Kenaikan Elpiji 12 Kg Diklaim Tidak Mengganggu - Target Inflasi

NERACA

Jakarta – Menteri Keuangan meyakin inflasi year to date atau inflasi akhir tahunan akan sesuai target meskipun ada kenaikan elpiji 12 Kg sebesar Rp1.500.

Menkeu, Chatib Basri mengatakan karena dampak inflasi sangat kecil maka pihaknya tidak bisa memperhitungkan dampak kenaikan gas elpiji 12 kg.

"Apalagi kalau kenaikkan elpiji-nya hanya Rp1.000, saya mesti katakan itu hampir tidak kehitung, karena saking kecil, karena itu inflasi kita sampai akhir tahun saya percaya di bawah 5,3," katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, jika target inflasi tidak tercapai disebabkan adanya langkah strategis yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya. "Kecuali kalau ada kebijakan administer yang akan dilakukan. Tanpa itu sekarang year to date nya saja sudah 3,99," katanya.

Berbeda dengan Menkeu, Kepala Badan Pusat Statistik, Suryamin memperkirakan kenaikan harga elpiji 12 kilogram akan mendorong inflasi pada akhir bulan ini. “Meski sedikit, penyesuaian harga elpiji akan memberi dampak inflasi pada akhir bulan ini,” kata Suryamin,

Menurut Suryamin, kenaikan harga elpiji akan membawa dampak langsung dan tidak langsung. Dampak langsung adalah bagi para konsumen yang menggunakan gas 12 kilogram untuk masak.Sementara yang merasakan dampak tidak langsung seperti konsumen dari usaha makan yang menggunakan elpiji.

Deputi Direktur Bidang Riset Reforminer Institute Komadi melihat kenaikan elpiji non subsidi yaitu tabung 12 dan 50 kg akan memiliki dampak signifikan di masyarakat. Ia memperkirakan kenaikan tersebut akan mengakibatkan migrasi dan inflasi. “Berdasarkan kajian kami, dampaknya ada 2, yaitu migrasi dan inflasi,” kata Komaidi

Komaidi menuturkan, jika kenaikan harga elpiji non subsidi tersebut lebih dari 10%, maka sebagian besar konsumen akan berpindah menggunakan elpiji tabung 3 kg yang notabene harganya lebih murah karena disubsidi pemerintah.

Seperti diketahui elpiji tabung 3 kg dijual dengan harga sekitar Rp4.500 per kg. Sementara tabung 12 kg dijual sebesar Rp5.850 per kg dan tabung 50 kg dijual sebesar Rp7.500 kg. Sedangkan harga keekonomian elpiji seharusnya berada pada sekitar Rp9.000 per kg.

Selain terjadinya migrasi pengguna, kenaikan elpiji non subsidi akan berdampak pada peningkatan inflasi. Dalam hitungannya, Komaidi menyebutkan bahwa kenaikan harga elpiji non subsidi lebih dari 10%, maka inflasi akan meningkat sekitar 0,6%. [agus]

BERITA TERKAIT

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku lembaga independen yang melakukan…

Target RPJMN Bidang Infrastruktur Diyakini Tercapai

      NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meyakini bahwa sasaran Rencana…

Target Kapasitas 7,2 Juta Ton - MARK Bidik Pendapatan Tumbuh Dua Digit

NERACA Jakarta - PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) optimistis dapat meraih pertumbuhan pendapatan dan laba bersih  dua digit pada…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…