Pemerintah Fokus Gunakan Batubara untuk Pembangkit

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan bahwa pemerintah akan fokus untuk mengoptimalkan pasokan batu bara bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dari batubara. Pihaknya memprediksi kebutuhan listrik setiap tahunnya akan terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jarman mengatakan kebutuhan listrik sampai di tahun 2022 setidaknya perlu tambahan kapasitas mencapai 59 ribu mega watt (MW). "Kebutuhan listrik kita sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) dari 2012-2022 itu mencapai 59 ribu MW. Kami akan fokus pada pengembangan batubara bagi PLTU," kata Jarman di Jakarta, Rabu (3/9).

Menurut dia, rata-rata tambahan kapasitas ini di tiap tahun perlu ditingkatkan mencapai 1.000 MW. Total kapasitas listrik di Indonesia sampai di 2014 dalam rata-rata mencapai 40 ribu MW lebih. Jarman mengakui, pemelihan pembangkit yang bersumber dari pasokan batubara lantaran jauh lebih ekonomis.

Di samping itu ke depannya pemerintah akan menjadikan base load peningkatan rasio elektrifikasi melalui realisasi pembangunan PLTU. "Kenapa batubara? Karena memang kita ingin genjot penambahan kapasita listrik. Batubara itu murah dan ekonomis sehingga nantinya base load pembangkit menggunakan batubara," ujar Jarman.

Ia melanjutkan, komposisi listrik hingga di 2022, penggunaan pembangkit listrik dengan batubara mencapai 65,6%. Adapun gas alam sebesar 16,6%, Panas Bumi 11%, Air 5,1%, minyak dan bahan bakar lainnya, 1,7%. "Pemakaiannya minyak bagi pembangkit listrik harus diturunkan mencapai 1%. Yang terpenting adalah kita memanfaatkan sumber energi yang memang cadangannya besar dan cukup ekonomis bagi pembangkit listrik," ujar dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan biaya produksi listrik menggunakan batu bara jauh lebih murah ketimbang menggunakan tenaga angin. "Saat ini biaya produksi listrik menggunakan batu bara adalah yang paling murah, karena pertimbangan secara ekonomi itu, maka pemerintah memilih untuk menggunakan sumbar daya tersebut," kata CT.

Dia mengatakan, pemerintah terus mencari sumber daya potensial untuk menjaga ketersediaan listrik. Namun dia mengakui, potensi sumber daya angin sebagai pembangkit listrik di Indonesia sangat bagus, karena garis pantai Indonesia sangat panjang dan angin tidak pernah berhenti berhembus setiap saat. Namun, banyak pertimbangan yang dilakukan sehingga sumber daya itu belum dilakukan. "Ke depan, sumber daya tersebut pasti akan digunakan," kata dia.

Listrik menurut Chairul, salah satu faktor vital untuk mengupayakan percepatan perkembangan ekonomi masyarakat Indonesia melalui sektor industri. "Jika investor masuk dan membangun industri di Indonesia, tentu akan sangat membantu dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Namun menurut dia, sektor industri tersebut sangat membutuhkan dukungan ketersediaan listrik yang memadai. "Ini merupakan peluang bagi pulau Sumatera karena banyak memiliki sumber batu bara. Kita pun sudah sepakat dengan gubernur se-Sumatera untuk membangun transmisi listrik 500 KV trans Sumatera guna memancing minat investor untuk masuk ke Sumatera," kata dia.

Rencana pembangunan sejumlah pembangkit listrik di sumatera berbasis batu bara itu menurut Chairul akan dimulai Oktober tahun ini. "Mudah-mudahan terealisasi sehingga percepatan perkembangan ekonomi Sumatera bisa terpacu," kata dia.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Golkar, Bobby Rizal mengatakan dalam mengatasi krisis kebutuhan listrik ke depan maka pemerintah diminta agar memprioritaskan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Bobby mengungkapkan, pemanfaatan gas dan apalagi minyak bumi sudah semakin mahal, karena cadangan makin terbatas.

Sementara saat ini, ekspor batu bara sedang menurun karena kondisi global. Sehingga saat ini adalah saat yang tepat untuk menjadikan batu bara sebagai energi primer listrik. "Batubara memiliki BPP (biaya pokok pengadaan) pembangkit yang terendah dibandingkan lainnya, sehingga bisa mempercepat pemenuhan kebutuhan daya listrik ke depan," katanya.

Selain itu, tambahnya, pemanfaatan batu bara juga bisa menjembatani pengembangan energi baru terbarukan yang memakan waktu lama. Pemerintah bisa memulai dengan membangun pembangkit batu bara sebelum nantinya diikuti pembangkit memakai energi baru dan terbarukan sesuai target bauran energi yang ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). "Untuk mencapai target bauran energi, maka harus dimulai dari batu bara dulu, karena kalau energi terbarukan masih mahal," tuturnya.

Terkait dengan kekhawatiran tingginya polusi akibat pembakaran batu bara, lanjutnya, bisa diatasi dengan teknologi mellaui analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang diawasi oleh pemerintah.

Related posts