Ketika Pasar Modal Masih Bertaji di Asia - Memacu Daya Saing Hadapi MEA

NERACA

Jakarta – Melalui persaingan, bisa membuktikan mana yang terbaik dan handal dan juga membuktikan mana yang pecundang. Maka menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, menjadi langkah awal untuk membuktikan ketangguhan dan keunggulan yang dimiliki industri pasar modal dan keuangan Indonesia, apakah masih menjadi yang terbaik atau sebaliknya hanya menjadi pasar bagi negara lain.

Momentum pasar bebas MEA 2015, menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan otoritas bursa untuk memacu daya saing industri pasar modal dalam negeri, apalagi Indonesia memiliki potensi dan pangsa pasar yang menjanjikan. Oleh karena itu, inovasi, efisiensi dan transparansi menjadi kunci sukses untuk memenangkan persaingan sengit pasar modal saat ini. Suka tidak suka, saat ini sudah banyak pelaku manajer investasi asing mulai menyerbu pasar di Indonesia, apalagi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih didominasi asing. Meskipun pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim, bila laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI menjadi yang terbaik ke dua di Asia Pasific. Namun kondisi tersebut belum mampu menjawab tantangan soal minimnya paritisipasi investor lokal di industri pasar modal.

Deputi Komisioner Manajemen Strategis IB OJK, Lucky F.A Hadibrata pernah bilang, aksi beli investor asing (net buy) sepanjang Juli 2014 mencapai Rp13,07 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp3,57 triliun bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar Rp9,5 triliun. Dimana peningkatan aksi beli investor asing tersebut, menjadikan gambaran bila komposisi kepemilikan saham asing per Juli menjadi sebesar 64,74% atau meningkat sebesar 0,74% bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Besarnya minat investor asing di Indonesia, tidak bisa lepas dari pasar yang menjanjikan dan iklim investasi yang kondusif, seperti inflasi dan geopolitik di dalam negeri. Alhasil, kondisi yang positif tersebut memacu transaksi saham yang terjadi di pasar mengalami kenaikan cukup baik dibandingkan tahun lalu, “Hingga tahun ini nilai transaksi asing masih tinggi dibandingkan transaksi domestik. Investasi di Indonesia menjadi leading bagi investasi asing karena masih dianggap menjanjikan dalam berinvestasi,”kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito.

Maka guna menggenjot investor domestik, pihak otoritas bursa melakukan inovasi, sosialisasi dan pengembangan produk pasar modal. Salah satunya pengembangannya adalah produk reksa dana syariah yang menjadi pintu masuk investor lokal berinvestasi di bursa. Hal ini didasarkan, mayoritas masyarakat Indonesia beragama muslim.

Pihak OJK mengakui, produk syariah di pasar modal Indonesia seperti saham dan reksadana mengalami pengingkat sepanjang 2014. Kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, indeks saham syariah Indonesia (ISSI) megalami peningkatan sebesar 18,29% menjadi Rp3.025,63 triliun pada 13 Agustus 2014 jika dibandingkan akhir 2013 sebesar Rp2.557,85 triliun. Disebutkan, nilai kapitalisasi pasar saham ISSI mencapai Rp3.025,63 triliun atau 58,93% dari total kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di BEI yang sebesar Rp5.134,30 triliun.

Daftar Efek Syariah

Dijelaskan, dari 326 saham syariah yang terdapat dalam Daftar Efek Syariah (DES), sebanyak 307 saham yang tercatat di BEI menjadi konstituen dari ISSI. Sementara itu, Jakarta Islamic Index (JII) pada periode sama juga mencatatkan pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar menjadi Rp2.063,84 triliun atau 23,43% jika dibandingkan pada akhir tahun 2013 sebesar Rp1.672,10 triliun.

Disebutkan, perusahaan efek (PE) yang telah mengembangkan dan melaksanakan perdagangan "online" saham berdasarkan prinsip syariah atau online trading syariah berjumlah delapan PE yaitu Indo Premier Securities. Selain itu, Daewoo Securities Indonesia, BNI Securities, Trimegah Securities Tbk, Mandiri Sekuritas, Panin Sekuritas Tbk, Phintraco Securities, dan Sucorinvest Central Gani.

Sedangkan untuk produk reksa dana hingga 12 Agustus 2014 terdapat 66 reksa dana syariah aktif. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah reksa dana syariah mengalami peningkatan 1,54% jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2013 sebanyak 65 reksa dana syariah.

Dalam data OJK, disebutkan, dari sisi proporsi jumlah reksa dana syariah mencapai 7,83% dari total reksa dana aktif yang berjumlah 843 reksa dana. Pada periode yang sama, total nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana syariah mencapai Rp9,56 triliun, meningkat 1,37% dari NAB akhir 2013 sebesar Rp9,43 triliun.

Dipaparkan, perusahaan pengelola investasi yang telah mengelola reksa dana syariah berjumlah 29 Manajer Investasi (MI) atau sebesar 37,66% dari total 77 MI yang mengelola total reksa dana aktif.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani menilai, memacu daya saing pasar modal tidak hanya dengan meningkatkan kapitalisasi pasar tetapi juga peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM). Kemudian diperlukan good governance yang kuat dan baik dari pemangku kepentingan seperti otoritas pasar modal dan OJK.“OJK sendiri jangan hanya menjadi pengawas saja, namun harus menjadi suatu lembaga kontrol bagi perusahaan yang akan go public dalam pasar modal, seperti contohnya mengontrol perusahaan akan bersiap diri untuk go public,”ujarnya dia.

Kemudian soal pelayanan untuk kemudahan berinvestasi juga perlu diperhatikan, maka menjawab kebutuhan pelaku pasar. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terus mengembangkan infrastruktur yang merupakan modal dasar untuk mempermudah investasi di pasar modal. Salah satu agendanya, berupa pengembangan Single Investor Identification (SID) dan Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas). Dimana pengembangan ini, kata Dirut KSEI Heri Sunaryadi, menjadi cara yang strategi dengan menggandeng industri perbankan,”Kemudahan penggunaan fitur perbankan yang telah diketahui secara umum diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal dengan lebih mudah,” ungkapnya.

Tentunya diharapkan, melalui terobosan dan pengembangan infrastruktur pasar modal dapat mendukung perkembangan pasar modal Indonesia dan memicu pendalaman pasar modal bagi masyarakat dengan memanfaatkan produk dan keunggulan yang ada dengan didukung peraturan yang memberikan kepastian hukum bagi investor. (bani)

BERITA TERKAIT

Perusahaan Bisa Manfaatkan Pasar Modal - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta - Besarnya likuiditas di pasar modal, tentunya bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mendanai ekspansi bisnisnya jangka panjang…

Investasi Sulsel Masih Terpusat di Makassar

NERACA Makassar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) mengungkapkan, investasi saham untuk wilayah Sulawesi…

Investor Asing Masih Percaya Indonesia - Laris Manis Komodo Bond

NERACA Jakarta- Ludesnya penawaran PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Komodo Bond di Londo Stock Exchange, menunjukkan kepercayaan pelaku pasar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…