Gaya Kepemimpinan Merakyat

Sejak menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan sekarang menjadi presiden terpilih periode 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi) tetap mempertahankan gaya “Blusukan” yang sempat membuat tim pasukan pengamanan presiden (Paspampres) TNI harus menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan tersebut.

Tanpa menafikan kenyataan bahwa Jokowi saat ini tengah menjadi sosok media darling, serangkaian blusukan Jokowi sejak awal masa kepemimpinannya di Solo dan Jakarta terkesan otentik, tidak di buat-buat. Sigap dan tanggap bertandang ke permukiman warga miskin yang terkena bencana kebakaran atau banjir dengan tanpa ekspresi canggung, menguatkan kesan otentik itu.

Meminjam ungkapan Billy Joel dalam lagu ''Just the Way You Are'' publik menginginkan Jokowi just the way he is, seperti apa adanya. Kemunculan Jokowi pada setiap kegiatan dengan gaya yang asli adalah sebuah lukisan keindonesiaan nan indah. Pesona kepemimpinan pribadi yang jauh lebih kuat daripada aura partai politik. Dengan kata lain warga Jakarta, sebagai cerminan masyarakat Indonesia, cukup cerdas memilih pemimpin, tidak tergoyahkan oleh kekuatan politik, bahkan ''goyangan'' sektarian sekalipun.

Kehadiran sosok Jokowi seolah-olah memenuhi kerinduan masyarakat akan pemimpin yang membumi, yang tidak berjarak terhadap warga. Rakyat memang meminginkan pemimpin yang bertindak, bukan sekadar memegang jabatan. Jokowi juga tampaknya tak mau berlebihan dengan acara protokoler.

William George dalam buku Rediscovering the Secrets to Creating Lasting Value Leadership (2003) menyatakan bahwa yang diperlukan zaman ini adalah pemimpin yang otentik. Jenis pemimpin ini adalah sosok berintegritas tinggi, memiliki komitmen untuk mengembangkan lembaga di mana dia berada. Yang diperlukan saat ini adalah pemimpin yang yang memiliki tekad kuat dan mendalam guna mewujudkan lembaganya berdaya guna, bukan saja bagi segenap orang yang terkena kebijakannya, melainkan juga bagi masyarakat yang lebih luas.

Salah satu karakter utama pemimpin otentik adalah mandiri dan swakarsa, menjadi sosok yang otonom dan penuh prakarsa. Untuk memiliki karakter utama ini, seseorang tentu harus berani menghadapi tantangan besar, harus mampu menenggang tekanan dari segala penjuru. Sehingga tidak mengherankan jika Jokowi menantang partai untuk tidak meminta berbagi kekuasaan dalam patron kabinetnya.

William George juga mengingatkan, seorang pemimpin otentik harus siap mengalami ''kesepian seorang pelari jarak jauh'' (the loneliness of the long distance runner). Artinya, dengan seringnya pemimpin mengambil keputusan dan bertindak yang dianggap tak lazim maka dia harus siap kesepian. Kekukuhan sikap untuk berani berbeda dari mayoritas, demi tujuan baik yang diyakini, adalah syarat esensial seorang pemimpin otentik.

Tokoh selalu lahir dalam ruang dan saat yang tepat, tetapi tak semua orang yang hadir di ruang dan saat yang sama, menjadi tokoh. Hanya mereka yang mampu membaca situasi dan mengambil sikap tindakan yang menonjol akan menjadi tokoh. Bahkan Stephen Covey dalam bukunya menyebutkan, ''You will discover that such influence and leadership comes by choice, not from position or rank''. Yang menilai prakarsa adalah persoalan pilihan. Pilihan itulah yang disebut sebagai kepeloporan atau leadership.

Dalam kasus Jokowi tampaknya masyarakat telah merasakan otentitas kepemimpinannya. Semoga kepercayaan kepada Jokowi bukan hanya lahir dari kerinduan masyarakat yang sangat akut akan kehadiran pemimpin yang otentik di negeri ini. Inilah tantangan terbesar Jokowi untuk membuktikan diri sebagai pemimpin yang asli otentik di tengah harapan masyarakat yang begitu besar.

Harapan yang begitu besar untuk pemecahan bangsa Indonesia bisa berisiko menggelincirkan sosok Jokowi menjadi superhero, seperti superman atau spiderman, yang tidak boleh gagal dan salah. Padahal sesuai ungkapan rocker juga manusia, pastilah Jokowi juga manusia yang tidak pernah sempurna. Semoga!

BERITA TERKAIT

Direktur Ciputra Hospital Citra Garden City - Cegah Ancaman Serangan Jantung Dengan Gaya Hidup Sehat

Dr. Kusmiati, MARS  Direktur Ciputra Hospital Citra Garden City Cegah Ancaman Serangan Jantung Dengan Gaya Hidup Sehat Jakarta - Gaya…

Direktur Ciputra Hospital Citra Garden City - Cegah Ancaman Serangan Jantung Dengan Gaya Hidup Sehat

Dr. Kusmiati, MARS  Direktur Ciputra Hospital Citra Garden City Cegah Ancaman Serangan Jantung Dengan Gaya Hidup Sehat Jakarta - Gaya…

Le Minerale Ajak Masyarakat Pilih Gaya Hidup Sehat - Bersama Ikatan Dokter Indonesia

Mencegah lebih baik dari pada mengobati, merupakan kalimat bijak yang menggambarkan betapa mahalnya kesehatan bagi manusia. Pasalnya, bila seseorang sudah…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Kemiskinan dan Pengangguran

  Dua musuh utama ekonomi Indonesia sekarang adalah kemiskinan dan pengangguran. Tahun lalu, angka kemiskinan dan pengangguran masing-masing mencapai 10,67%…

Perketat Dana Desa

Desa yang bakal kebanjiran anggaran negara pada hakikatnya bertujuan mulia, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun pada kenyataannya, banyak…

BUMN Tersandera Proyek

Menurut analisis makro ekonomi yang dilakukan LPEM FEB-UI bertema Indonesia Economic Outlook 2018 yang diuraikan mengenai keberhasilan proyek infrastruktur. Bahkan…