'. Namun sampai saat ini kinerja emiten Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand, Tiongkok, dan India, kita jauh lebih baik," katanya.

Sementara menurut ekonom Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono menambahkan, dengan membaiknya kondisi perekonomian, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan tersebut pada akhirnya memunculkan sentimen dari eksternal yang nantinya berdampak kepada stabilitas perekonomian Indonesia.

Menurutnya, kenaikan suku bunga tersebut memang akan dilakukan seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian AS. Namun, diperkirakan kenaikan yang dilakukan tidak akan signifikan. Diprediksi kenaikan yang dilakukan disekitar angka 0,25%,”Kenaikan itu membuat sentimen di pasar sudah sedemikian rupa. Paling naik 0,25% sampai 0,5%. Tapi, mereka (pasar) melihatnya naiknya double,” tutur Tony.

Tony berpendapat, sentimen tersebut perlu dilawan dengan sentimen positif dari dalam negeri. Caranya adalah dengan kebijakan yang sustainable dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Diharapkan, presiden terpilih ini benar-benar memiliki efek yang positif dalam kurun waktu lama,”Pembentukan kabinet baru penting dalam hal ini untuk melihat sentimen positif ini berlangsung lama atau tidak. Jadi, sentimen dari kenaikan The Fed pertaruhan dengan efek Presiden Terpilih Jokowi,” pungkas Tony. (bani)

BERITA TERKAIT

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…

Nissan SUV New Terra Masuk Pasar Asia Tenggara

Nissan meluncurkan SUV New Terra di Filipina sebagai bagian dari langkah perusahaan guna memperkuat komitmennya di kawasan Asia Tenggara. Pelanggan…

Honor 7A Resmi Masuk di Pasar Indonesia

Honor secara resmi memperkenalkan smartphone terbarunya untuk pasar Indonesia. Kali ini, perusahaan asal Tiongkok itu memboyong Honor 7A yang ditujukan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Metrodata Bagikan Dividen Rp 10 Persaham

NERACA Jakarta - Berkah mencatatkan pertumbuhan laba bersih 12,1% sepanjang tahun 2017 kemarin, mendorong PT Metrodata Electronic Tbk (MDTL) untuk…

Duta Pertiwi Bidik Laba Bersih Rp 6 Miliar

NERACA Jakarta – Membaiknya harga batu bara, menjadi alasan bagi PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk (DPNS) untuk mematok pertumbuhan bisnis…

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…