Indonesia Terus Dibayangi Krisis Pangan

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung atau yang kerap disapa CT ini mengakui Indonesia kian dibayangi krisis pangan dan bakal mengancam Tanah Air. Ini terjadi menyusul tingginya laju pertumbuhan penduduk berbanding terbalik dengan produktivitas pertanian sebagai penopang sektor pangan yang menurun.

"Penduduk Indonesia saat ini sekitar 250 juta orang, sedangkan pertambahan penduduk 4 juta orang per tahun sudah seperti penduduk di Singapura. Kita harus siapkan makanan, kalau tidak terpaksa kita impor, makanya ketahanan pangan penting harus kita jaga, agar kita tidak krisis pangan" katanya di Jakarta, kemarin.

Oleh karenanya ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan. Diantaranya, lonjakan harga komoditas pangan dan konversi lahan pertanian.

"Tidak ada pilihan lain, lahan makin kecil tadi ditingkatkan produktivitasnya. Kita perlu penyuluh pertanian dan mereka harus mendapat perhatian" ujarnya.

Sedangkan menurut pakar sumber daya lahan pertanian Irsal Las mengatakan Indonesia terancam mengalami krisis pangan nasional jika tidak mendapat areal tanam seluas 13,3 juta ha pada 2025 atau sekitar satu dekade dari sekarang.

Menurutnya, risiko krisispangan semakin tinggi apabila angka produktivitas padi dan tanaman pangan lainnya tidak meningkat mengiringi permintaan konsumsi. "Angka tersebut sudah disesuaikan dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk," katanya.

Dia merinci, dibutuhkan kurang lebih 7,3 juta ha areal sawah, 1,4 juta ha untuk kedelai, jagung 2 juta ha, serta tebu dan hortikultura sebesar 2,6 juta ha untuk memenuhi kecukupan pangan penduduk Indonesia yang tumbuh 1,3% per tahunnya.

Dimana merujuk pada data dari Bappenas penduduk Indonesia akan membengkak menjadi 284,82 juta pada 2025, meningkat 46,31 juta dibandingkan pada 2010 yang hanya 238,51 juta penduduk.

Pada 2015 sendiri, Bappenas mengestimasi penduduk Indonesia telah mencapai 255,46 juta orang.

Adapun Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan, Indonesia akan mengalami neraca pangan negatif pada 2020 apabila program peningkatan produktivitas areal dan diversfikasi pangan mengalami kegagalan.

BKKBN mendasarkan asumsi kebutuhan pada angka konsumsi padi per kapita sebesar 125,3 kg, sementara angka konsumsi padi yang diklaim oleh Kementerian Pertanian lebih besar lagi, yaitu 139 kg.

Oleh karenanya menurut Irsal posisi ketersedian lahan pertanian sampai sejauh ini hanya 25,82 juta pada lahan kering dan 7,3 juta ha pada lahan rawa.

Meskipun tersedia cukup besar, dia mengaku pesimistis angka tersebut mampu dimanfaatkan sebagai areal pertanian karena sejumlah masalah klasik menghadang seperti kebijakan tata-kelola dan kepemilikan hak guna usaha (HGU) yang tidak beres.

"Selain itu adalah masalah infrastruktur pertanian yang umumnya tidak tersedia di lahan itu. Ini dibutuhkan kerja sama dengan Pekerjaan Umum," tambahnya.

Bahkan, Asem I menunjukkan luas areal panen padi Indonesia mengalami penurunan sebesar 270.000 ha dari 13,83 juta ha pada 2013.

Haryono, Plt. Dirjen Tanaman Pangan dan Kepala Balitbang Kementerian Pertanian, mengakui kementerian selalu kesulitan apabila berhadapan dengan urusan tanah.

Tidak hanya itu, Kementan juga mencatat bahwa saat ini setiap tahunnya Indonesia kehilangan lahan seluas 100.000 ha yang terkonversi menjadi perumahan dan atau kawasan industri, sementara percetakan lahan reguler tidak mampu mengimbangi laju konversi tersebut.

Sebab, tuturnya, masalah ekspansi areal persawahan bertumbukan dengan banyak kepentingan dan kementerian lainnya.

Dia menjabarkan, pihaknya sudah mengeluarkan kawasan hutan lindung dari estimasi tersebut, namun masih saja mengalami kesusahan ketika akan mengeksekusi perluasan areal.

"Soal HGU, BPN yang memiliki daftar itu dan berhak mengeluarkan daftar, perusahaan mana saja yang pro atau tidak dalam perluasan areal sawah," ungkapnya.

Dia menuturkan, perluasan lahan memang tidak terlalu mendesak saat ini karena Indonesia masih bisa mengandalkan produktivitas areal panen.

Namun dalam jangka panjang, ujarnya, negara terancam tidak lagi bisa mencukupi kebutuhan pangan apabila luas tanam tidak segera meningkat.


Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat, luas lahan padi Indonesia hanya bertambah sedikit dalam lima tahun terakhir. Pada 2010, lahan pertanian sebesar 13,25 juta hektar bertambah menjadi 13,56 juta hektar pada 2014. Bahkan, berdasarkan Angka Sementara semester I/2014, luas areal panen padi Indonesia mengalami penurunan sebesar 270 ribu hektar dari 13,83 juta hektar pada 2013. [agus]

BERITA TERKAIT

Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif Terus Dipacu

Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry untuk sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing…

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…