Pemerintah Ubah Kuota BBM Subsidi - Melalui Perpu

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Chatib Basri kembali mengingatkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menjaga kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 46 juta kilo liter. "Undang-undangnya mengunci volume," katanya di Jakarta, Selasa (2/9).

Namun, dia mengatakan pemerintah bisa menambah dana subsidi BBM, dengan syarat melemahnya nilai tukar serta gejolak harga minyak(ICP). "Uangnya ada. Persoalannya bukan uang, tapi volumenya yang dipatok. Pembiayaan boleh naik," tuturnya.

Chatib menegaskan perubahan volume bisa dilakukan saat volume sudah jebol atau melampaui dari kuota. "Sekarang tidak bisa. Kenapa semuanya harus dikasih pada pemerintahan sekarang, tidak bisa," ujarnya

Dia menegaskan sampai saat ini belum ada yang mengajukan jika kuota bakal jebol. "Proyeksi debatable. Kalau mau datang, harus bawa bukti 46 terlampaui. Kalau iya, harus dilakukan pemerintahan baru," ucapnya.

Chatib menegaskan, pemerintah akan datang, bisa mengeluarkan Perpu, revisi APBN-P 2014. "Kalau darurat memungkinkan mengubah belanja, mengubah semuanya. Termasuk belanja," ungkapnya.

Seperti diketahui dalam rangka menjaga kuota BBM subsidi pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan BBM subsidi, tapi demikian belum lama berselang pemerintah membatalkan kebijakan itu. Menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melihat kesepakatan pemerintah dan PT Pertamina (Persero) membatalkan pembatasan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) 5 persen ke setiap SPBU tidak konsisten.

Ini adalah kebijakan yang memberi sinyal buruk pada publik dan dunia usaha. Akuntabilitas pengambilan keputusan tersebut juga kurang baik, karena berubah mendadak.

"Ini yang menurut saya sama-sama ke depan harus kita ubah. Jadi kalau memang dibatasi ya sudah, diumumkan resmi, tidak dadakan. Sekarang kan masyarakat jadi bingung," kata Ketua BPK Rizal Djalil.

Kendati demikian, BPK sepakat dengan Kementerian Keuangan bahwa belum ada ancaman terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P). Rizal optimis, kuota BBM bersubsidi yang dipatok 46 juta kiloliter cukup.

Cuma peluang Pertamina gagal mengendalikan konsumsi, bahkan jebol 1,53 juta kiloliter di akhir Desember nanti masih terbuka. Maka BPK mengingatkan agar pemerintah bersiap-siap.

"Mau tidak mau harus diselesaikan, pasti ada risiko harus dihadapi," kata Djalil.

Ke depan, bahkan kalau memang pemerintah hendak menaikkan BBM harus konsisten. Ini berkaca dalam proses pembatasan distribusi tempo hari.

"Yang penting masyarakat disiapkan, semua tokoh diajak dikomunikasikan bahwa ini persoalan kita bersama. Jangan minggu kemarin kebijakannya dibatasi tapi sekarang di lepas lagi," imbuhnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

Bijak Memaknai Iklan Pemerintah

  Oleh : Herlina Teturan, Mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta   Beberapa pekan yang lalu, masyarakat diramaikan oleh pro kontra “Iklan…

Pemerintah Harusnya Fokus Transportasi Umum

      NERACA   Jakarta – Pemerintah sedang berupaya untuk mengembangkan "start up" atau perusahaan rintisan berbasis aplikasi sebagai…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan Energi Terbarukan

  NERACA   Tangerang - Kampanye negatif berkait isu lingkungan masih menjadi tantangan utama pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru…

WTP Pemda Punya Korelasi Kinerja Pembangunan

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan laporan keuangan pemerintah daerah dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP)…

Taiwan Pamerkan Produk Unggulannya di Indonesia - Taiwan Excellence Day

      NERACA   Jakarta – Taiwan External and Trade Development Council (Taitra) menyelenggarakan Taiwan Excellence Day atau pameran…