Bisnis Kebutuhan Pokok yang Masih Potensial

Di tengah beragamnya barang dagangan yang dipamerkan. Bisnis sembako sangat berpotensi untuk menarik konsumen karena memilikiperan penting bagi kehidupan manusia. Walaupun diawali dengan modal yang kecil bisnis ini akan mudah berkembang selama strategi penjualan yang diterapkan tepat.

Tak mengherankan jika Usaha sembako adalah bisnis yang diminati oleh banyak kalangan, baik yang memiliki modal besar maupun hanya memiliki modal kecil. Tentu saja, jika diawali dengan modal besar maka penjualan sembako akan lebih lengkap lagi.

Semakin hari semakin banyak saja orang yang memiliki usaha sembako, karena tentu saja setiap orang pasti membutuhkan sembako. Kita harus pandai dalam mengelola usaha sembako ini agar sukses atau paling tidak menghasilkan pemasukan setiap harinya.

Terdapat banyak hal yang bisa mebuat sukses bisnis sembako ini, khususnya para pelanggan bisnis ini sangat membutuhkannya. Ya, produk sembako adalah produk yang pasti dibutuhkan oleh semua orang.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa bisnis ini sudah ada pasarnya. Misalnya saja barang-barang seperti beras, gula putih, mi instan, susu untuk bayi maupun anak balita, kopi, teh, dan kecap. pasti sangat dicari banyak orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Begitu pentingnya Sembako, membuat pemerintah,menjadikan sembako sebagai komoditi yang harus di jaga kestabilan harganya, kalau tidak tentu pada saat-saat tertentu kenaikannya menjadi tak wajar.

Seperti setiap kali jelang hari-hari besar, seperti Lebaran dan hari besar lainnya. Biasanya, saat itu diikuti dengan kenaikan harga bahan pokok. Selama masih dalam batas normal, tentu kenaikan itu bukanlah suatu masalah. Tetapi, jika kenaikannya tak wajar, tentu akan mendapat protes dari masyarakat.

Untuk itu diperlukan sebuah badan sebagai kontrol harga. Dahulu, pada zaman orde baru ada Bulog yang berfungsi menstabilkan harga kebutuhan pokok. Jika penguasaan bahan pangan kebutuhan pokok diserahkan pada pedagang, maka pasar akan sangat liberal.

karena, itu juga turut membuka peluang para kartel untuk mengendalikan harga di pasaran, Kalau sudah begitu maka bahan pokok yang dibutuhkan akan jarang bahkan tidak ada di pasaran. Seandainya ada, maka harganya dapat dipastikan naik sekian persen dan tentunya akan sangat memberatkan masyarakat.

Oleh karena itu, peran Bulog sebagai stabilisator harga sangat diperlukan tak hanya pada komoditas beras namun juga seluruh bahan kebutuhan pokok lainnya seperti pada zaman Orba. Berbeda dengan saat ini, dimana Bulog hanya diposisikan untuk memproteksi harga beras agar tak bergerak liar.

Nah, semua tinggal bagaimana kemauan pemerintah. apakah benar-benar ingin melindungi rakyatnya atau bagaimana? Karena, untuk mengembalikan peran Bulog sebagai pengendali kebutuhan bahan pokok seperti dahulu, diperlukan dukungan anggaran maupun dukungan politik dari pemerintah.

BERITA TERKAIT

Olahraga Sederhana yang Bisa Dilakukan di Rumah

Olahraga penting untuk kesehatan tubuh. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah olahraga kardio. Olahraga satu ini dikenal efektif untuk…

Pelaku Usaha Optimistis Bisnis Properti Tumbuh Positif di Manado

Pelaku Usaha Optimistis Bisnis Properti Tumbuh Positif di Manado NERACA Manado - Pengembang properti Grand Kawanua Internasional City (GKIC) sangat…

Repotnya Meregulasi Bisnis Tanpa Regulasi

Oleh: Djony Edward Menurut rencana Kementerian Perhubungan hari ini akan menerbitkan aturan mengenai penerapan diskon pada aplikator ojek online (ojol).…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…