Mitra Internasional Rambah Bisnis Logistik - Akuisisi Mitra Alfa Dinamika

NERACA

Jakarta – Mengingat masih memiliki pasar dan prospek yang menjanjikan bisnis logistik dalam negeri, menjadi alasan bagi PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) membeli seluruh saham PT Mitra Alfa Dinamika (MAD) dari PT Dinamika Logistindo Indonesia (DLI) dan Alit Wibowo. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (9/9).

Dijelaskan, perseroan bersama dengan anak perusahaannya, PT Rama Dinamika Raya (Ramada) telah mengakuisisi saham MAD dari DLI dan Alit Wibowo pada akhir pekan lalu. Adapun rinciannya, perseroan membeli 200 lembar saham MAD di DLI senilai Rp1 juta per lembar atau total mencapai Rp200 juta dan 199 lembar saham MAD di Alit Wibowo dengan total Rp199 juta.

Sementara Ramada membeli satu lembar saham MAD dari Alit Wibowo senilai Rp1 juta. Maka dengan terealisasinya aksi korporasi ini, perseroan bersama dengan Ramada menjadi pemilik seluruh saham MAD. Rinciannya, perseroan memiliki 999 lembar saham MAD dan Ramada memiliki satu lembar saham MAD.

Kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan MIRA, Imaculata Tri Marianti, pertimbangan dan alasan pembelian MAD adalah untuk mewujudkan efektivitas kegiatan persiapan operasional MAD. Informasi saja, MIRA masih mencatatkan rugi bersih sepanjang Januari-Juni 2014. Nilainya sebesar Rp 200,52 juta. Kerugian ini akibat membengkaknya sejumlah biaya. Terutama beban bunga utang pembiayaan konsumen dan sewa pembiayaan yang naik hingga 232% menjadi Rp 1,55 miliar.

Bunga utang bank perseroan juga naik dari Rp 3,26 miliar menjadi Rp 4,62 miliar. Terlebih, penghasilan alias topline perusahaan merosot dasri Rp 84,15 miliar menjadi Rp 67,26 miliar. Tak pelak, MIRA masih mencatatkan saldo rugi sebesar Rp 1,17 triliun.

Asal tahu saja, dibalik potensi keuntungan bisnis logistik juga memiliki risiko yang memicu harga sahamnya ikut terkerek terkoreksi. Risiko tersebut adalah soal kenaikan harga bahan bakar (BBM) bersubsidi. Sudah menjadi rahasia umum, kenaikan harga BBM bersubsidi akan memiliki efek domino terhadap sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia. Namun, efek tersebut tergantung dari seberapa besar kenaikan harga BBM bersubsidi. Salah satunya adalah sektor angkutan dan logistik, yakni sektor transportasi, dengan beberapa emiten seperti PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA). Perusahaan distribusi seperti PT Enseval Putra Megatrading Tbk (EPMT) juga akan terimbas kenaikan harga BBM bersubsidi.

Sementara Setiawan Effendi, analis Phintraco Securities menambahkan, emiten sektor manufaktur berbasis industri juga berpotensi terkena efek yang besar dari pemangkasan subsidi BBM. "Sektor manufaktur dan industri banyak menggunakan BBM, seperti solar untuk produksinya," ujar dia.

Di samping itu, inflasi yang umumnya akan naik pasca kenaikan harga BBM subsidi, ikut menekan sektor barang konsumen (consumer goods) dan sektor ritel. "Emiten harus menanggung beban biaya distribusi yang lebih besar. Harga barang juga umumnya bisa dinaikkan, tetapi daya beli konsumen berkurang. Ini akan membuat laba bersih emiten consumer goods berpotensi menyusut," jelas Setiawan. (bani)

BERITA TERKAIT

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU NERACA Jakarta - Mitra pengemudi melaporkan Grab ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan…

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen NERACA  Jakarta - Grup Lippo terus melebarkan ekspansi usaha. Tak lama…

Kemudahan Bisnis Harus Dorong Perkembangan Wirausaha

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah harus fokus meningkatkan kemudahan berusaha sebagai upaya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…