Imbas Kenaikan Gas Elpiji 12 Kg Mulai Terasa di Masyarakat

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram per 10 September 2014. Imbas dari kenaikan gas tersebut mulai dirasakan masyarakat. Salah satu pengusaha yang terimbas itu ialah Ronny (37), penjaja martabak manis di Perumahan Galaxy, Kecamatan Bekasi Selatan. "Lumayan juga kenaikannya, dari semula Rp115 ribu per tabung sekarang jadi Rp135 ribu," katanya seperti dikutip Antara, Jumat, akhir pekan kemarin.

Pemuda asal Bangka yang sehari-hari membawa dua tabung elpiji ukuran 12 kilogram untuk membuat martabak pesanan para pelanggan, kini mulai mengakalinya. "Sekarang tabung elpiji 12 kilogramnya satu saja. Yang satu lagi elpiji tabung melon saja karena semalam berjualan tidak selalu habis dua tabung," katanya.

Penyesuaian yang dilakukan Ronny akibat kenaikan harga elpiji hanya sebatas itu. Ia tak lantas membebankan selisih harga akibat kenaikan itu kepada pelanggan. "Kalau masih sebatas Rp20.000 masih bisa diakali. Asalkan harga bahan-bahan yang lain tidak ikut naik," katanya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Bejo (29) karyawan sebuah cafe "Rimbow" di Perumahan Pondok Mitra Lestari, Bekasi Selatan. "Terpaksa kita beralih ke tabung gas 3 Kg karena yang 12 Kg lumayan mahal. Mending kita beralih ke tabung 3 Kg dengan membeli empat tabung sekalian," katanya.

Sementara di Pekalongan, Jawa Tengah. Konsumen elpiji 12 kg mulai beralih menggunakan elpiji 3 kg yang masih disubsidi oleh pemerintah. Muhammad Lutfi di Pekalongan, mengatakan bahwa kenaikan harga elpiji nonsubsidi ukuran tabung 12 kg yang diputuskan oleh Pemerintah pada tanggal 10 September 2014 disikapi konsumen berbagai ragam. "Konsumen sudah ada yang berancang-ancang beralih menggunakan elpiji ukuran 3 kg juga ada yang masih membeli elpiji 12 kg," katanya.

Menurut dia, sebenarnya harga elpiji 12 kg yang mencapai Rp95 ribu per tabung sudah relatif tinggi, apalagi setelah dinaikkan menjadi Rp116 ribu/tabung. "Bagi pemilik warung makan atau konveksi, kenaikan harga elpiji 12 kg dipastikan akan memberatkan beban biaya mereka. Oleh karena itu, tidak sedikit pemilik warung makan mulai beralih pada elpiji 3 kg," katanya.

Manajer SPBU Elpiji 12 Kilogram Wahyu Hidayat Makmur mengatakan bahwa kenaikan harga elpiji 12 kg dikhawatirkan akan menurunkan omzet penjualan bahan bakar untuk memasak tersebut. Penjualan elpiji 12 kilogram, kata dia, semula rata-rata sebanyak 20 tabung per hari. Namun, dengan adanya kenaikan harga barang mudah terbakar itu, diperkirakan akan turun. "Sebagian besar konsumen elpiji 12 kg adalah warga di lingkungan perumahan, pemilik rumah makan, dan pengusaha jeans. Akan tetapi, mulai hari ini, permintaan elpiji 12 kg mulai turun," katanya.

Dengan naiknya harga elpiji 12 kg tersebut, dikhawatirkan akan terjadi selisih harga yang makin lebar dengan elpiji 3 kg dan akan memicu kecurangan yang hanya menguntungkan sejumlah pihak.

Hal yang berbeda terjadi di Jayapura. Harga elpiji 12 kg di Jayapura mencapai Rp224.000 atau meningkat sekitar Rp25.000. Walaupun demikian kenaikan harga elpiji tidak membuat warga resah karena hingga kini pengguna elpiji masih terbatas dibanding minyak tanah.

General Manajer Marketing Operation Region VIII Pertamina wilayah Maluku-Papua, Mohammad Irfan, kepada Antara di Jayapura, Jumat, mengatakan kenaikan elpiji tidak membawa pengaruh terhadap masyarakat Papua dan Maluku. Pengguna elpiji di Maluku-Papua masih terbatas sehingga kenaikannya tidak membawa pengaruh berarti.

Kebutuhan elpiji 12 kg untuk Maluku-Papua per tahunnya naik sekitar 12%, sementara kebutuhan elpiji per harinya mencapai 10-15 metrik ton. Menurutnya, untuk menekan harga elpiji di Papua, pada tahun 2015 Pertamina akan membangun terminal elpiji di Jayapura. "Saat ini elpiji diisi dari Surabaya," demikian Muhammad Irfan.

Masyarakat Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, juga dbuat kaget oleh kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram yang kini bahkan sudah mencapai Rp170.000 per tabung. "Saya bayar seperti biasa Rp145.000, tapi kemudian dikasih tahu penjualnya bahwa sekarang harga elpiji sudah naik menjadi Rp170.000 per tabung. Saya kaget sekali karena naiknya sangat tinggi," kata Zainur, warga Jalan Muchran Ali Sampit.

Namun masyarakat kaget karena di Sampit, kenaikan harga elpiji sangat fantastis sehingga dikeluhkan masyarakat. Untuk elpiji 12 kilogram tabung warna biru yang dulunya dijual Rp135.000, sekarang naik menjadi Rp160.000 per tabung. Sedangkan elpiji 12 kilogram untuk tabung edisi terbaru atau warna-warni, juga naik dari Rp145.000 menjadi Rp170.000 per tabung.

Kenaikan yang cukup tinggi ini dirasa sudah membebani masyarakat, terlebih yang membutuhkan elpiji untuk usaha, misalnya usaha kuliner seperti yang digeluti Zainur. Dengan naiknya harga elpiji maka otomatis biaya produksi juga akan meningkat. "Sementara untuk menaikkan harga jual makanan, saya masih cukup berat melakukannya karena takut daya beli masyarakat menurun. Jadi akhirnya, kami pelaku usaha kecil ini yang harus rela penghasilan berkurang akibat biaya produksi melambung," tandas Zainur.

Yati, seorang ibu rumah tangga juga menyesalkan kenaikan harga elpiji. Selain menambah beban pengeluaran di dapur, kenaikan harga tersebut dikhawatirkan juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. "Yang namanya kenaikan harga, walaupun sedikit, tetap akan menjadi beban. Sudah barang kebutuhan lain juga mulai naik harganya, malah elpiji sudah naik. Saya hanya berharap pemerintah lebih peka terhadap masyarakat," harap Yati.

BERITA TERKAIT

Mulai Wajib Dilaporkan ke Pajak - REKENING NASABAH DI ATAS Rp 1 MILIAR

Jakarta-Kalangan perbankan, lembaga keuangan dan manajer investasi mulai hari ini (20/2) dapat mendaftarkan data rekening nasabah minimal Rp 1 miliar…

Fatayat NU Minta Masyarakat Tak Terprovokasi Maraknya Aksi Penyerangan Pesantren

Jakarta, Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU) meminta masyarakat tetap tenang dan mempercayakan penanganan maraknya teror terhadap ulama…

Infrastruktur Gas untuk Kemandirian Energi Nasional

  NERACA Jakarta - Pembangunan infrastruktur gas yang memadai ke seluruh daerah di Indonesia dengan didukung alokasi anggaran yang mencukupi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…