Eksportir Terigu Turki Tolak Lakukan Dumping

NERACA

Jakarta - Asosiasi Eksportir, Produk Gandum, Kacang-Kacangan dan Minyak Sayur Turki menyayangkan tindakan Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) sebagai kompetitior lokal yang memilih untuk melakukan kampanye negatif terhadap produk terigu Turki, dibandingkan bersaing secara sehat dalam hal kualitas produk dan harga.

Ketua Asosiasi Eksportir, Produk Gandum, Kacang-Kacangan dan Minyak Sayur Turki, Turgay Unlu mengatakan bahwa pihaknya mengklarifikasi informasi yang tidak sesuai dengan fakta terkait tepung terigu import dari Turki yang beredar di Indonesia. Pihaknya menegaskan bahwa tidak ada praktek dumping yang dikenakan pada tepung terigu Turki di pasar Indonesia. Tak hanya itu, tepung terigu yang diimpor juga merupakan produk yang telah memenuhi standar kualitas, yang keberadaannya tidak merugikan industri tepung terigu lokal.

"Demi kebaikan hak konsumen Indonesia dalam mendapatkan tepung terigu yang berkualitas dengan harga terjangkau, dalam perdagangan seperti komoditi penting (bahan yang paling penting untuk mie, biskuit, roti) seharusnya terbuka terhadap persaingan global dan haruslah adil. Kami ingin melakukan klarifikasi atas beberapa hal yang telah dikemukakan perwakilan APTINDO terhadap pers Indonesia akhir-akhir ini," kata Unlu dalam keterangan resmi yang diterima, kemarin (4/9).

Ia menjelaskan dumping dalam perjanjian anti-dumping WTO 2.1 didefinisikan untuk tujuan perjanjian ini, suatu produk harus dianggap sebagai dibuang, yaitu diperkenalkan ke dalam perdagangan negara lain kurang dari nilai normal, jika harga ekspor produk diekspor dari satu negara ke yang lain kurang dari harga sebanding, dalam kegiatan perdagangan, untuk produk yang diperuntukkan bagi konsumsi dalam negeri pengekspor.

Maka dari itu, ia mengatakan telah jelas dapat dilihat dari teks tersebut, ini bukanlah sekedar perbandingan harga ekspor dan harga domestik tetapi perbandingan harga ekspor terhadap nilai normal untuk produk sebanding. Nilai Normal adalah sosok yang dihitung setelah penyesuaian tertentu. Desakan Aptindo untuk membandingkan harga ekspor dengan harga domestik Turki secara langsung atau harga gandum, tanpa mempertimbangkan penyesuaian yang diperlukan dan dibenarkan, adalah hanya distorsi fakta dan pendekatan yang tidak tepat terhadap aturan WTO dengan tujuan untuk mempengaruhi masyarakat dan pemerintah.

"Kami dengan tegas menyatakan bahwa praktek dumping yang dituduhkan APTINDO kepada tepung terigu Turki sangat tidak benar dan tidak berdasar. Kelompok kami dalam beberapa kesempatan telah menekankan berulang kali bahwa harga kompetitif tepung terigu Turki adalah hasil dari beberapa faktor, dan eksportir Turki selalu transparan ketika melakukan transaksi perdagangan di manapun, baik di Indonesia serta di seluruh dunia. Merupakan hal yang salah dan tidak adil untuk menyerang pengusaha yang jujur," ungkapnya.

Unlu menjelaskan ada beberapa faktor yang memungkinkan Turki untuk menjual tepung terigu dengan harga yang terjangkau. Yang pertama adalah tradisi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa gandum pertama di panen di situs Gobekli Tepe, tepatnya di Provinsi Sanliurfa yang berada di Turki bagian Tenggara. Gandum dan tepung gandum telah tertanam dan menjadi bagian dalam budaya selama ribuan tahun, dan negara ini juga memiliki sekitar 700 pabrik tepung terigu yang beroperasi.

Faktor kedua adalah bahan baku material yang lebih murah. Dengan kapasitas produksi yang tinggi, Turki merupakan salah satu produsen serta eksportir gandum dan tepung terigu terbesar di dunia. Selain itu, karena letak geografisnya, Turki juga memiliki akses mudah ke petani gandum utama lain di wilayah laut hitam.

