Pilihan Bisnis Yang Mendatangkan Kebanggaan - Oleh: Prof Dr H. Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Adalah beraneka ragam jenis pekerjaan yang mendatangkan rezki. Orang boleh memilihnya, sesuai dengan kesenangannya masing-masing. Tentu, tidak semua orang sama pilihannya. Ada yang menyenangi berdagang, bertani, beternak, menjadi guru, menangkap ikan di laut, membuka restoran, dan masih banyak lagi jenis lainnya. Pilihan itu, agar sukses, maka harus disesuikan dengan minat, kesenangan, dan kalau bisa, mendatangkan kebanggaan. Pekerjaan yang dijalani dengan terpaksa maka tidak akan membuahkan hasil maksimal. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang membanggakan akan membuahkan keberhasilan.

Tatkala berkunjung ke Khartoum, Sudan yang lalu, saya diajak oleh Dr. Said, dosen Universitas Al Qur'anul Kariem ke rumah makan dipinggir sungai Niel. Restoran itu cukup bagus. Dr. Said rupanya ingin menggembirakan saya dengan memilihkan rumah makan yang istimewa. Itulah yang saya rasakan. Orang Sudan ini dalam hal cara menghormati tamu, mengajak makan bersama ke tempat yang menyenangkan. Pilihan itu bukan semata terletak pada jenis makanan yang disajikan, tetapi juga cara menyajikannya.

Begitu masuk restoran itu, saya merasakan ada sesuatu hal yang tidak sama dengan restoran lain yang pernah saya kunjungi. Pemilik restoran itu sedemikian agresif. Berpakaian rapi, lengkap dengan dasi, dia menunjukkan jenis menu makanan yang khas, sekalipun bahannya sama. Dia menjelaskan bahan sajian dan keistimewaannya masing-masing dengan begitu semangat. Pemilik restoran juga memberikan petunjuk kepada para pelayannya. Suasana serius dan penuh perhatian ditunjukkan olehnya kepada semua tamu langgapannya.

Ada dua hal yang saya dapatkan dari pelayanan di restoran itu. Pertama adalah terkait dengan pengaturan tat letak meja kursi makan. Para pelanggan, saya lihat dibuat puas dari tempat yang disediakan. Siapapun yang datang bisa memilih antara tempat yang ramai dan atau tempat yang bersuasana tenang tanpa gangguan orang lain. Demikian pula, hiasan di masing-masing bagian restoran itu dibuat sedemikian rupa agar orang betah dan menikmati duduk di tempat itu. Kedua, adalah sikap dan perilaku bersahabat yang ditunjukkan kepada semua tamunya.

Selesai menikmati makan malam di restiran itu, saya mencoba menanyakan beberapa hal terkait usahanya itu. Ternyata semua pertanyaan saya dijawab dengan serius dan menggembirakan, bahkan sampai pada persoalan yang bersifat pribadi. Setelah lulus perguruan tinggi di Mesir, dia tidak mau menggantungkan kehidupannya pada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri. Dia mengaku memiliki banyak alternatif yang bisa dipilih dalam berbisnis. Tetapi akhirnya, dia melihat bahwa bisnis restoran lebih menjanjikan.

Menurutnya, setidaknya dua hal yang seharusnya dijadikan pegangan agar bisnisnya maju. Pertama, harus bisa menarik simpatik dan menyenangkan orang. Pemilik restoran itu mengatakan bahwa, berbisnis pada hakekatnya adalah menjual jasa. Restoran adalah jasa menyediakan makanan kepada pelanggan. Mempelajari hal itu menurutnya tidak sulit. Orang menjadi senang datang ke restoran bukan semata-mata menu yang dijual, melainkan juga tergantung pada tempat yang disediakan maupun cara melayani tamu agar merasa puas. Bisa jadi, menunya mirip dengan yang dijual oleh restoran lain, tetapi ketika tempat dan sikap yang ditunjukkan berbeda, lebih menyenangkan, maka pelanggan akan memilihnya.

Sedangkan yang kedua, bisnis juga harus mendatangkan kebanggaan. Dia mengaku akan merasa senang dan bangga tatkala berhasil menjadikan orang lain senang, puas, dan menghargai apa yang diberikan olehnya. Baginya, tatkala berhasil memberikan layanan terbaik dan mendapatkan pengakuan, maka prestasi itulah yang mendatangkan kegembiraan dan sekaligus kebanggaan. Oleh karena itu, sebagai pemilik restoran selalu berusaha meningkatkan pelayanan. Besuk, kata dia, harus lebih baik dari hari ini. Demikian pula, bulan ini harus lebih baik dari bulan kemarin, dan seterusnya.

Sebelum saya pamit meninggalkan restoran itu, dia merasa senang tatkala berhasil menyenangkan orang melalui restorannya. Dia tidak merasa peduli dengan penilaian orang tentang relevansi profesi yang dikembangkan sekarang dengan bidang ilmu yang telah lama dipelajari. Baginya, yang terpenting di dalam hidup adalah berhasil menyenangkan orang lain, mendapatkan rizki halal, dan memperoleh kebanggaan dari bisnis yang dipilih dan berhasil dikembangkan. Restoran itu berukuran cukup besar, berada di pinggir sungai Niel, dan memang tampak menjadi pilihan banyak orang. Terakhir, ia mengatakan bahwa, hipun harus sukses dan berkah. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)

BERITA TERKAIT

Loop Arema Jadi Wahana Baru di Kota Malang

Loop Arema yang dibangun Telkomsel di kawasan Taman Singha Merjosari Kota Malang menjadi wahana baru untuk menyalurkan hobi bagi warga…

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Dianggap Rugikan Pihak Ketiga yang Bukan Debitur dalam Eksekusi - Dirut BRI dan Kurator Dipolisikan

Dianggap Rugikan Pihak Ketiga yang Bukan Debitur dalam Eksekusi Dirut BRI dan Kurator Dipolisikan NERACA Jakarta - Direktur Utama Bank…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Menatap Tahun Baru 2018: Semangat Persatuan Indonesia yang Lebih Baik

Menatap Tahun Baru 2018: Semangat Persatuan Indonesia yang Lebih Baik Oleh: Dwipajaya Prasta Narendra, aktif di Kajian Diskusi Demokrasi dan…

Menjaga Kepercayaan Perbankan BUMN

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Proses panjang 122 tahun BRI telah memberikan warna dalam…

Menjaga Optimisme untuk Pertumbuhan 5,4 % Pada 2018

Oleh: Satyagraha Pencapaian angka pertumbuhan ekonomi hingga triwulan III-2017 secara akumulatif sebesar 5,03 persen menunjukan adanya tanda-tanda perbaikan dalam mesin…