Indonesia Jadi Sasaran Empuk Pengusaha Asing

NERACA

Jakarta - Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Oleh karena itu Indonesia menjadi sasaran empuk pengusaha asing.

"Karena mereka melihat pasar di Indonesia itu bagus banget, mengingat pasar di Indonesia bagus banget ada 230 juta jiwa, ini satu peluang," kata Ketua Umum Himpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia Levita Supit di Jakarta, Sabtu (13/9) pekan lalu.

Selain dianggap memiliki peluang yang bagus, para pengusaha asing menilai masyarakat Indonesia konsumtif. Tentu ini menjadi peluang bagi pengusaha asing untuk menjajakan produk mereka.

"Orang Indonesia itu konsumtif sekali, apa yang mereka jual selalu gampang diterimanya seperti itu, apalagi perekonomian Indonesia juga sedang membaik, dengan begitu artinya keadaan ekonomi masyarakat Indonesia semakin baik," jelasnya.

Selain itu, masyarakat Indonesia masih 'silau mata' ketika melihat dan ditawarkan brand asing.

"Yang ketiga orang Indonesia itu kalau melihat brand luar, responsnya bagus banget, jadi kesempatan ini yang diambil orang asing untuk masuk pasar Indonesia. Kita jadi sasarannya mereka," paparnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun mengatakan Iklim investasi menjadi penting untuk sebuah negara untuk menarik penanam modal. Begitu juga Indonesia, pemerintah terus melakukan perbaikan iklim investasi guna mendatangkan investor untuk berinvestasi.

"Saya pikir kita semua akui bahwa Indonesia sekarang ini menjadi sasaran destinasi investasi secara internasional dan itu tidak datang begitu saja, tentu ada hal yang mereka percaya di Indonesia sehingga mereka datang secara berjamaah," katanya.

Menurutnya, salah satu faktor yang membuat investor tertarik untuk menanamkan modal di Indonesia adalah kondisi kondusif yang dimiliki Indonesia.

"Kondisi Indonesia saat ini jadi saya pikir kondisi Indonesia sekarang cukup kondusif untuk berinvestasi itulah sebabnya mengapa semua orang menjadikan Indonesia menjadi sasaran destinasi untuk investasi," kata dia.

Dirinya juga menyebutkan bahwa dengan kondisi bukan berarti pihak asing bisa melenggang bebas di pasar dalam negeri. Pasalnya dengan perubahan Undang-Undang (UU) Perindustrian yang baru, Indonesia mampu untuk mengantisipasi serangan global.

"Alasan kenapa kita bikin UU baru itu untuk antisipasi tren global ini, kita enggak mau lagi pakai UU lama, karena UU lama sudah tidak antisipatif terhadap perkembangan globalisasi kita, jadi seluruh substansi UU sudah kita bikin saya yakin bisa mengantisipasi itu semua," tutupnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Pengusaha Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

NERACA Jakarta – BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumatera Barat mengajak pengusaha di daerah itu untuk menyiapkan diri dan…

Produk Unggulan Indonesia Dipromosikan di Australia

NERACA Jakarta – Produk usaha kecil menengah (UKM) unggulan Indonesia dipromosikan di pasar Australia melalui kerja sama Smesco Indonesia dengan…

Ragukan Data Pemerintah, Pengusaha Lebih Suka Cari Data Sendiri

    NERACA   Jakarta – Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmaja menilai pengusaha lebih suka mencari data sendiri ketimbang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Presiden Minta PKH Tak Digunakan untuk Konsumtif

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengarahkan warga penerima…

DataOn Bentuk Perusahaan Baru GreatDay HR

      NERACA   Jakarta - DataOn (PT. Indodev Niaga Internet) meresmikan GreatDay HR sebagai brand baru untuk solusi…