Korupsi dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Pertumbuhan ekonomi terkait erat dengan tingkat korupsi di suatu negara. Ada hasil kajian di suatu negara maju yang menyebutkan bahwa jika tingkat korupsi naik 1% akan menyebabkan pertumbuhan ekonominya turun 0.72%. Bagaimana nasib korupsi di negara berkembang? Berdasarkan lembaga Transparency International (TI) untuk CPI (Corruption Perceptions Index) rilis 2013 pada penilaian terhadap 175 negara di dunia, nilai Denmark tertinggi (terbersih) dengan skor 90, sementara Somalia terendah (terkorup) dengan skor 8 (0 paling korup; 100 terbersih). Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Berdasarkan TI, Indonesia berada di ranking 114 dan skor 32 (kalau di kampus ini artinya tak lulus). Skor korupsi Indonesia sama dengan negara Mesir, dan masih di bawah Thailand dan Ethiopia.

Dalam ekonomi, apakah perlambatan pertumbuhan Indonesia kini terkait dengan praktik korupsi? Adalah fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sedang melambat. Menurut lembaga peringkat internasional Fitch, ada 4 poin minus kinerja perekonomian Indonesia era Hatta Rajasa selaku Menko Perekonomian RI, yaitu lingkungan bisnis yang lemah secara struktural; infrastruktur yang buruk; pemerintahan yang lemah (menghambat potensi untuk pengembangan); korupsi yang merajalela. Artinya, masih ada kaitan erat antara praktek korupsi yang merajalela dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Agar lebih objektif, lembaga seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan BPS (Badan Pusat Statistik) diharapkan mampu untuk segera mengadakan perbaikan dalam hal ini. Terobosan nyata yang jelas serta transparan perlu diadakan dalam rangka menerbitkan suatu indeks kuantitatif yang handal, transparan dan terukur perihal kondisi korupsi di Indonesia. “We can’t control things we can’t measure.”

Ada yang menilai bahwa tingkat korupsi terkait dengan kondisi kemiskinan. Boleh jadi namun itu lebih cenderung dari sisi akibat. Yang lebih tepat adalah perbaikan di sisi sebab, yaitu lemahnya manajemen sistem pengawasan kinerja dalam sistem perekonomian Indonesia. Tak heran jika Indonesia adalah perekonomian berbiaya tinggi.

Reduksi praktk korupsi berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi negara. Namun inisiatif ini mengharuskan pemerintah meningkatkan aspek transparansi terutama dalam hal pengukuran kinerja dan supremasi hukum. Lebih jauh lagi, inisiatif seperti ini bukan tanpa risiko bagi negara, sebab “total transparency risks country's stability.” (Toba Beta). Sudah rahasia umum bahwa sistem perekonomian Indonesia memang korup. Pertanyaan relevan adalah: “langkah nyata apa yang harus dilakukan Jokowi-JK terkait hal ini paling tidak dalam 100 hari pertama pemerintahan baru? Inisiatif pemberantasan korupsi yang nyata itu bagai pedang bermata dua: di satu sisi dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain berpotensi besar mengurangi stabilitas negara (“stir things up”).

BERITA TERKAIT

IMF: Perang Dagang AS-China Tingkatkan Risiko - PENGUSAHA KHAWATIR PERLAMBATAN EKONOMI

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) mengingatkan, kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan perang dagang dengan China dapat meningkatkan…

Bahayakah Ekonomi Bebas?

Kebebasan ekonomi digambarkan sebagai kebebasan warga di satu negara untuk bekerja, berproduksi, mengonsumsi, dan melakukan investasi dengan cara yang dia…

Layanan BOLT Hadir di Serang dan Cilegon

Dalam rangka perluas penetrasi pasar, BOLT sebagai pionir operator 4G-LTE di Indonesia kembali memperluas jangkauan jaringannya ke kota-kota baru. Dua…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemudik Kampungan

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi Neraca   Meski klaim pemerintah bahwa angka kecelakaan mudik tahun ini menurun cukup…

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…