Suku Bunga Bank Cenderung Naik, Waspadai NPL

NERACA

Jakarta – Tren suku bunga perbankan kini cenderung meningkat. Ini disebabkan biaya dana (cost of fund) cukup tinggi di tengah persaingan antarbank merebut dana masyarakat untuk menjaga kondisi likuiditasnya aman. Sementara kalangan pengamat mengkhawatirkan risiko kredit bermasalah (NPL) akan meningkat, meski tingkat penyaluran kredit cenderung menurun.

Menurut data laman BI per Juli 2014, tingkat suku bunga deposito berjangka 1, 3,6 dan 12 bulan masing-masing tercatat 8,41%, 9,2%, 9,1% dan 8,44%. Angka ini menunjukkan kenaikan dibanding Juni yang menunjukkan masing2 8,29%, 9,11%, 8,98% dan 8,28%. Sejalan dengan kenaikan bunga simpanan itu, suku bunga kredit juga terkerek naik rata-rata menjadi 12,83% dari semula 12,77% per tahun.

Menyimak data tersebut, pengamat perbankan Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko mengatakan, memang perbankan domestik sekarang dalam kondisi sulit menghadapi risiko kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan-NPL). Namun, untuk menghadapi risiko tersebut, kalangan perbankan kini cenderung akan mulai mengurangi ekspansi kredit guna menstabilkan likuiditas di masing-masing bank.

“Situasi ekonomi sekarang sedang tidak terlalu menguntungkan bagi semua pihak, terutama untuk industri perbankan dengan likuiditas yang semakin ketat. Bank-bank menaikkan suku bunganya. Tentu saja itu berdampak ekspansi kredit akan berkurang,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (10/9).

Dengan semakin ketatnya persaingan likuiditas antarbank akan membuat target ekspansi kredit masing-masing bank terkoreksi, karena kemungkinan besar bank akan memfokuskan dananya untuk menstabilkan likuiditas."Ekspansi kredit yang terkoreksi itu dampak untuk perbankan, sedangkan dampak untuk ekonomi secara umum adalah pertumbuhan ekonomi akan ikut terkoreksi," ujarnya.

Menurut dia, bila perbankan harus menaikkan suku bunga deposito secara terus-menerus untuk menstabilkan likuiditas, hal itu harus diimbangi dengan meningkatkan suku bunga kredit. Hal itu dilakukan untuk menjaga net interest margin (NIM) bank tidak tergerus banyak. Kemudian risiko lain yang muncul dan harus ditanggulangi adalah, meningkatnya angka NPL sebagai dampak dari kenaikan suku unga kredit.

"Oleh karena itu, meningkatkan suku bunga deposito dan membatasi ekspansi kredit adalah langkah paling efektif yang akan dipilih perbankan untuk menstabilkan likuiditas. Namun, hal yang lebih penting adalah untuk menjaga NIM di tengah ketatnya likuiditas saat ini. Pihak perbankan juga harus melakukan efisiensi biaya sebagai langkah strategis," ujarnya.

Menurut dia, memang tantangan berat menghadang pada tahun ini adalah perbankan masuk ke jalur lambat dengan ditandai pertumbuhan kredit yang lebih rendah dari pertumbuhan tahun lalu. Kendati pertumbuhan kredit diperkirakan masih di kisaran 15% sampai 17%, perbankan juga mengalami perlambatan kenaikan laba, bahkan sebagian dihantui penurunan laba akibat mahalnya cost of fund, biaya operasi bertambah, dan meningkatnya kredit macet yang menambah jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP).

"Oleh karenanya, bank harus melakukan kebijakan yang efektif supaya ancaman penurunan laba tidak terjadi pada akhir tahun ini," jelas Prasetyantoko. Dia menjelaskan memang perbankan di Indonesia akan beralih menyalurkan kreditnya ke sektor produktif, karena harus membatasi kredit yang bersifat konsumtif yang berpotensi menaikkan NPL.

“Perbankan tidak hanya menyalurkan kredit untuk membangun dirinya, tetapi juga perlu melihat seberapa penting kredit yang disalurkan kepada pelaku usaha, terlebih yang hanya bersifat konsumtif. Ini harus dibatasi,” tandas dia.

Peneliti perbankan Indef Eko Listyanto mengatakan, masalah utama yang dialami perbankan sekarang adalah adanya pengetatan likuiditas yang mana tren suku bunga terus meningkat menjadikan perbankan sekarang menghadapi masalah tingginya biaya dana dan loan to deposit ratio (LDR) yang menurun, belum lagi menghadapi risiko kenaikan NPL sehingga menjadi ancaman penurunan laba bank.

"Dengan mengejar target yang tinggi akhirnya perbankan melakukan segala upaya untuk bisa mengejar target tahunan, salah satunya dengan menyasar kredit konsumtif," ujarnya, kemarin.

Apalagi, pasar kredit konsumtif nasional sangat besar ditambah lagi lesunya pertumbuhan ekonomi nasioanal dimana sektor rill seperti industri secara pertumbuhan sedang rendah mengakibatkan penyerapan kredit yang menyasar ke sektor riil kecil. Tapi perbankan harus bisa bisa membidik di sektor lain, salah satunya yang punya potensi kredit besar di Indonesia adalah kredit konsumsi.

"Penyerapan kredit disektor riil sangat kecil karena memang secara pertumbuhan lagi rendah, saat ini perbankan lebih berlomba-lomba menyasar dikredit konsumtif, karena sektor inilah yang memang potensial buat perbankan saat ini," ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah nasabah mengeluhkan kenaikan biaya transaksi ATM yang mulai diberlakukan per 1 Oktober 2014. “Terlalu tinggi kenaikan biaya transaksi ATM yang mencapai 50% dari yang berlaku saat ini,” ujar seorang nasabah bank.

Sebelumnya diberitakan bahwa, provider jaringan ATM Prima, ATM Bersama, dan bank anggota sepakat menaikkan tarif transaksi di ATM. Biaya transfer semula Rp 5.000 menjadi Rp 7.500, cek saldo semula Rp 2.000 menjadi Rp 4.000 dan biaya penarikan tunai semula Rp 5.000 menjadi Rp 7.000 per transaksi. agus/mohar

BERITA TERKAIT

Wuling Sebut Suku Cadangnya Lebih Murah 20% dari Kompetitor

PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) mengklaim harga suku cadang produk mereka lebih murah 20 persen dibandingkan dengan rata-rata harga…

Mitsubishi Jamin Suku Cadang Xpander Aman

Laris manis di pasaran sejak diluncurkan pada Agustus, Director of Sales & Marketing Division PT MMKSI, Irwan Kuncoro, mengatakan saat…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah usai melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2017.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

RASIO KREDIT BERMASALAH TINGGI - Bank Diminta Turunkan Biaya Operasional

Jakarta-Bank Indonesia mendesak perbankan untuk segera menurunkan beban biaya operasional agar suku bunga kredit juga bisa menurun seiring dengan penurunan…

Aturan Tarif Bawah Taksi Online Hambat Kompetisi Sehat

NERACA Jakarta-Perusahaan penyedia transportasi berbasis aplikasi, Grab Indonesia, menilai tarif bawah yang ditetapkan Kementerian Perhubungan melalui revisi PM 26 Tahun…

Sektor Industri Desak Pemberantasan Spekulan Gas

NERACA Jakarta – Dukungan terhadap pemberantasan praktik calo (trader) pada tata niaga hilir gas bumi terus bergulir, menyusul tingginya harga…