Bangun Daya Saing Masih Jauh Dari Harapan

NERACA

Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Jenjang pendidikan tinggi misalnya. Kualitas atau mutu perguruan tinggi di Indonesia masih kalah jika dibanding dengan negara tetangga, Malaysia dan Brunei Darussalam.Masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, akan melemahkan daya saing Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015.

Dalam laporan World Economic Forum (weforum.org, 2013) mengenai daya saing negara-negara di dunia (Global Competitiveness Index) tahun 2013-2014, Indonesia belum masuk ke levelinnovation drivenyang ditandai oleh adanya tingkat kepuasan dalam berbisnis dan inovasi.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan mengemukakan, Indikasinya sampai saat ini pemerintah masih mengimpor bahan pangan dari luar negeri.

"Kita tidak bisa menyediakan pangan dan buah-buahan, nah hal ini di mana peran perguruan tinggi?” kata Munir.

Dalam diskusi panel "Arsitektur Kabinet 2014-2019 dalam Perspektif Pendidikan Tinggi, Riset Teknologi, Inovasi, Ekonomi Kerakyatan, dan Pembangunan Pedesaan” di Yogyakarta bulan lalu, Abdul Munir Mulkhan mengungkapkan adanya dua masalah dalam dunia pendidikan.

Pertama, pembelajaran di Indonesia masih bersifat mekanik. Anak didik tidak ubahnya seperti robot yang harus sesuai dengan aturan yang ada. Kedua, adanya ketimpangan pendidikan antar daerah di Indonesia. Khususnya untuk perguruan tinggi.

“Siswa atau mahasiswa tidak belajar menggembangkan teori tetapi menggunakan teori. Seharusnya ada semangat untuk meneliti dan membuat teori baru atau mengembangkan teori yang sudah ada serta fokus ke penelitian inovatif yang bisa diaplikasikan,” ujar dia

Dalam diskusi yang dihadiri oleh praktisi pendidikan tinggi tersebut, Munir mengatakan, kunci pendidikan adalah pembelajaran. Guru dan dosen selayaknya berperan sebagai fasilitator sebagai pembuka ruang kreatif bagi murid atau mahasiswanya. Dalam bahasa Jawa diistilahkan ‘mlethik’ dan menjadi orang yang luar biasa.

Sayangnya, penelitian yang memberi solusi dari problem masyarakat tidak diapresiasi dengan baik. Riset di Perguruan Tinggi hanya sebatas pemenuhan tugas akhir mahasiswa dan keperluan penambahan kredit para dosen. Banyak penelitian hanya berakhir dalam bentuk prototipe sehingga belum bisa diimplementasikan langsung oleh masyarakat

"Pendidikan bisa menjadi inkubator, ke-mlethik-an, manusia kreatif," pungkas Munir.

Untuk itu, Munir berharap agar Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) fokus ke permasalahan pendidikan di masing-masing jenjang bila Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan dipisah dan menjadi kementerian pendidikan dasar dan menengah, serta kementerian pendidikan tinggi.

BERITA TERKAIT

SouthCity Bangun Apartemen Berkonsep

SouthCity Bangun Apartemen Berkonsep "Coliving" Jaring Milenial NERACA Tangerang Selatan - SouthCity pengembang superblok di kawasan Pondok Cabe Tangerang Selatan…

APP Sinar Mas Dukung Pemprov DKI - Bebaskan Jakarta dari Praktik BAB Sembarangan

Meskipun di Ibu Kota Jakarta yang terkesan maju, kesadaran lingkungan tinggi, namun tingkat prilaku buang air besar (BAB) sembarang masih…

REDOXON AJAK KOMUTER INDONESIA JAGA DAYA TAHAN TUBUH

General Manager Consumer Health Division PT Bayer Indonesia Kinshuk Kunwar menyapa pengendara ojek online usai peluncuran kampanye #Komuter Tegar, di…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…