Bakrieland Beli Surat Utang Rp 1,64 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) melalui anak usahanya PT Bakrie Nirwana Semesta melakukan transaksi afiliasi untuk membeli surat utang konversi (SUK). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (11/9).

Sekretaris Perusahaan PT Bakrieland Developmet Tbk, Err Zulamri Djaelani, pembelian dilakukan dari PT Bakrie Capital Indonesia atas surat utang konversi yang diterbitkan PT Madison Global. Nilai transaksi pembelian mencapai Rp 1,64 triliun yang nantinya dapat dikonversi menjadi 1.647.188 saham Madison Global (MG).

Transaksi pembelian surat utang ini merupakan transaksi afiliasi, namun tidak mengandung benturan kepentingan. Surat utang konversi tersebut memiliki jangka waktu dua tahun sejak tanggal penerbitan, yakni 7 Februari 2013 dan suku bunga 10 persen per tahun. Masa konversi dapat dilakukan apabila penerbit SUK tidak melunasi pembayaran atas total kewajiban dalam jangka waktu 14 hari kerja sejak jatuh tempo, yakni 7 Februari 2015.

Direktur Pengembangan PT Bakrieland Development Tbk, Agus J Alwi pernah bilang, masih berlangsungnya bisnis properti perseroan ditengah beban utang yang cukup besar, tidak bisa lepas dari konsolidasi. Menurut Agus, pasca obral aset lahan di Rasuna Epicentrum dan Sentul senilai Rp 3,1 triliun, pihaknya langsung melakukan langkah konsolidasi dan mengerem investasi jorjoran seperti yang pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya,”Sekarang lebih konsolidasi, tidak akan jorjoran investasi. Bisnis air minum, tol, dan yang bukan kompetensi ELTY dilepas. Kami lebih fokus pada properti, dan lebih spesifik lagi properti yang menghasilkan high return seperti landed residential dan apartemen menengah," jelasnya.

Hasil penjualan aset lahan kemudian dibelanjakan lahan di Sidoarjo, Jawa Timur, seluas 500 hektar. Alasan memiliki Sidoarjo yang identik dengan "dosa" Bakrie, dijelaskannya, bisnis properti adalah bagaimana memanfaatkan opportunity,”Jika terus ngotot membangun properti di pusat Kota Jakarta, seperti Rasuna Epicentrum dengan harga lahan yang sudah tinggi, kami tidak bisa mengharapkan gain yang sama tinggi,”ujarnya.

Oleh karena itu, kata Agus, perseroan memilih opsi ekspansi ke daerah. Jika dengan uang Rp 40 juta hingga Rp 60 juta belanja lahan di lokasi premium Jakarta (tepatnya Rasuna Epicentrum) hanya bisa mendapatkan satu meter persegi, maka di Sidoarjo bisa berhektar-hektar,”Lagi pula, pertumbuhan harga lahan dan properti di Jakarta sudah cenderung stuck karena nilainya sudah tinggi. Nah, dengan merambah area garapan baru, kami bisa menciptakan pertumbuhan yang sangat menjanjikan dengan pengembangan properti terintegrasi," papar Agus. (bani)

BERITA TERKAIT

Pahami Utang Pemerintah Secara Bijak

Oleh: Achmad Budi Setyawan, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF, Kemenkeu *)   Akhir-akhir ini seringkali masyarakat disajikan perdebatan publik masalah…

Tunjukkan Tren Lebih Rendah - Peringkat Utang BUMI Dipangkas Jadi Negatif

NERACA Jakarta – Semangat manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas beban utang dengan persiapan melakukan pembayaran utang yang bakal…

Elnusa Bukukan Pendapatan Rp 6,6 Triliun

Tahun 2018 kemarin, PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan pendapatan usaha sebesar Rp6,6 triliun atau naik 34,69% dibanding tahun 2017 sebesar Rp4,9…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…