Kadin: Tingkatkan Perekonomian Berbasis Budaya

NERACA

Jakarta - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya, Putri K Wardani mengatakan, diperlukan orang-orang mumpuni dan tepat di bidangnya sehingga bisa mengerti permasalahan yang ada. Selain itu orang yang duduk dalam kabinet nanti harus mampu bekerja cepat dan memiliki visi misi yang sama, yaitu menjadikan Indonesia untuk lebih baik. "Harusnya orang-orang yang siap lari dan bekerja cepat," kata Putri, Selasa (9/9).

Untuk memajukan perekonomian Indonesia, lanjut dia, harus ada konsep yang tepat. Sudah saatnya Indonesia memajukan perekonomian berbasis budaya. “Walaupun sumber daya alam Indonesia melimpah, namun kalau terus diambil akan habis,” ujarnya.

Putri menilai, dengan konsep ekonomi berbasis budaya maka sumber daya Indonesia tidak akan habis. Justru akan bertambah jika digali terus. “Siapapun yang duduk di kabinet nanti, konsep itu selayaknya bisa diterapkan,” tukas Putri.

Di sektor industri, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI), Abdul Sobur menilai industri berbasis tradisi dan budaya merupakan salah satu industri unggulan Indonesia sebagai penggerak pencipta lapangan kerja dan penurunan angka kemiskinan. Salah satu industri berbasis budaya yaitu kerajinan mebel dan rotan.

Sobur mengatakan, industri ini merupakan basis dari karakter dan simbol kehadiran Bangsa Indonesia di tengah pergaulan antar bangsa di dunia. “Dengan memperkuat industri ini, kekayaan intelektual (termasuk human capital) dan warisan budaya bangsa dapat dilestarikan sebagai sumber pendapatan dan pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia," ujar Sobur.

Menurut Sobur, warisan budaya merupakan sumber inspirasi untuk menghasilkan produk-produk inovatif baru bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. “Industri berbasis tradisi dan budaya adalah potensi orisinal yang dimiliki industri nasional,” lanjutnya.

Sobur menjelaskan, industri ini memiliki keunggulan yang ditopang oleh pertama, bahan baku tersedia dan tersebar di seluruh Indonesia. Kedua, memiliki karakter nilai budaya. Ketiga, mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar, yang umumnya berskala kecil menengah.

Oleh sebab itu, diperlukan kejelian para pelaku usaha dalam menentukan produk dan memilih target pasar yang tepat, serta dukungan penuh dari pemerintah secara kontinyu dan konsisten. Karena faktanya, ekspor sektor industri berbasis tradisi dan budaya, seperti industri kerajinan misalnya, justru meningkat di saat krisis ekonomi. “Sektor industri ini biasanya bisa menciptakan pasar sendiri. Dari segmen produk, yang dihasilkan adalah barang-barang premium yang harga jualnya juga bagus,” jelas dia.

Dia pun berharap ke depan akan semakin banyak produk-produk kreatif lainnya yang memiliki akar dan semangat berbasis tradisi. "Kreasi dan inovasi mutlak dibutuhkan untuk menjawab tantangan dari berbagai pihak. Bagaimana kita bisa membuat karya yang benar-benar baru dan original," tandasnya.

Omzet Meningkat

Pakar ekonomi kreatif UGM Erda Rindrasih menilai bahwa omzet ekonomi kreatif di Indonesia diperkirakan mencapai hingga Rp 600 triliun. Hal itu didorong oleh kenaikan kelas menengah baru sebesar 80 juta, keragaman unsur budaya sebagai modal kreatif, dan juga kemampuannya menyedot tenaga kerja yang mencapai 11,872% dari total lapangan kerja nasional.

Menurut Erda, ekonomi kreatif di Indonesia sangat beragam, mulai dari industri arsitektur, desain, fashion, kerajinan, musik hingga seni pertunjukan. “Peluangnya pengembangannya juga masih sangat potensial, diantaranya adalah perubahan perilaku masyarakat yang lebih menyukai produk produk unik yang jumlahnya tidak banyak. Peluang yang lain adalah penduduk Indonesia yang sangat besar yang secara otomatis menjadikannya sebagai pasar yang sangat besar juga,” ungkapnya.

Dijelaskan Erda, Istilah ekonomi kreatif dikenal sejak tahun 2001 yang diperkenalkan oleh John Howkins. Ekonomi kreatif kemudian muncul sebagai suatu bentuk ekonomi jenis baru. Munculnya ekonomi kreatif ini terjadi karena adanya pergeseran arah ekonomi dari Ekonomi Pertanian, Ekonomi Industri, Ekonomi Informasi lalu bergeser menjadi Ekonomi Kreatif. “Keragaman seni dan budaya Indonesia yang sangat kaya menjadi peluang sendiri dalam menciptakan produk-produk ekonomi kreatif yang berkualitas", ungkap alumnus Universitas Hawaii USA tersebut.

BERITA TERKAIT

RI-Inggris Berpeluang Tingkatkan Kerjasama Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Inggris berpeluang untuk meningkatkan kerja sama ekonomi yang komprehensif terutama di sektor industri. Untuk itu,…

Pemkot Tangerang Tingkatkan Kemampuan Pemuda Berwirausaha

Pemkot Tangerang Tingkatkan Kemampuan Pemuda Berwirausaha NERACA Tangerang - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang terus berupaya meningkatkan kemampuan berwirausaha bagi para…

Klungkung Raih WTP di Tahun Kedua Kepemimpinan I Nyoman Suwirta - Sukses Tingkatkan PAD 100% di Tahun Ketiga

Klungkung Raih WTP di Tahun Kedua Kepemimpinan I Nyoman Suwirta Sukses Tingkatkan PAD 100% di Tahun Ketiga NERACA Jakarta -…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…

KLHK Optimistis Ekspor Produk Kayu 2018 Meningkat

NERACA Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan optimistis ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan…

Niaga Bilateral - Pakistan-Indonesia Realisasikan Kerjasama Impor Jeruk

NERACA Jakarta – Pakistan dan Indonesia merealisasikan kerja sama impor jeruk jenis kino sebanyak 1.500 kontainer atau 30.000 ton pada…