KKP Tingkatkan Persaingan di Pasar Global

NERACA

Sidoarjo - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan untuk dapat bersaing di pasar global maka perlu menjaga kualitas dan jaminan mutu dari produk perikanan nasional. Oleh karenanya, guna menjaga perlu ada instalasi atau karantina perikanan yang memadai. Dan saat ini selama saya menjabat setidaknya sudah ada 47 daerah yang sudah di bangun balai karantina salah satunya di Surabaya ini.

"Selain untuk konsumsi dalam negeri, Indonesia banyak mengekspor perikanan ke luar negri. Untuk dapat bersaing dengan negara lain tentu kita harus mampu menjaga standar mutu dari produk perikanan nasional kita," kata Sharif kepada Wartawan sesaat setelah soft launching operasional Instalasi Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Puspa Agro, di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (3/9).

Mengingat saat ini, negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat (AS) Japan, Eropa, Timur Tengah, bahkan Rusia menginginkan kualitas yang sesuai dengan standar mereke. Jika kita tidak memenuhi itu semua produk perikanan kita tidak bisa diterima di negara tujuan ekspor. "Seperti Rusia sangat ketat dan teliti mengenai mutu, bahkan kemrin-kemarin sempat produk perikanan kita tidak bisa dterima disana, sekarang sudah bisa masuk. Makanya untuk menjaga hal yang seperti itu, kami berupaya terus memperbaiki mutu perikanan kita," ujarnya.

Adapun langkah nyata yang sudah kami lakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan pembinaan mutu dan keamanan hasil perikanan pada Unit Pengolahan Ikan (UPI) skala menengah hingga besar. Hasilnya di tahun 2013, capaian menggembirakan ditunjukkan dengan diterimanya 119 unit UPI ke negara mitra. Capaian yang melampaui target hingga lebih dari 200 persen itu, dikarenakan terbukanya pasar Asia seperti Korea, China, Vietnam sebagai tujuan pengembangan ekspor hasil perikanan.Adapun rincian masing-masing negara mitra diantaranya, Uni Eropa sebanyak 12 Unit, Kanada sebanyak 6 Unit, Korea sebanyak22 Unit, China sebanyak 38 Unit , dan Vietnam sebanyak 26 unit

Sejalan dengan itu, KKP terus memperkuat keberadaan labotarium kesehatan ikan dan lingkungan di sentra budidaya udang, patin dan komoditas lainnya. Hal ini ditunjukkan dengan melakukan pengawasan baik dari mutu dan keamanan pangan, hingga bimbingan dalam proses penangkapan, distribusi ataupun pengolahan.Sementara, untuk produk perikanan produksi skala Usaha Mikro Kecil Menengah(UMKM), KKP telah memberikan Sertifikat Produk Pengguna Tanda SNI (SPPT SNI) kepada para pelaku UMKM. Disamping pemberian SPPT SNI, KKP juga terus berusaha meningkatkan jaminan mutu dan keamanan produk perikanan UMKM dengan melakukan pembinaan dan pemberian Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) kepada UMKM produk perikanan.

Tercatat, sebanyak 73 unit UMKM telah mendapatkan SKP. Tak ketinggalan, KKP telah menyusun program penerapan in-line inspection (ILI) dan standarisasi serta sertifikasi instalasi karantina di 47 unit pelaksana teknis (UPT). Hasilnya, pada tahun 2013, persentase ikan dan produk perikanan impor, ekspor dan antar area yang disertifikasi bebas hama penyakit ikan karantina mengalami tren postif yakni sebesar 98,6 persen atau melebihi dari target yang dipatok sebesar 96 persen.

Di sisi lain, KKP telah menerbitkan Sertifikat Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) sebanyak 1.219 sertifikat dari target yang dipasang sebanyak 1.115 sertifikat.Selain sertifikat HACCP, KKP juga memfasilitasi para pelaku usaha dengan memberikan jaminan mutu dengan jaminan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP), dan Health Certificate (HC) dengan menggunakan SNI sebagai acuan penerapannya.

Selain itu, dalam menjagajaminan kualitas mutu hasil perikanan, KKP meresmikan operasional KIPMhasil perikanan di Provinsi Jawa Timur. Dibangunnya fasilitas karantina ikan sebagai bentuk komitmen KKP dalam mendorong terciptanya standar mutu produk perikanan Indonesia. Instalasi seluas 20.000 m2 ini, berperan sebagai tempat atau fasilitas pemeriksaan produk perikanan impor, ekspor ataupun domestik yang masuk atau keluar melalui pelabuhan ataupun bandar udara di Jawa Timur.Fasilitas yang mulai beroperasi ini diharapkan memotong waktu tunggu pemeriksaan komoditas ikan

Sedangkan menurut Narmoko Prasmadji Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu Hasil Perikanan, KKP mengatakn 70 persen dari ekspor ikan nasional berbasis di Jawa Timur oleh karenanya dengan adanya Instalasi ini diharapkan mampu meningkatkan dan terus menjaga mutu perikanan nasional. "Pembangunan ini diwujudkan sebagai langkah menuju pengendalian dan menjaga mutu perikanan nasional lebih modern. Harapannya Jawa Timur ini menjadi role model, yang dapat dituru daerah lain mewujudkan industrialisasi perikanan yang lebih modern," tuturnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Menkes Minta Perempuan Tingkatkan Pengetahuan Tentang Gizi

Menteri Kesehatan Nila Moeloek meminta para perempuan khususnya kepada para ibu untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi guna mencegah terjadinya kasus…

Honda Kuasai 53 Persen Pasar Hatchback di Indonesia

Honda menguasai pasar hatchback di Indonesia sebesar 53 persen melalui penjualan mobil Honda Jazz dan Honda Civic Hatchback. Honda Jazz…

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tujuh Pembangkit Diresmikan - Tingkatkan Rasio Elektrifikasi Di NTB dan NTT

NERACA Jakarta - Menteri ESDM Ignasius Jonan meresmikan tujuh proyek pembangkit di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Nusa…

Luhut Sebut Ada Kesempatan Tingkatkan Peringkat Investasi

  NERACA Jakarta -  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Panjaitan menyatakan adanya peluang peningkatan peringkat layak investasi (investment grade)…

Mesin Taiwan Mampu Hemat 30%

  NERACA Cikarang - Taiwan mulai fokus untuk memproduksi mesin mesin dengan teknologi tinggi namun dengan harga yang cukup rendah,…