ASEAN Jadi Pasar Utama Produk Pakan Ikan

NERACA

Jakarta –Koordinator Regional SEAFish for Justice Abdul Halim mengatakan, dengan populasi setengah miliar jiwa, Asia Tenggara merupakan tujuan pasar produk pakan dunia. Di samping itu, tingginya populasi juga berimbas kepada besar-kecilnya permintaan atas pakan. Dalam konteks ini, memastikan produk yang ramah lingkungan dan mampu memberikan kesejahteraan kepada produsen skala kecil (nelayan, perempuan nelayan dan pekerja pabrik) dan konsumen harus didorong di tingkat regional melalui ASEAN.

“Terlebih di level internasional sudah dimulai inisiatif tersebut, seperti Responsible Feed Dialogue yang baru digelar pada tanggal 4-5 September 2014 di Amsterdam, Belanda. Forum ini di antaranya menekankan produk pakan harus terhindar dari praktek perbudakan, IUU fishing, pelanggaran HAM dan diskriminasi,” kata Abdul Halim kepada Neraca, lewat surat elektronik, yang diterima di Jakarta, Rabu (10/9).

Sebagai catatan, produksi perikanan budidaya meningkat tiap tahunnya rata-rata 8,8% dengan produksi di tahun 2010 sebanyak 59,9 juta ton atau setara US$119 miliar (FAO, 2014). Dalam pada itu, permintaan pakan juga kian tinggi. FAO (2014) mencatat di tingkat global sebanyak 708 juta ton pakan ternak diproduksi pada tahun 2008. Dari jumlah itu, sebanyak 29,2 juta ton atau 4,1% diperuntukkan untuk pakan perikanan budidaya. Angka produksi pakan tersebut mengalami kenaikan 4 kali lipat dibandingkan tahun 1995 sebesar 7,6 juta ton atau rata-rata naik 11% per tahun. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi: 51 juta ton di tahun 2015 dan 71 juta ton di tahun 2020.

Mengacu pada data International Feed Industry Federation, total produksi pakan mencapai 614 metrik ton. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat dan Uni Eropa menyumbang 25% dan 70% di antaranya dihasilkan oleh Cina dan Brasil. Menariknya, 10 pabrik menyumbang sekitar 65 juta ton per tahunnya di level global. Lebih lanjut, terdapat 15 negara penghasil pakan utama di dunia dan Thailand merupakan negara di Asia Tenggara yang memproduksi pakan hingga 8-9 juta metrik ton per tahun.

Di Indonesia, terdapat sedikitnya 5 pabrik pakan skala besar, yakni Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce, Cheil Jedang dan Wonokoyo. Kelima pabrikan ini memproduksi kebutuhan pakan nasional hingga 65%. Di luar itu, kapasitas produksi pakan dalam negeri masih rendah di tahun 2013, yakni sebesar 6,86 juta metrik ton atau masih berada di bawah kapasitas rata-rata negara produsen pakan sebesar 11 juta metrik ton.

“Hal lain yang juga menarik adalah populasi yang tinggi justru tidak berkontribusi positif terhadap tingkat produksi pakan nasional. Contohnya, Cina dengan populasi 1,43 miliar jiwa nyatanya hanya mampu memproduksi 96 juta ton pakan ketimbang Amerika Serikat sebesar 145 juta ton dengan populasi sebanyak 275 juta jiwa,” ujarnya.

Potret ini, lanjut Halim, menunjukkan pertama, adanya disparitas kapasitas teknologi antara negara maju dan negara berkembang, termasuk Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Kedua, prioritas nasional menyangkut pengembangan industri pakan domestik. Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GMPT) melaporkan bahwa tingkat konsumsi pakan nasional mencapai 12,7 juta metrik ton di tahun 2012 dan meningkat menjadi 13,8 juta metrik ton.

“Dalam pada itu, ketergantungan impor jagung sebagai bahan pakan di Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 200.000 metrik ton dari tahun 2011, yakni 1,7 juta metrik ton. Persoalan serupa juga dialami oleh Vietnam, Thailand, dan Filipina. Di Indonesia, inilah tantangan Presiden Jokowi,” tutup Halim.

BERITA TERKAIT

Mencari Pasar Ekspor Baru Produk Sawit

Sepanjang Oktober 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, antara lain melalui lonjakan permintaan dari China. Ekspor…

PP Properti Hadirkan Produk Pro Milenial

PP Properti Hadirkan Produk Pro Milenial NERACA Bekasi - Direktur utama PT PP Properti Tbk Taufik Hidayat mengatakan bahwa pihaknya…

Sambut Harbolnas, Infinix Berikan Discount Hingga 90% Untuk Semua Jajaran Produk Teranyar - Infinix Year and Surprise

Sambut Harbolnas, Infinix Berikan Discount Hingga 90% Untuk Semua Jajaran Produk Teranyar  Infinix Year and Surprise NERACA Jakarta – Menyambut…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…