Faktor ketiga, kata dia, tarif angkut yang murah. Lokasi strategis Turki memberikan keuntungan dalam mendapatkan harga yang kompetitif untuk angkutan kargo timur dengan waktu transit yang lebih pendek dan biaya penyimpanan yang rendah, yang semuanya membawa penghematan biaya dan efisiensi bagi eksportir tepung Turki. Faktor terakhir adalah.biaya produksi yang murah.

"Kami memiliki industri penggilingan tepung terigu yang berkembang dengan baik di Turki, dan secara signifikan menurunkan biaya operasi karena akses untuk pemeliharaan peralatan yang efisien dan mudah didapat," katanya.

Menurut dia, tepung Turki diekspor ke lebih dari 120 negara, termasuk negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan dan hal ini menjadi indikasi kuat bahwa tepung terigu Turki memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh pemerintah negara tersebut. Studi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang berbeda juga telah membuktikan bahwa tepung Turki tidak hanya aman tetapi juga merupakan produk berkualitas. Untuk lebih memvalidasi kualitas ekspor, tepung Turki juga digunakan dalam operasi bantuan internasional dari World Food Programme, badan kemanusiaan terbesar di dunia yang memerangi kelaparan.

Turgay Unlu juga menjelaskan mengenai tuduhan harga tepung terigu Turki yang lebih murah di Indonesia dengan menyatakan, "Konsumen Turki sedang menikmati harga terjangkau yang sama di segmen mereka sendiri. Kami ingin mengingatkan semua pihak bahwa terigu yang dikonsumsi di Turki adalah untuk roti, sedangkan sebagian besar terigu diekspor ke Indonesia adalah untuk biskuit dan mie. Gap harga tersebut ada di setiap pasar," ucapnya.

Berbicara mengenai ketahanan pangan, pihaknya percaya tidak ada Negara yang harus membuat kesalahan dengan mengandalkan satu sumber saja. Atas dasar itu industri lokal dan impor harus berdampingan. "Kami menolak skenario kekhawatiran bahwa impor akan membunuh industri lokal. Sebaliknya, impor membawa kompetisi untuk industri sehingga industri semakin lebih kuat. "Ketika Turki mulai mengekspor tepung terigu ke Indonesia, hanya ada delapan pabrik tepung terigu di dalam negeri. Tiga pabrik diantaranya yang menguasai sekitar 90% dari pasar. Ketika tepung terigu Turki membuka pasar di Indonesia, semakin banyak pabrik yang bermunculan," pungkasnya.

Turgay Unlu menjelaskan mengenai keuntungan dari Tepung Terigu Turki. "Tepung terigu Turki memberikan keuntungan ke Industri makanan Indonesia. Seiring dengan adanya peningkatan permintaan produk berbasis tepung, diperkirakan sebanyak 200,000 Usaha Kecil Menengah (UKM) mempekerjakan 2 juta tenaga kerja dan masih berkembang. Berkat persaingan dan biaya bahan baku yang sehat, perusahaan Indonesia sekarang ekspor produk berbasis tepung-negara tetangga lainnya. Hal ini penting bagi UKM yang mengatur untuk menurunkan biaya mereka dengan menggunakan Tepung Turki yang harga yang kompetitif dalam produksi mereka. Jika industri tepung terigu Indonesia benar-benar dirugikan oleh tepung impor maka kita tidak akan melihat kemajuan seperti di industri terigu lokal sekarang ini," tutup Unlu.

BERITA TERKAIT

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 - Lakukan Opgab Tiga Hari

CPPD Sukabumi Berhasil Tarik PKB Sebesar Rp 104.578.000 Lakukan Opgab Tiga Hari NERACA Sukabumi - Cabang Pelayanan Pendapatan Daerah (CPPD)…

Telkom IndiHome Tak Terbukti Lakukan Monopoli

Telkom IndiHome Tak Terbukti Lakukan Monopoli NERACA Jakarta – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggelar sidang pembacaan putusan pada perkara…

Pengusaha Tolak Kebijakan Lelang Gula Rafinasi

NERACA Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menolak rencana pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang akan menerapkan perdagangan gula kristal…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tren Neraca Perdagangan Ikan Kerapu Tercatat Positif

NERACA Jakarta- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2012 – 2016) neraca perdagangan kerapu…

Perdagangan Internasional - Kinerja Ekspor Non Migas Terkoreksi 6,09 Persen di September

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan kinerja ekspor Indonesia pada September 2017 sebesar 4,51 persen dari…

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…