Buah Manis Cerdas Kelola Finansial Sejak Dini - Tingkatkan Literasi Keuangan

NERACA

Jakarta – Dibalik ketatnya persaingan industri perbankan dalam negeri, menjadi gambaran bila pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi daya tarik investor asing untuk meraup pasar potensial dalam negeri. Hal ini juga menjadi cerminan, bila industri keuangan Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang positif, inflasi yang terkendali dan iklim politik keamana yang terkendali.

Namun disisi lain, kondisi ini menjadi tantangan bagaimana industri keuanagn dalam negeri, baik itu perbankan, asuransi ataupun pasar modal dalam negeri bisa menguasai pangsa pasar dan menjadi tuan di negeri sendiri. Apalagi menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kondisi ini menjadi syarat multak agar tidak tertinggal dan hanya menjadi pasar bagi negara tetangga. Salah satu pemicu untuk meningkatkan daya saing industri keuangan dalam negeri, adalah bagaimana masyarakat dapat mengakses secara mudah layanan tersebut. Ironisnya, hal ini diperburuk dengan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih rendah hanya 28%. Jauh dibandingkan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan Thailand.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti Soetiono mengakui, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia memang masih rendah. "Literasi keuangan kita masih rendah dibanding Malaysia, tingkat literasi keuangan masyarakatnya mencapai 66%. Sedangkan di Singapura sudah 98%. Sementara Thailand mencapai angka 73%,”ungkapnya.

Masih rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat saat ini, tidak bisa lepas dari minimnya akses masyarakat terhadap layanan industri keuangan baik itu perbankan, asuransi dan pasar modal. Hal ini diperburuk, dengan prilaku kolot masyarakat yang merasakan sulit dipahami produk investasi dari industri keuangan dan ditambah minimnya sosialisasi serta edukasi.

Imbas rendahnya literasi keuangan, banyak masyarakat mudah tertipu dengan iming-iming keuntungan dari investasi bodong. Tengok saja kasus Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada yang menggelapkan dana nasabahnya sebesar Rp 3,1 triliun menjadi bukti literasi keuangan atau melek finansial masyarakat masih rendah.

Kata Direktur Literasi dan Informasi OJK, Agus Sugiarto, banyak masyarakat yang masih tergiur dengan keuntungan besar yang ditawarkan produk-produk industri keuangan. Meskipun, menurutnya, masyarakat yang menjadi nasabah memiliki pendidikan tinggi,”Saya bisa yakinkan orang-orang yang jadi korban, bukan orang yang tidak berpendidikan, tetapi banyak orang berpendidikan jadi korban karena tergiur keuntungan yang di iming-imingi. Berarti, tingkat literasinya belum matang,”tandasnya.

Dia menambahkan, pemahaman dalam mengetahui dan mengelola produk-produk industri keuangan di Indonesia penting diketahui masyarakat. Sebab, banyak yang terjebak dengan model-model investasi semacam Koperasi Cipaganti dengan keuntungan yang tidak masuk akal.

Bidik Generasi Muda

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan melek keuangan masyarakat Indonesia perlu dilakukan langkah konkret. Salah satunya melalui pembaruan kurikulum untuk siswa kelas X dengan menambah materi pengayaan terkait OJK dan industri jasa keuangan. Program ini diharapkan bisa mengejar ketertinggalan masyarakat Indonesia dalam hal pemahaman soal industri keuangan.

Bahkan OJK terus memperbanyak kendaraan Si Molek, sebagai bentuk keseriusan untuk meningkatkan literasi keuangan. Kendatipun, sektor perbankan masih mendominasi tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Namun hal ini belum menjadi kepuasan bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghadapi persaingan pasar bebas tingkat regional dan global. Oleh karena itu, OJK memberikan perhatian serius untuk meningkatkan literasi keuangan bagi masyarakat dengan berbagai macam cara yang efektif, terarah dan terukur.

Kesuksesan OJK dalam meningkatkan literasi keuangan tidak akan berjalan tanpa melibatkan peran swasta, khususnya perusahaan sektor keuangan seperti Asuransi, Perbankan dan Pasar Modal. Hal ini dimaksudkan agar akselerasi literasi keuangan dan melek finasial bagi masyarakat makin cepat dan sesuai target. Diharapkan nantinya, semakin tumbuhnya pemahaman masyarakat akan berimbas pada bertumbuhnya sektor keuangan di Indonesia dan tingkat kepercayaan investor juga semakin besar menempatkan dananya di lembaga jasa keuangan.

Artinya dengan begitu, makin mudah perusahaan asuransi atau perbankan menawarkan produknya kepada masyarakat lantaran informasi yang didapatkan bisa dipahami. Kedepan, dengan begitu masyarakat bisa lebih bijak dalam mengelola keuangannya untuk masa depan.

Menyadari minimnya literasi keuangan masyarakat dan rendahnya kesadaran terhadap pengelolaan keuangan sejak dini menjadi landasan bagi PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) sebagai perusahaan asuransi untuk mengajak generasi muda melek dunia keuangan.

Bert Paterson, Presiden Direktur Sun Life mengatakan, sejalan dengan komitmen Sun Life untuk membantu keluarga Indonesia mencapai kesejahteraan melalui kemapanan finansial, pihaknya akan terus melanjutkan program melek finansial dengan kerjasama perguruan tinggi, “Kami gembira dapat menjadi bagian dari sebuah usaha yang layak dan penting. Bekerja sama dengan CARE for the Nation menunjukkan upaya Sun Life untuk memberdayakan wirausaha muda Indonesia di masa depan dengan kemampuan finansial untuk merencanakan dan menjalankan bisnis mereka sendiri,”ujarnya.

Sebagai perusahaan jasa keuangan, Sun Life memahami bahwa seiring pendapatan per kapita masyarakat yang terus meningkat sudah sepantasnya harus diimbangi dengan pemberian edukasi dan sosialisasi soal keuangan yang memadai agar masyarakat lebih melek finansial. Untuk itu program komunitas (Champion Teens Care for the Nation) didirikan untuk membantu para mahasiswa dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di berbagai kota besar untuk memperoleh keterampilan yang bertujuan untuk membangun bisnis mikro mereka sendiri.

Menurut Bertt Paterson, dengan memberikan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan menanamkan kepercayaan diri pada generasi muda, hal tersebut akan membantu mereka dalam membuat keputusan keuangan secara matang dan efektif.,”Ketrampilan-ketrampilan ini akan bermanfaat pula dalam kehidupan mereka sebagai orang dewasa dan juga wirausaha,”ujarnya.

Maka dengan program tersebut, generasi muda Indonesia bisa hidup lebih mandiri dan ujungnya bakal memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kedepan seiring meningkatnya pemanfaatan produk industri keuangan di dalam negeri. (bani)

BERITA TERKAIT

150 Petani Kangkung Bogor Dimotivasi Tingkatkan Kapasitas

150 Petani Kangkung Bogor Dimotivasi Tingkatkan Kapasitas NERACA Bogor - Sebanyak 150 petani kangkung dari tiga kecamatan di wilayah Kabupaten…

BI Dorong Jakarta Tingkatkan Anggaran Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Anggaran pemerintah DKI Jakarta untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dinilai perlu ditingkatkan karena…

Asuransi Simas Sambangi Siswa Bukittinggi - Edukasi Literasi Keuangan

NERACA Jakarta - Asuransi Sinar Mas (Simas) melanjutkan literasi keuangan untuk mendukung kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…