Pemerintah akan Evaluasi UU Pembebasan Lahan

NERACA

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum akan mengevaluasi undang-undang pembebasan lahan untuk kepentingan umum. Dalam prosesnya, akan dilihat pula proyek-proyek yang pembebasan lahannya mencapai 75%."Jadi dari evaluasi kami terdapat proyek-proyek yang pembebasan lahannya sudah 75% dan diperkirakan sampai akhir tahun belum selesai," kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto di Jakarta, Jumat (12/9) pekan lalu.

Dia menjelaskan, dalam UU No 2/2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, proyek-proyek pengadaan lahan melewati 31 Desember 2014, harus menggunakan payung hukum itu. Selama ini, banyak proyek yang pembebasan lahannya masih menggunakan UU lama atau belum menggunakan UU nomor 2/2012.

Djoko menuturkan, pemerintah sepakat merevisi bahwa proyek yang pembebasan lahannya sudah 75% diberikan kelonggaran waktu untuk penyelesaiannya."Untuk menghindari itu Perpres 71 direvisi, agar pembebasan lahan yang selesai 75%. Kalau 31 Desember 2014 belum selesai diperpanjang sampai 31 Desember 2015," jelasnya.

Mengingat, sambung Djoko, selama ini tidak ada kendala berarti dalam pembangunan infrastruktur nasional, kecuali pembebasan tanah."Saya kira kalian sudah tahu, kalau infrastruktur kan masalah tanah saja. Sudah itu saja," ucapnya.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengakui masih ada permasalahan utama yang dapat menghambat perkembangan pembangunan proyek-proyek (infrastruktur) nasional. "lahan memang masih menjadi problem utama dalam pembangunan infrastruktur nasional,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Chairul, pihaknya mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengambil tindakan dalam upaya mempercepat eksekusi dan pembebasan lahan. Karena pembebasan lahan bukan wewenang pemerintah pusat, maka pemerintah daerah yang harus menindak hal ini.

"Pemerintah daerah harus jadi ujung tombak. Di pemerintah pusat juga ada masalah lambatnya proses perijinan. Kami akan koordinasi kepada kementerian-kementerian agar semua menjadi satu kesatuan membangun Indonesia," ujarnya.

Dia juga mengungkapkan proyek-proyek infrastruktur seperti MP3EI bukanlah proyek yang dapat selesai dalam waktu singkat. Layaknya proyek-proyek infrastruktur lainnya, proyek MP3EI baru akan dirasakan pada tahun-tahun ke depan. "MP3EI bukan resep yang manjur. Ini proses panjang, hasilnya baru akan dirasakan tahun-tahun berikutnya. Ada proses, dan proses ini harus dilanjutkan," tegasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Lahan Pertanian Beririgasi Teknis Tak Terdampak Kekeringan

  NERACA Jakarta – Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi mengatakan lahan pertanian…

PEMERINTAH MASIH CARI FORMULA PENARIKAN PAJAK - JK: Pajak E-Commerce Jadi Masalah Dunia

Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, penarikan pajak untuk perusahaan digital seperti Google, Microsoft, Facebook, dan Amazon menjadi masalah dunia. Masalah…

Tiga Hal Yang Dikerjakan Pemerintah Sebelum Pindah Ibukota

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyatakan akan fokus kepada tiga hal sebelum merealisasikan wacana memindahkan ibu kota, guna…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Indeks Pembangunan Kesehatan : Bali Tertinggi, Papua Terendah

    NERACA   Jakarta - Provinsi Bali menjadi wilayah yang memiliki Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) paling tinggi sementara…

Presiden Minta Menteri Antisipasi Dampak Kekeringan

    NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo memerintahkan para menteri kabinet kerja untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang terjadi…

Beban Ekonomi Akibat DBD Capai US$ 381 Juta

    NERACA   Jakarta - Indonesia telah melawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah mencapai 50 tahun, akan tetapi…