Calon Entrepreneur Perlu Mengenali Sifat Buruk Manusia - Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Bangsa ini masih memerlukan banyak entrepreneur. Keberadaan mereka itu sangat penting untuk menggerakkan perekonomian. Namun, mendorong agar seseorang berani terjun menjadi pengusaha, ternyata tidak selalu gampang. Banyak orang berkeinginan, tetapi jalannya tidak mudah ditempuh. Memerlukan berbagai syarat, misalnya harus ada modal, kepintaran memilih bidang usaha, kemampuan berkomunikasi, skill, dan lain-lain.

Salah satu sebab yang menjadikan orang tidak berani terjun di bidang entrepreneur adalah bahwa, selain menyaksikan banyak yang sukses tetapi juga sebaliknya, banyak yang gagal. Bahkan kegagalan itu bukan saja dialami seseorang tatkala berada pada fase permulaan, sedangkan orang-orang yang telah lama sukses pun, secara mendadak bisa jadi berubah menjadi gagal. Itulah sebabnya, tidak semua orang berani untuk berusaha menjadi entrepreneur.

Entrepreneurship adalah jiwa dan bukan hanya sebuah keinginan, skill, dan apalagi keterpaksaan. Orang yang tidak menyukai tantangan, takut ketemu resiko, khawatir salah dan atau rugi, dan sejenisnya, maka tidak cocok menjadi seorang entrepreneur. Pengusaha adalah seorang pemberani, termasuk berani gagal, suka tantangan, memiliki keyakinan bahwa di balik kesulitan terdapat kemudahan, dan lain-lain.

Entrepreneur selalu berhubungan dengan orang lain. Oleh karena itu, kepintaran berkomunikasi menjadi salah satu kunci keberhasilannya. Tidak semua orang pada kenyataannya baik dan menguntungkan usahanya. Ada saja orang yang mau membantu, tetapi juga sebaliknya, tidak menyukai dan berusaha menggagalkan usaha seseorang.

Tatkala berkomunikasi, tentu harus memilih orang baik, mau membantu, dan bekerjasama. Akan tetapi, menemukan orang yang diharapkan itu ternyata tidak mudah. Tidak semua orang menampakkan perilaku yang sesungguhnya. Ada orang berpenampilan baik, tetapi ternyata justru sebaliknya, berkelakuan buruk. Atau, ada orang yang penampilannya tidak meyakinkan, ternyata hatinya baik. Kesulitan itu masih bertambah, yaitu bahwa, di mana-mana terdapat orang yang berpura-pura, seolah-seolah, atau tidak jelas.

Keberhasilan di dalam menjalankan usaha kewirausahaan, bukan saja ditentukan oleh pribadi yang bersangkutan, melainkan juga tergantung pada orang lain yang memiliki sifat dan kharakter yang beraneka ragam itu. Tidak semua orang baik, tetapi juga sebaliknya, tidak semua orang buruk. Kemampuan mengenali orang lain adalah menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam membangun usaha di bidang ekonomi atau entrepreneur. Pekerjaan itu tidak mudah, oleh karena manusia memang tidak mudah dikenali secara tepat.

Banyak etrepreneur gagal atau runtuh oleh karena faktor orang lain itu. Oleh karena itu mengenali sifat-sifat manusia yang sedang diajak berkomunikasi dan apalagi bekerjasama adalah sangat penting. Semua manusia memiliki sifat buruk seperti dengki, hasut, pemarah, tidak mampu bersyukur, suka keluh kesah, kepura-puraan atau munafiq, penakut, tidak mau merugi, suka untung tanpa mau berusaha, mengguntung dalam lipatan, merabas, merampas hak orang lain, dan seterusnya.

Sifat-sifat buruk tersebut harus dikenali oleh siapapun, termasuk oleh para entrepreneur. Namun, hal yang perlu diketahui bahwa sifat-sifat atau kharakteristik itu juga bisa berubah, dari baik menjadi buruk dan atau sebaliknya, dari buruk menjadi baik. Pemimpin yang baik, sudah barang tentu, dengan caranya sendiri, bisa mengubah dari semula sebagai orang yang tidak terlalu baik menjadi sangat baik. Begitu pula sebaliknya, pemimpin yang lemah bisa berdampak mengubah orang baik menjadi tidak baik.

Para entrepreneur atau orang yang terjun menjadi wirausaha harus memiliki kemampuan mengenali sifat-sifat buruk orang, agar terhindar dari perbuatan buruknya. Lebih dari itu, yang utama adalah, agar mampu mengubah orang buruk menjadi baik, atau paling tidak mempertahankan kebaikannya. Tentang sifat dan kharakter manusia itu sebenarnya bisa dipelajari dari kitab suci, al Qur'an.

Di dalam kitab suci al Qur'an disebutkan bahwa, terdapat tiga golongan manusia, yaitu muttaqien, kafirien, dan munafiqien. Biasanya, orang yang paling sulit dihadapi adalah mereka yang disebutkan terakhir, yakni orang yang berwatak tidak jelas. Di dalam al Qur'an diberi nama orang munafiq. Di mana-mana, banyak pemimpin atau etrepreneur gagal, karena disebabkan oleh orang munafiq ini. Maka, perlu berhati-hati. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Skema KPBU Perlu Dukungan Kepala Daerah

      NERACA   Lampung - Pemerintah tengah fokus dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Namun yang jadi…

Calon Gubernur BI Jangan Dipolitisasi

  NERACA Jakarta -  Calon Gubernur Bank Indonesia yang akan diajukan Presiden Joko Widodo ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) harus…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Peran Pers dalam Mewujudkan Stabilitas di Tahun Politik

  Oleh : Stevanus Sulu, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, Kupang Pers sebagai media komunikasi massa berfungsi untuk menyalurkan aspirasi rakyat…

Menolak Isu Pencopotan Kepala BIN

  Oleh: Dodik Prasetyo, Peneliti Senior LSISI   Belakangan ini, masyarakat Indonesia diramaikan oleh berita penganiayaan tokoh agama seperti yang…

Matinya Edisi Cetak ?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo Realitas industrialisasi media berdampak sistemik…