Cetak Rekor, IHSG Masih Jadi “Bulan-Bulanan”

NERACA

Jakarta –Perburuan aksi ambil untung yang dilakukan pelaku pasar berhasil menjatuhkan posisi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sudah mencetak rekor tertinggi. Tercatat saham-saham komoditas menjadi sasaran aksi jual, sehingga indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu kemarin, ditutup terkoreksi 54,128 poin (1,04%) ke level 5.142,991. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,232 poin (1,16%) ke level 873,430.

Kepala Riset Recapital Securities, Andrew Argado mengatakan, pelemahan bursa saham regional direspon negatif pelaku pasar saham di dalam negeri sehingga indeks BEI kembali tertekan, “Melemahnya bursa saham eksternal itu memicu investor asing di Indonesia mengambil langkah ambil untung,”ujarnya di Jakarta, Rabu (10/9).

Sementara dari dalam negeri, dia menambahkan, kenaikan harga gas elpiji ukuran 12 kilogram (kg) menambah kekhawatiran investor bahwa inflasi akan meningkat, padahal harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga akan naik,”Inflasi menjadi salah satu faktor yang cukup serius yang diperhatikan pasar," ucapnya.

Dari sisi teknikal, lanjut Andrew Argado, nilai saham di BEI juga sudah cukup tinggi sehingga sulit bagi indeks BEI untuk kembali berada di area positif,”Akumulasi sentimen fundamental dan teknikal itu membuat investor cenderung mengamankan asetnya dengan melepas sebagian portofolio sahamnya dan berdampak pada IHSG BEI yang terkoreksi," katanya.

Berikutnya, indeks BEI Kamis berpeluang balik arah menguat, walaupun dibayangi aksi ambil untung. Perdagangan kemarin, berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 218.467 kali dengan volume 5,522 miliar lembar saham senilai Rp 5,242 triliun. Sebanyak 72 saham naik, 255 turun, dan 66 saham stagnan.

Bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan di zona merah, bahkan pasar saham Hong Kong anjlok sampai hampir 2%. Sentimen negatif datang dari Wall Street yang kena koreksi. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Multi Bintang (MLBI) naik Rp 5.300 ke Rp 1,1 juta, Merck (MERK) naik Rp 19.175 ke Rp 199.175, SMART (SMAR) naik Rp 100 ke Rp 6.775, dan Asuransi Bintang (ASBI) naik Rp 100 ke Rp 1.550. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.400 ke Rp 26.250, Astra Agro (AALI) turun Rp 875 ke Rp 24.425, Mayora (MYOR) turun Rp 700 ke Rp 30.200, dan Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 625 ke Rp 4.925.

Perdagangan sesi pertama, indek BEI ditutup anjlok 48,046 poin (0,92%) ke level 5.149,073. Sementara Indeks LQ45 jatuh 8,577 poin (0,97%) ke level 875,085. Seluruh indeks sektoral kembali jatuh ke zona merah, dipimpin saham-saham tambang. Aksi ambil untung menyasar saham-saham unggulan. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 122.965 kali dengan volume 3,357 miliar lembar saham senilai Rp 2,761 triliun. Sebanyak 48 saham naik, 251 turun, dan 56 saham stagnan.

Rata-rata bursa regional jatuh ke zona merah pada perdagangan sesi pertama, hanya bursa Jepang yang masih bisa naik tipis. Koreksi Wall Street memberi sentimen negatif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Tower Bersama (TBIG) naik Rp 100 ke Rp 8.375, SMART (SMAR) naik Rp 100 ke Rp 6.775, Asuransi Bintang (ASBI) naik Rp 100 ke Rp 1.550, dan Atlas Resources (ARII) naik Rp 74 ke Rp 370. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 850 ke Rp 26.800, United Tractor (UNTR) turun Rp 700 ke Rp 20.300, Astra Agro (AALI) turun Rp 600 ke Rp 24.700, dan Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 550 ke Rp 5.000.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 6,86 poin atau 0,13% menjadi 5.190,25, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,72 poin (0,19%) ke posisi 881,94. Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah mengatakan, minimnya sentimen dari dalam negeri membuat pergerakan saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengikuti bursa saham eksternal yang cenderung mengalami tekanan,”Sepinya sentimen dari dalam negeri, berkenaan dengan data ekonomi maupun kabar dari politik, sehingga pergerakan IHSG lebih terfokus pada sentimen yang muncul dari ekternal yang cenderung negatif. Kondisi ini membuat IHSG melanjutkan pelemahan," paparnya.

Dia mengemukakan, Uni Eropa akan memberlakukan sanksi baru kepada Rusia dalam beberapa hari kedepan kian menambah kecemasan palaku pasar terhadap kondisi perekonomi di kawasan eropa maupun global. Di sisi lain, lanjut dia, pasar juga masih menantikan pertemuan bank sentral AS (the Fed) pada 16-17 September mendatang. Adapun sebelumnya the Fed berencana untuk menaikkan tingkat suku bunga lebih cepat dari estimasi jika terdapat indikasi penguatan pada pasar tenaga kerja.

Sementara itu, tim analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan mengatur utang luar negeri swasta dengan memberlakukan aturan rasio utang atau liabilitas terhadap aset dalam bentuk valuta asing. Dengan regulasi itu, BI ingin mengatasi risiko "currency mismatch" dan "maturity mismatch" (ketidaksesuaian jatuh tempo).

Apalagi, tahun depan Indonesia akan menghadapi kebijakan kenaikan suku bunga di AS yang dapat menimbulkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 380,98 poin (1,51%) ke 24.809,47, indeks Nikkei turun 72,22 poin (0,46%) ke 15.676,07 dan Straits Times melemah 11,59 poin (0,35%) ke posisi 3.331,17. (bani)

BERITA TERKAIT

MESKI PENERIMAAN SEKTOR MINERBA MENINGKAT - KPK: Kepatuhan Pajak SDA Masih Rendah

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, tingkat kepatuhan pajak di sektor sumber daya alam (SDA) khususnya sektor ekstraktif masih rendah. Perusahaan…

Sinkronisasi Pusat – Daerah Masih Jadi Hambatan Investasi

      NERACA   Jakarta - Ekonom Bank Dunia Indira Maulani Hapsari menyoroti sinkronisasi aturan pemerintah pusat dan daerah…

Minat Investasi Reksadana Meningkat - Narada Aset Management Raih Rekor MURI

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan investor pasar modal, khususnya di kalangan milenial, PT Narada Aset Manajemen (NAM) meraih rekor MURI…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

KSEI Dorong Investor Gunakan Login AKSes

NERACA Pekanbaru- PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mendorong investor di Riau agar memanfaatkan fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes) untuk…

Orori Indonesia Jadi Reseller Resmi Antam

PT Orori Indonesia (Orori), sebagai perusahaan penjualan perhiasan online resmi menjadi "reseller" emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).”Orori menjadi jembatan…

Sepekan Dana Asing Keluar Rp 765 Miliar

NERACA Jakarta –PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin meningkat 1,16% ke level 6,126.36…