Cara Kurangi Subsidi BBM

Di tengah sebagian besar rakyat Indonesia sekarang menanggung beban kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) dan kenaikan harga Elpiji 12 kg serta mulai meningkatnya harga-harga komoditas lainnya, pemerintahan baru Jokowi-JK ditantang menaikkan harga BBM bersubsidi sebagai upaya mengurangi beban subsidi dalam RAPBN 2015.

Lantas bagaimana mungkin subsidi BBM dikurangi tanpa menaikkan harga? Secara definisi, subsidi adalah selisih antara harga komersial dengan harga eceran. Jadi kalau harga pasar Premium adalah Rp 10 ribu per liter dan pemerintah menjualnya ke konsumen Rp 6.500, maka subsidi yang ditanggung pemerintah Rp 3.500 per liter. Kalau subsidi akan dikurangi menjadi hanya Rp 2.500 per liter, maka harga harus dinaikkan menjadi Rp 7.500 per liter. Itu adalah perhitungan matematika sederhana saja.

Menurut pengamat ekonomi Iman Sugema yang mencoba mencermati besaran subsidi yang setiap tahun terus membengkak dari harga Premium semula Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 dan harga solar dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 per liter pada Juni 2013, harapannya saat itu beban subsidi akan berkurang pada tahun-tahun berikutnya. Tapi kenyataannya tidak demikian.

Dengan kuota yang hampir sama, yakni 46 juta kiloliter, beban subsidi tahun 2014 membengkak menjadi Rp 246,5 triliun dibandingkan 2013 yang hanya Rp 210 triliun. Harga minyak mentah 2013 juga kurang lebih sama dengan 2014. Yang menjadi penyebab pembengkakan adalah nilai tukar yang merosot dari Rp 10.450 menjadi Rp 11.600 per US$.

Ada yang menarik dari kasus subsidi 2013-2014 ini. Pertama, kenaikan harga eceran tidak selalu identik dengan upaya mengurangi beban subsdidi BBM. Kedua, skema subsidi yang diterapkan sekarang sama sekali tidak menjamin adanya kepastian mengenai kapan dan seberapa besar subsidi dapat dikurangi secara pasti.

Pokok masalahnya, dengan harga yang dipatok seperti sekarang, sebetulnya pemerintah menanggung dua hal sekaligus, yaitu subsidi dan risiko harga. Ketika harga patokan cenderung meningkat, maka jumlah subsidi juga akan secara otomatis meningkat. Walhasil, tidak ada kepastian bahwa beban akan menurun walau harga eceran sudah dinaikkan.

Karena itu, kita harus menanggalkan skema subsidi yang sekarang berlaku kalau memang tujuannya adalah mengurangi beban subsidi BBM. Ada dua alternatif skema subsidi, yakni subsidi per liter tetap dan subsidi proporsional.

Kalau dihitung berdasarkan RAPBN 2015, maka subsidi per liter untuk Premium adalah Rp 3.700 dan untuk solar Rp 5.200 per liter. Skema subsidi per liter tetap dilakukan dengan cara mematok nilai subsidi per liter di kedua angka tersebut. Jadi harga eceran akan naik atau turun sejalan dengan harga patokan yang terjadi. Nilai subsidi akan tetap di angka tersebut. Satu kelemahan skema ini, yakni ketika harga patokan minyak dunia cenderung turun, beban subsidi tidak turun. Padahal, pada saat itulah kesempatan terbaik untuk menurunkan beban subsidi.

Skema yang kedua, yakni subsidi proporsional tampaknya lebih adil dan lebih fleksibel. Kalau memakai angka RAPBN 2015, maka proporsi subsidi adalah sebesar 37% untuk Premium dan 49% untuk solar. Karena sifatnya proporsional terhadap harga patokan, maka otomatis beban subsidi akan naik atau turun secara proporsional terhadap harga patokan. Hanya saja besaran kenaikan beban subsidi tidak akan sebesar yang terjadi pada skema yang berlaku sekarang ini.

Intinya adalah, risiko harga yang ditanggung pemerintah tidak 100% melainkan sebesar proporsi subsidinya. Dengan skema ini, maka besaran subsidi akan lebih mudah untuk dikendalikan. Selain itu, beban subsidi otomatis akan turun ketika harga patokan dunia turun. Semoga!

BERITA TERKAIT

Cara Praktis Hilangkan Lemak di Perut

Bagi sebagian orang, lemak pada bagian perut sangat sulit untuk dihilangkan. Banyak juga yang menyepelekannya, padahal lemak di bagian perut…

Konsumsi BBM Honda Mobilio Tembus 24,1 Km/Liter

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Honda Mobilio menembus 24,1 km/liter dalam ajang lomba efisiensi yang diikuti komunitas, calon pembeli, dan…

Kurangi Ketergantungan Dolar Melalui "Local Currency Settlement"

Oleh: Calvin Basuki Bank Indonesia mendorong penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi perdagangan bilateral Indonesia (local currency settlement/LCS) untuk…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Citra DPR Terpuruk?

Rasanya sulit kita untuk tidak menilai citra dan reputasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik secara kelembagaan maupun para anggotanya saat…

Prospek Ekonomi Digital

Beberapa tahun lalu kita belum membayangkan sopir taksi dapat mengemudikan mobilnya sendiri tanpa terikat formal bekerja di perusahaan taksi konvensional,…

Peringatan 100 Ekonom

Sekitar 100 ekonom berkumpul menyuarakan kondisi perekonomian Indonesia yang masih memprihatinkan saat ini. Kalangan ekonom pada kesempatan bertemu dengan Presiden…