Industri Semen Nasional Produksi 90 Juta Ton - Investasi Meningkat

NERACA

Jakarta – Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengaku bahwa industri semen nasional mampu memproduksi semen sebesar 85 juta sampai dengan 90 juta ton per tahun pada 2016. Hal itu seiring dengan peningkatan kapasitas produksi pabrik semen yang ada di Indonesia. “Peningkatan kapasitas produksi ini sejalan dengan maraknya investasi pabrik semen. Pertumbuhan ekspor semen sangat tergantung kepada realisasi proyek infrastruktur di dalam negeri,” kata Widodo di Jakarta, Senin (15/9).

Jika pembangunan infrastruktur dan properti terus meningkat, menurut Widodo, alokasi ekspor tidak akan besar. Beberapa negara tujuan ekspor produsen semen adalah Bangladesh, India, Sri Lanka, Afrika, dan Timur Tengah. “Kalau pembangunan infrastruktur tetap seperti sekarang, dari kapasitas produksi 85 juta ton pada 2016, ekspor bisa 10 juta ton hingga 15 juta ton,” paparnya.

Prioritas utama produsen semen nasional, lanjut Widodo, tetap memenuhi kebutuhan domestik bukan ekspor. Apabila permintaan di dalam negeri tidak dipenuhi, maka semen buatan Vietnam, Thailand, dan Malaysia siap masuk. “Untuk meningkatkan kualitas produksi lokal sekaligus menahan serbuan impor, pemerintah telah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib semen,” ujarnya.

Widodo menambahkan, permintaan semen di dalam negeri terbanyak berasal dari properti, porsinya mencapai 70% sampai dengan 75%. Proyek infrastruktur berkontribusi sekitar 25% hingga 30% dari total kebutuhan. “Kendati porsinya besar, tetapi pengaruh perlambatan sektor properti tidak dirasakan signifikan terhadap penjualan semen. Pada 2016 banyak pabrik semen baru yang beroperasi, misalnya di Jawa Tengah ada dua, Jawa Barat dan Banten ada tiga, dan Kalimantan satu,” tuturnya.

Namun begitu, dengan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang telah ditetapkan secara bertahap oleh pemerintah juga akan meningkatkan biaya produksi. “Biaya produksi naik bertahap. Kenaikan Juli dan September naiknya sekitar 1,5%,” ucapnya. Listrik bukanlah sumber energi yang berkontribusi besar terhadap struktur ongkos produksi semen. Adapun energi lain yang lebih mahal ialah batu bara. Porsi listrik hanya sekitar 8% - 10% dalam biaya produksi. Jika digabung dengan batu bara porsinya mencapai 35%.

Peraturan Menteri ESDM No. 9/2014 mengamanatkan penyesuaian tarif listrik untuk empat golongan pelanggan listrik nonsubsidi mulai 1 Mei 2014. Mereka adalah rumah tangga besar (R3) dengan daya 6.600 VA ke atas, bisnis menengah (B2) 6.600-200.000 VA, bisnis besar (B3) di atas 200 kVA, dan kantor pemerintah (P1) 6.600-200.000 VA.

Permen ESDM No. 19/2014 menetapkan mulai Juli 2014 diberlakukan tarif listrik hingga keekonomian secara bertahap untuk enam golongan pelanggan. Mereka adalah rumah tangga R1 (1.300 VA), rumah tangga R1 (2.200 VA), rumah tangga R2 (3.500-5.500 VA), industri I3 nonterbuka, penerangan jalan umum P3, dan pemerintah P2 (di atas 200 kVA). Di tengah berbagai tantangan ekonomi, imbuh Widodo, industri semen tetap diproyeksikan tumbuh 5% pada tahun ini terhadap 2013. ASI mencatat khusus sepanjang Januari - Agustus 2014 sudah tercapai pertumbuhan 3%.

Marak Investasi

Melihat prospek yang cerah di industri semen nasional, terdapat enam perusahaan semen existing yang berinvestasi hingga mencapai US$4,13 miliar sepanjang 2013-2017. Keenam perusahaan tersebut adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk, PT Semen Baturaja Tbk, PT Semen Bosowa dan PT Semen Andalas.

Investasi tersebut dilakukan untuk ekspansi kapasitas produksi sebagai antisipasi pertumbuhan permintaan semen pada beberapa tahun mendatang. PT Semen Indonesia pada tahun ini tengah menyiapkan pembangunan dua pabrik baru yang berada di Rembang, Jawa Tengah dan Padang, Sumatera Barat dengan total investasi pembangunan keduanya sebesar Rp 7 triliun. Dengan tambahan kapasitas produksi dari dua pabrik tersebut, maka pada 2016 total kapasitas produksi Semen Indonesia akan naik menjadi 39,3 juta ton dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 31,8 juta ton.

PT Indocement Tunggal Prakasa juga tengah bersiap membangun dua unit pabrik baru greenfield di Pati, Jawa Tengah dan Medan, Sumatera Utara. Direksi perseroan mengatakan jika pembangunan dua pabrik baru tersebut hingga saat ini masih dalam proses studi kelayakan dan ditargetkan mulai konstruksi tahun depan.

Sementara itu PT Holcim Indonesia pada Juni 2014 telah mengoperasikan pabrik baru Tuban 1 yang akan memberikan tambahan kapasitas produksi perusahaan sebesar 1,7 juta ton per tahun. Selain itu pada saat ini perseroan juga tengah menyelesaikan pembangunan pabrik Tuban II berkapasitas 1,7 juta ton. Pabrik Tuban II yang ditargetkan selesai dibangun pada 2015.

BERITA TERKAIT

Profitabilitas Bank Tahun Depan Diprediksi Sulit Meningkat

      NERACA   Jakarta - Rasio profitabilitas atau keuntungan dari aset bank dinilai sulit meningkat dalam setahun ke…

OJK: Investasi Bitcoin Ilegal di Indonesia - RISIKO MATA UANG DIGITAL JANGAN DIANGGAP RINGAN

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa investasi mata uang digital seperti bitcoin, altcoin, belum berizin secara resmi di Indonesia. OJK…

MNC Investama Bayar Utang US$ 215 Juta

Pangkas beban utang, PT MNC Investama Tbk (BHIT) berencana melunasi pinjaman berdenominasi dollar AS yang segera jatuh tempo. Perusahaan tercatat…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…