Belajarlah Toleransi dan Demokrasi di Indonesia

Nilai-nilai universal yang terkandung dalam kalimat ‘Bhinneka Tunggal Ika’ ternyata tidak hanya cocok untuk masyarakat Indonesia saja, tapi juga pas bagi upaya mewujudkan kehidupan bertoleransi dan berdemokrasi di dunia. Hal itu disiratkan langsung oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Ban-Ki Moon saat bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuka Aliansi Forum Global untuk Peradaban atau Global Forum United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC) ke-6 di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, akhir Agustus (29/8) lalu. "Indonesia merepresentasikan kehidupan yang harmonis di tengah peradaban. Saya terinspirasi dari semboyan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity," kata Ban Ki-Moon dlam pertemuan UNAOC yang bertema Unity in Diversity. Dia pun memuji Indonesia sebagai rumah bagi lebih dari 1000 etnik yang mampu hidup berdampingan. "Perbedaan tidak seharusnya memisahkan. Persatuan di tengah perbedaan tidak hanya sebagai slogan, tetapi juga diterapkan dalam berkehidupan," kata Ban. Karena itu dia pun menyampaikan rasa terima kepada Presiden SBY selaku tuan rumah pertemuan tingkat dunia tersebut. Menurut Ban, kehadiran UNAOC sudah berperan dalam berbagai konflik di dunia. Dialog dikedepankan untuk mengatasi perpecahan yang terjadi. Dia pun menceritakan kekagumannya pada generasi muda dunia saat ini, salah satunya adalah Malala Yousafzai dari Pakistan. Malala, kata Ban, menyatakan bahwa setiap orang adalah penting, karena setiap orang bisa membuat perbedaan. Tentang UNAOC sendiri, Sekjen PBB mengatakan, tujuan utama diadakannya UNAOC adalah untuk menjembatani jurang perbedaan antarperadaban, termasuk di antaranya Islam dan Barat. Aliansi Peradaban PBB dibentuk Ban Ki-moon pada 14 Juli 2005, bersama mantan Menlu Indonesia Ali Alatas. Organ itu mempunyai tujuan sebagai jembatan antara Islam dan Barat. Aliansi juga dimaksudkan sebaga aksi bersama untuk menghadapi prasangka, mispersepsi, dan menolak ekstrimisme dalam masyarakat. Ada empat pilar tindakan yang harus dilaksanakan melalui empat pilar tindksn, yaitu pendidikan, kepemudaan, media, dan migrasi. Pertemuan itu dihadiri antara lain Wakil PM Turki Besir Atalay, Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, dan Menlu Spanyol Jose Manuel Garcia Margallo, serta Presiden UN General Assembly ke 68 John W Ashe, High Representative of UNAOC. Pada kesempatan itu, Presiden SBY didampingi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Ban menjelaskan, Indonesia bisa menjadi model peradaban di kawasan ASEAN untuk menghapus berbagai bentuk diskriminasi karena perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Kondisi itu masih terjadi di beberapa kawasan Asia. ''Melalui forum ini, kita ingin menjembatani perbedaan budaya, menciptakan rasa saling pengertian, dan menghormati antaragama dan budaya,'' katanya. Toleransi di Dunia Sementara itu, Presiden SBY di tempat sama, menyatakan, tema Unity of Diversity (satu dalam keberagaman) sangat tepat, karena maknanya sama dengan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu mencerminkan keheterogenan Indonesia, tetapi tetap satu juga. Menurut SBY, umat manusia sejak lama telah menjadi korban dari ketidaktoleranan. Itu sebabnya, Forum Global UNAOC dapat menyuarakan komitmen untuk saling berdialog di antara beragam budaya, keyakinan, dan peradaban. ''Situasi saat ini bahkan semakin mengecilkan hati dalam konteks ketidakharmonisan. Di dunia Barat sendiri, kita menyaksikan peningkatan intensitas antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa di satu sisi dan Rusia di sisi lain,'' kata Presiden. Ketidakharmonisan telah berlangsung di kawasan Irak dan Suriah, juga Ukraina, dan Jalur Gaza, Palestina. Sejumlah contoh telah diberikan Indonesia untuk UNAOC ke-6, semisal, pemilihan Legislatif (Pilcaleg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu. Dalam sesi pembukaan pertemuan tersebut, perwakilan tinggi UNAOC Nassir Abdulaziz Al-Nasser mengatakan krisis yang terjadi di sejumlah negara di Timur Tengah, Asia, dan Afrika menunjukkan bahwa masyarakat di sana tengah bergulat dengan ketegangan yang didasarkan pada perbedaan identitas. ''Kita melihat sekarang ini bahwa identitas lebih digunakan untuk memecah belah masyarakat daripada untuk mempersatukan mereka,'' katanya. (saksono)

BERITA TERKAIT

Huobi Indonesia Berbagi Aset Digital dan Kesuksesan - Layanan Platform Mata Uang Ditigal

NERACA Jakarta – Perluas penetrasi pasar di Indonesia, Huobi Indonesia Digital Currency Exchange secara resmi beroperasi daring. Perusahaan juga mengenalkan…

Indonesia Writers Festival 2018

Indonesia Writers Festival 2018 NERACA Jakarta - Kawasan Wisata Gunung Ijen di Banyuwangi akan menjadi tempat berlangsungnya Indonesia Writers Festival…

Taiwan Tawarkan Produk Kesehatan ke Pasar Indonesia

      NERACA   Jakarta - Indonesia merupakan negara yang berada di urutan ke-4 dengan prevalensi diabetes tertinggi di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

1001 Cara Menjaga Rupiah

Riset terbaru dari Nomura Holdings Inc menyatakan Indonesia merupakan salah satu dari delapan negara berkembang yang mempunyai risiko kecil atas…

Menilik Pengaruh Eksternal Terhadap Rupiah

Perekonomian global ketika memasuki tahun 2018 mengalami perubahan yang lebih dinamis dibandingkan beberapa tahun sebelumnya akibat normalisasi yang dilakukan oleh…

Rupiah Kokoh Menjelang Pemilu 2019

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (4/9), mengatakan perlemahan rupiah…