Melukis Kembali Sayap Kupu-Kupu Yang Nyaris Punah

Kupu-kupu memainkan peran penting dalam keseimbangan eksosistem alam. Perannya sebagai herbivore akan menjadi konsumen tingkat pertama, kupu-kupu ini kelak akan menjadi makanan untuk penghuni rantai makanan tingkat berikutnya. Karena itu, melestarikan kupu-kupu merupakan hal yang sangat krusial dalam upaya mempertahankan keanekaragaman hayati

NERACA

Setiap kupu-kupu memiliki kekhasan masing-masing sehingga dibutuhkan kemampuan khusus untuk menentukan kupu-kupu tersebut termasuk dalam jenis apa. Namun, cara paling mudah mengenali kupu-kupu adalah dengan cara mengetahui pohon inang apa yang digunakan kupu-kupu untuk bertahan hidup.

“Salah satu sifat kupu-kupu adalah monofagus, yaitu setiap spesies kupu-kupu memiliki tanaman inang dan tanaman pangan tersendiri,” ujar Herawati Soekardi, pengelola Taman Kupu-Kupu Gita Persada, sekaligus juga Staf Pengajar di Fakultas Biologi Universitas Lampung.

Meski rata-rata hanya memiliki usia hidup selama 2 bulan, kupu-kupu dapat mencium pohon inang sebagai sumber makanannya untuk bertahan hidup dari jarak lima kilometer. Luar biasa bukan? Oleh karena itu, tidak adanya pohon inang berarti kepunahan bagi binatang indah itu. Ya, kesempatan kupu-kupu menjalani siklus hidupnya, mulai dari telur; ulat (Larva), kepompong (pupa) hingga kupu-kupu (imago) menjadi hilang. Hal itu sama saja tidak memberi kesempatan burung ataupun serangga makan kupu-kupu.

Fakta ini akhirnya mendorong Yayasan Sahabat Alam, dengan didukung oleh PT Pertamina (Persero), mengelola Taman Kupu-Kupu Gita Persada yang berada di Kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman, Gunung Betung, Lampung. Total ada 177 spesies kupu-kupu. Salah satunya adalah Troides Helena (Kupu-Kupu Raja).

“Tumbuhan berguna bagi kupu-kupu, baik sebagai tanaman inang untuk larva atau ulat hingga tanaman pakan untuk kupu-kupu dewasa. Bila terdapat kedua jenis tanaman tersebut maka tentu saja akan terbentuk habitat alami kupu-kupu. Di pusat konservasi kupu-kupu yang kami kelola, dihuni sekitar 177 hingga 200 spesies kupu-kupu,” ujar Herawati Soekardi, pengelola Taman Kupu-Kupu Gita Persada, sekaligus juga Staf Pengajar di Fakultas Biologi Universitas Lampung.

Salah satu hal menarik lainnya dari keberadaan pusat konservasi kupu-kupu adalah menginsipirasi lahirnya backyard conservation, yang terlebih dahulu populer di luar negeri. Upaya yang dilakukan ini diharapkan dapat memicu munculnya inisiasi masyarakat untuk mulai membuat pusat konservasi di halaman rumah.

“Caranya adalah dengan menanam tanaman pakan dan inang dari kupu-kupu. Di tingkat lokal sendiri, dapat ditemui tanaman yang dapat dimakan larva dan kupu-kupu. Salah satu cara lainnya untuk mengetahui adalah dengan melihat daun tumbuhan yang bolong-bolong. Hal itu menandai kalau tanaman tersebut menjadi sumber pakan ulat. Umumnya, kupu-kupu menyukai tanaman jeruk-jerukan, sirkaya, atau tumbuhan lamtoro, johar, kacang polong dan pete-petean,” ujar Herawati kembali.

Konservasi kupu-kupu merupakan upaya rekayasa habitat. Lantaran kupu-kupu tidak bisa hidup dikawasan hutan yang monokultur, semua daya dukun alam harus disiapkan guna berkembangnya siklus hidup kupu-kupu. Karena itu, rehabilitasi hanya bisa dilakukan dengan menanami beragam jenis pohon di hutan. Hal ini mendorong Pertamina untuk menanam 10 ribu tanaman yang disukai kupu-kupu, di Kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman.

“Kami sadar bahwa keberadaan hutan yang diisi oleh tanaman dan satwa yang beragam sangat penting bagi munculnya sumber hayati yang kaya. Hal ini selaras dengan misi utama Pertamina dalam menjaga kelestarian dan keanekaragaman hayati yang tentunya sejalan dengan program Sobat Bumi Pertamina, serta terkait dengan upaya pencapaian PROPER yang dilakukan oleh Pertamina. Hal inilah yang lantas mendasari Pertamina untuk mendukung penuh upaya konservasi lingkungan. Keberadaan hutan ini juga sangat penting dalam menyerap karbondioksida dan memasok oksigen,” ujar Direktur Umum Pertamina, Luhur Budi Djatmiko.

Beragam kisah menarik dalam upaya pelestarian kupu-kupu telah dikupas tuntas dalam sebuah seminar yang telah berlangsung satu hari dengan mengambil tema “Upaya Pelestarian Kupu-kupu”. Seminar berlangsung di Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada Hari Kamis, 14 Agustus 2014 yang lalu. Seminar, yang dibuka bagi umum tersebut menghadirkan pembicara kunci: Prof Y. Andi Trisyono dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pertamina, selaku pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian alam dan lingkungan, juga memberikan paparan dalam hal bagaimana upaya dan dukungan pihak swasta terhadap kegiatan tanggung jawab sosial dan komunitas di Indonesia

BERITA TERKAIT

Memilih Pemimpin Amanah, Jangan yang Hidup Mewah

  Oleh : Joko Aristanto, Pemerhati Ekonomi, Sosial dan Politik               Posisi ke-85 pada daftar 100 orang terkaya di…

Sikapi Tren Gagal Bayar - OJK Review Kembali Pemeringkat Obligasi

NERACA Jakarta – Banyaknya penerbitan obligasi korporasi yang gagal bayar, membuat reaksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk turun tangan dan…

Presiden Apresiasi Prestasi Difabel - Inspirasi Semangat Disabilitas Yang Pantang Menyerah

Keberadaan disabilitas masih belum sambut ramah oleh masyarakat dan bahkan institusi sekalipun, sehingga prilaku diskiriminatif masih saja ditemukan di lapangan.…

BERITA LAINNYA DI CSR

Kolaborasi Kitabisa.com dan Baznas - Gojek Gotong Royong “Bangun” Palu dan Donggala

Peduli atas nama kemanusiaan untuk korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala, Gojek bersama mitra driver dan konsumennya ikut ambil…

Peduli Dunia Pendidikan - PetroChina Salurkan Beasiswa Pelajar Berprestasi

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada dunia pendidikan, SKK Migas-PetroChina Internasional Jabung Ltd menyalurkan…

Bersama Rumah Zakat - Pertamina Tanam 10 Ribu Pohon Magrove di Aceh Besar

PT Pertamina (Persero) MOR I Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, bersama Rumah Zakat Aceh menanam…