Saatnya Membangun Papua Tanpa Prasangka - Ole : Evita Indah Rahayu, Mahasiswa Papua

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, berprestasi, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Terkait dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut pemerintah terus memberikan bantuan pendidikan ke masyarakat dalam bentuk beasiswa. Salah satunya bagi mahasiswa di Papua. Bantuan beasiswa bagi mahasiswa Papua itu pun setiap tahunnya terus ditingkatkan jumlahnya oleh pemerintah.

Meskipun disadari bahwa bantuan beasiswa tidak hanya dari pemerintah pusat, pemerinttah daerah, lembaga-lembaga swasta, bahkan pihak asing juga ada yang memberikan bantuan beasiswa, seperti Pemerintah Australia atau Freeport. Pemerintah luar negeri, seperti Australia membagi beasiswanya dalam tiga (3) kategori Australian Development Scholarships (ADS), Australian Leadership Awards (ALA) dan Endeavour Awards (EA).

Melalui beasiswa ini, para pemuda-pemuda asal Papua dapat mencicipi kuliah di universitas ternama di berbagai daerah di dalam negeri, bahkan beberapanya di luar negeri.

Setidaknya terdapat 4 manfaat dari beasiswa bagi mahasiswa diantaranya:1) Membantu mahasiswa yang kurang mampu untuk mendapat kesempatan dalam menempuh pendidikan.2) Mendorong mahasiswa untuk saling berlomba dalam hal prestasi akademik.3) Merangsang semangat belajar mahasiswa atau penerima beasiswa agar terbebas dari pencabutan beasiswa tersebut.4) Memberikan kesempatan kepada lembaga luar kampus untuk berpartisiasi dalam proses peningkatan pendidikan.

Dengan adanya kesempatan bagi orang Papua untuk menimba ilmu di berbagai peguruan tinggi di dalam negeri ini, memberi kesempatan untuk mahasiswa asal Papua untuk berinteraksi atau bertukar pikiran dengan mahasiswa yang berasal dari daerah lain di Indonesia. Apalagi bila beasiswa didapatkan di Kota Pelajar seperti Yogyakarta, di mana mahasiswa dari seluruh Indonesia banyak yang menimba ilmu di kota ini. Kesempatan untuk sharing ilmu dan bertukar pikiran akan semakin besar, baik dari diskusi formal dengan hadiah beberapa cemilan di kotak kardus maupun diskusi-diskusi dadakan di warung kopi yang memang banyak di Yogyakarta.

Orang tua beserta pemerintah tentu berharap para mahasiwa yang telah menimba ilmu di berbagai belahan negeri, dapat kembali pulang ke daerahnya untuk melakukan dan membangun berbagai program-program di daerah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum.

Terkait hal tersebut, kiranya ada hal yang cukup menggelikan ketika mahasiswa Papua juga turut turun ke jalan (demo) menuntut Pembebasan 2 wartawan Prancis yang ditahan polda Papua. Kedua wartawan tersebut disebabkan penyalahgunaan visa. Tujuan mereka ke Papua sebagai wisatawan tetapi mengapa justru menjadi wartawan, mungkin saja ada pelanggaran lain keimigrasian. Padahal jika kedua wartawan tersebut masuk dengan mengindahkan ketentuan dan tidak melanggar aturan pastinya akan lebih mudah mencapai tujuan kunjungannya seperti kunjungan-kunjungan warga asing lainnya di Papua selamaini yang tidak menemukan masalah dan lancar-lancar saja.

Mencermati aksi demo mahasiswa tersebut, terbesit pertanyaan, apa motif mahasiswa tersebut melakukan demo? Bukankah telah ditegaskan bahwa PAPUA adalah bagian NKRI yang sudah final. Pemberian beasiswa adalah salah satu bentuk perhatian pemerintah atas kondisi Papua. Dengan harapan setelah wisuda, mereka kembali ke daerah guna membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Bangsa ini membutuhkan solusi jangka menengah dan panjang. Bukan demo-demo yang justru memperkeruh suasana. Mahasiswa sebagai agent of change tentu dituntut untuk lebih, kreatif, inovatif dan sistematif dalam berfikir jangka panjang. Jangan sampai mahasiswa “ditunggangi” oleh oknum-oknum yang tidak ingin bumi Papua dalam kondisi damai.

Jika berbicara atas nama keadilan dan kesejahteraan, mengapa mahasiswa hanya memikirkan Papua? Apa kabar TKI kita yang disiksa di negeri orang? Apa kabar penghinaan dan pelecehan asing terhadap bangsa ini?

Untuk itu, kiranya masih banyak persoalan negeri ini yang harus segera terselesaikan. Mahasiswa Papua harus mengambil peran positif dengan terus belajar dan menggali ilmu. Cukup, hentikan provokasi, kinisaatnyamembangun Papuatanpaprasangka, cintailah Papua secarajujur, Demi papua, Demi Indonesia.***

BERITA TERKAIT

Putra Maluku dan Papua Diharapkan Masuk Kabinet

Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024 Joko Widodo (Jokowi) dan KH. Ma’ruf Amin diharapkan dapat mempertimbangkan pengangkatan salah satu…

Indeks Pembangunan Kesehatan : Bali Tertinggi, Papua Terendah

    NERACA   Jakarta - Provinsi Bali menjadi wilayah yang memiliki Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) paling tinggi sementara…

Menjadi Oposisi Konstruktif Tanpa Hoax Demi Kemajuan Bangsa

    Oleh : Natsir Akbar, Mahasiswa Komunikasi Politik Universitas Diponegoro   Partai politik pendukung pemerintah dipastikan akan mendominasi kursi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Setelah Baja, Giliran Semen Lokal Dihantam Semen China

Oleh: Djony Edward Seperti ayam mati di lumbung padi. Itulah nasib industri strategis kita, seperti industri baja dan semen yang…

Pengentasan vs Pendataan Kemiskinan

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Kemiskinan masih menjadi persoalan akut, tidak hanya…

Agresifnya Pemerintah Atasi Kemiskinan dan Ketimpangan Sosial

  Oleh : Alfisyah Kumalasari, Pemerhati Sosial dan Politik   Berlangsungnya kehidupan sosial di masyarakat tentu akan berpengaruh pada timbulnya…