Inefisiensi Jadi Pil Pahit Garuda Indonesia

NERACA

Jakarta – Dibalik ramainya bisnis penerbangan seiring dengan pertumbuhan industri pariwisata, rupanya belum memberikan dampak yang berarti bagi kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk., yang masih mencatatkan rugi bersih sepanjang semester I-2014 sebesar US$ 211,7 juta, atau sekitar Rp2,3 triliun. Angka kerugian ini membengkak dibandingkan rugi bersih periode sama tahun lalu US$10,7 juta. Maka tak ayal, membengkaknya kerugian yang dialami maskapai penerbangan plat merah ini membuat "geram" Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Begitu khawatirnya bila Garuda bakal menjadi perusahaan BUMN yang sakit, menjadi alasan Meneg BUMN Dahlan Iskan untuk turun langsung menangani dan mengendalikan masalah kerugian finansial Garuda Indonesia. Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani menilai skeptis terhadap upaya pembenahan yang dilakukan Garuda untuk keluar dari kerugian.

Bahkan dirinya menilai, jika seandainya Garuda Indonesia kembali melepas sahamnya ke publik untuk menutupi rugi, dipastikan tidak akan laku dan sulit diserap pasar. Pasalnya, harga saham yang akan dilepas akan tinggi. “Tidak akan laku jika dilepas dengan harga yang tinggi. Bahkan sejak IPO, ada sekitar 20% sahamnya ditanggung oleh underwritter,” ujarnya saat dihubungi Neraca, Selasa (9/9).

Menurut Agus, saham tersebut akan laku jika Garuda melakukan aksi korporasi yang memberikan insentif kepada para investor. “Bisa dalam right issue atau bisa juga dengan stock split, dengan begitu saham Garuda akan menarik investor. Atau bisa juga dengan kerjasama institusional denga pengusaha. Itu juga yang terjadi pada Garuda beberapa waktu lalu karena sebagian sisa sahamnya dibeli oleh pengusaha dalam negeri. Itu bisa jadi jalan keluar yang baik,” katanya.

Selain dengan melakukan aksi korporasi, Agus menyarankan agar Garuda tidak lagi dijadikan sebagai alat bagi oknum-oknum tertentu dalam mencari keuntungan berlipat. “Mengurangi high cost yang selama ini membelenggu Garuda, karena itu tidak efisien. Contohnya perjalanan dinas yang rata-rata menggunakan maskapai Garuda, tentunya dengan harga yang berbeda dengan biasanya. Padahal hal itu seharusnya tidak terjadi jika ingin tidak mengalami kerugian,” katanya.

Menjawab soal apakah Garuda akan senasib dengan Merpati, Agus menilai hal itu tidak akan terjadi. Alasannya, Garuda adalah maskapai yang prestasinya cukup bagus, akan tetapi pengelolaannya saja yang perlu dibenahi. “Tidak akan senasib dengan Merpati. Garuda akan tetap dipertahankan oleh pemerintah,”tandasnya.

Sebelumnya, Emirsyah Satar pernah bilang, pada semester kedua tahun ini, pihaknya merencanakan beberapa langkah untuk bisa menekan angka kerugian perseroan, di antaranya dengan melakukan restrukturisasi rute,”Kita lakukan restrukturasi rute,”kata Emir.

Dirinya menilai, rute-rute yang dianggap kurang menguntungkan bagi perseroan akan ditutup baik domestik maupun internasional. Ini sebagai salah satu cara menekan beban perseroan. Salah satu rute internasional yang ditutup diantaranya Mumbai dan Manila. Namun sebaliknya, rute –rute internasional yang menguntungkan tetap di buka.

Selain itu, kata Emir, efisiensi yang terus dilakukan adalah peremajaan armada pesawat yang sudah tua dan boros bahan bakar,”Pesawat-pesawat lama yang mau kita pakai lebih panjang, kita cepat jual, kita kuatkan. (Pembelian pesawat baru) schedule-nya tetap tapi yang lama-lama yang kita mau perpanjang tidak kita perpanjang. Kita tutup, kita kurangi, dan ekspansi kita kurangi," tandasnya.

Lanjutnya, dibalik kerugian yang di derita perseroan disebabkan bisnis penerbangan yang diklaimnya tengah mengalami perlambatan. Bahkan, beberapa maskapai penerbangan pun merugi akibat perlambatan ini. Fluktuasi nilai tukar rupiah, tingginya harga avtur, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi beberapa alasan lesunya bisnis penerbangan.

Emirsyah mengakui, saat ini bisnis penerbangan baik global maupun domestik tengah mengalami berbagai tekanan disebabkan beberapa faktor seperti depresiasi nilai tukar rupiah, tingginya harga bahan bakar (avtur), dan perlambatan ekonomi,”Berbagai perusahaan penerbangan mengalami perlambatan dan bahkan beberapa maskapai mengalami kerugian, sebagaimana perusahaan penerbangan, ini akibat depresiasi nilai tukar, harga bahan bakar dan perlambatan ekonomi,”ungkapnya.

Kendatipun demikian, dia menyakini, Garuda Indonesia bisa keluar dari tekanan tersebut dengan melakukan berbagai upaya untuk kembali menyehatkan kinerja keuangan perseroan. bari/bani

BERITA TERKAIT

Indomilk Bantu Sarana Inspirasi di 50 Sekolah - Ajak Anak Indonesia Berprestasi

Menggali potensi yang dimiliki para siswa berprestasi di Indonesia agar bisa unjuk gigi di mata dunia, PT Indolakto, anak perusahaan…

Aksi Nyata Indonesia Mendukung Palestina

  Oleh: Agung Widjayanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Konflik Israel – Palestina atau bagian dari konflik Arab -…

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Hasan Jauhari mengungkapkan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Akuisisi Fintech Pembayaran Harus Lapor BI

NERACA Jakarta-Bank Indonesia menerbitkan peraturan baru untuk melindungi konsumen khususnya terkait dengan sistem pembayaran dan ekonomi digital. Ini sehubungan dengan…

WASPADAI IMPOR BARANG KONSUMSI TERUS MENINGKAT - Bappenas: Transaksi Belanja Online Mulai Serius

  Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro menilai pergeseran belanja masyarakat dari ritel konvensional ke online…

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…