Saham Rokok Bentoel Masih "Mengepul" - Imbas PHK 1000 Karyawan

NERACA

Jakarta – Bisnis rokok PT Bentoel Internasional Tbk (RMBA) mulai kembang kempis seiring dengan beban usaha yang terus meningkat, imbas dari beberapa produk kretek yang tidak lagi laku dipasaran. Kondisi ini menjadi pil pahit, sehingga memaksa perseroan harus pangkas karyawan sebagai bentuk efisiensi. Namun dibalik kebijakan memangkas karyawan tersebut, tidak mempengaruhi harga saham perseroan di pasar modal.

Tercatat mengakhiri perdagangan Selasa (9/9), saham PT Bentoel Internasional Tbk masih bisa menguat 5,9% ditengah koreksi indeks harga saham gabungan (IHSG) lantaran sudah memecahkan rekor baru. Bahkan pada penutupan perdagangan Sesi I, saham RMBA melonjak 29 poin ke level Rp 520 per lembar.

Sebagai informasi, sebelumnya Bentoel Group resmi menawarkan program berhenti kerja secara sukarela kepada 1.000 dari 8.000 karyawan yang ada. Penawaran dilakukan mengikuti efisiensi perusahaan akibat turunnya pasar rokok dan naiknya ongkos produksi,”Karyawan bisa memilih tetap kerja atau berhenti. Pesangon yang disediakan jumlahnya lebih besar dibandingkan Undang-Undang Ketenagakerjaan,” kata Head of Corporate and Regulatory Affairs Bentoel Group, Shaiful Bahari Mahpar.

Pengumuman sekaligus penawaran Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sukarela ini dilakukan sejak Senin 8 September hingga Rabu 10 September 2014. Masing-masing karyawan berhak menerima ataupun menolak penawaran itu. “Jika ternyata banyak yang menolak akan kami lanjutkan dengan kebijakan lain," katanya.

Bagi karyawan yang menerima akan ada pelatihan manajemen keuangan selama sepekan yang diberikan oleh Bentoel. Fungsinya, agar pesangon dari perusahaan bisa dimanfaatkan dalam hal yang benar dan bermanfaat, jadi tidak habis untuk beli barang konsumtif seperti mobil.

Sasaran efisiensi adalah 1.000 karyawan dari 11 pabrik Sigaret Kretek Mesin yang ada di wilayah Malang Raya. Natinya perusahaan akan menyisakan tiga hingga empat pabrik saja untuk memproduksi rokok jumlah yang sama dari 11 pabrik sebelumnya. Menurut dia, efisiensi tidak ada hubungannya dengan penurunan produksi rokok, sedikit pabrik siapa tahu bisa memproduksi rokok yang sama jumlahnya. "Target produksi rokok kami tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Di atas 20 miliar batang,” katanya.

Menurut dia langkah efisiensi dilakukan menyusul turunnya pasar rokok nasional serta produksi rokok tier II cukai milik Bentoel Group. Secara nasional pasar rokok turun hingga 2,5 persen. Rokok tier II cukai milik Bentoel turun dari 10 miliar batang tahun 2013 jadi 6 miliar batang sampai bulan ini, ini akibat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan 131 tahun 2013."Biaya produksi juga membengkak akibat aturan bungkus rokok yang baru,”paparnya. (bani)

BERITA TERKAIT

APRESIASI BAGI KARYAWAN

Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan BNI Catur Budi Harto (kedua kiri) memberikan bingkisan kepada karyawan yang tetap bertugas selama Masa…

Saatnya Investor Ritel Koleksi Saham Murah - Gejolak Harga Saham

NERACA Jakarta – Fluktuatifnya harga saham di pasar modal, biasanya memberikan kekhawatiran tersendiri bagi investor ritel bila nilai investasinya bakal…

Pratama Abadi Bidik Dana IPO Rp 16 Miliar - Lepas 150 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Ditengah beberapa perusahaan menjadwal ulang rencana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), beda dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Metrodata Bagikan Dividen Rp 10 Persaham

NERACA Jakarta - Berkah mencatatkan pertumbuhan laba bersih 12,1% sepanjang tahun 2017 kemarin, mendorong PT Metrodata Electronic Tbk (MDTL) untuk…

Duta Pertiwi Bidik Laba Bersih Rp 6 Miliar

NERACA Jakarta – Membaiknya harga batu bara, menjadi alasan bagi PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk (DPNS) untuk mematok pertumbuhan bisnis…

Kapitalisasi Pasar di Bursa Tumbuh 0,24%

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan menjelang libur panjang Idul…