Rusia Berharap RI Tingkatkan Ekspor Pertanian

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan pemerintah Rusia berharap Indonesia meningkatkan ekspor produk-produk pertanian, daging, ikan, susu, dan sayuran ke pasar Rusia. Harapan ini merupakan imbas dari dilarangnya produk-produk pertanian dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Norwegia, Kanada, dan Australia ke Rusia. “Akibat pelarangan itu, Rusia meminta perusahaan dagang Indonesia memasok semua produk pertanian dan produk lainnya, termasuk produk yang berasal dari sekitar Indonesia," tegas Lutfi dalam keterangan yang diterima, akhir pekan kemarin.

Mendag Lutfi melakukan pertemuan dengan Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Alexey Ulyukaev, di sela-sela kegiatan pertemuan ASEAN Economic Ministers (AEM) di Nay Pyi Taw, Myanmar. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut pertemuan sebelumnya kedua menteri tersebut pada rangkaian Pertemuan G-20, Juli 2014 lalu di Sydney, Australia.

Pertemuan tersebut ditindaklanjuti secara langsung dalam pertemuan bisnis antara para pengusaha dari Indonesia dan Rusia. Delegasi pengusaha Indonesia dihadiri oleh wakil Kadin, Indonesia Eximbank, Garuda Indonesia Airways, serta pengusaha dari sektor minyak sawit, karet, dan kopi yang merupakan ekspor potensial Indonesia ke Rusia.

Kedua negara sepakat menjadikan pertemuan ini sebagai payung dari peningkatan diplomasi dagang bagi kedua negara dan mengurangi berbagai hambatan agar dapat meningkatkan daya saing.“Pertemuan ini akan menjadi kerangka keterlibatan langsung para pengusaha kedua negara untuk lebih meningkatkan hubungan dagang yang akan difasilitasi oleh kedua pemerintah,” demikian ditekankan Lutfi.

Terkait hambatan perdagangan tersebut, Lutfi menyatakan Indonesia mengajukan agar pihak Rusia dapat meningkatkan impor produk-produk ekspor utama Indonesia dan menekankan agar pihak Rusia dapat segera mengurangi hambatan perdagangan dari Indonesia. "Khususnya produk perikanan, minyak sawit, dan lain-lainnya,” lanjut Lufti.

Dalam pertemuan itu, Alexey Ulyukaev menyampaikan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan pesawat-pesawat hasil produk perusahaan Rusia untuk mengembangkan jaringan transportasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia, khususnya daerah-daerah yang sulit untuk dijangkau dengan transportasi darat. Sementara pihak Rusia akan mengembangkan peralatan dan perawatan pesawat di Indonesia.

Selama Januari-Mei, total perdagangan antara kedua negara mencapai sekitar US$ 1,1 miliar, atau turun 40,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 1,8 miliar. Neraca perdagangan Indonesia-Rusia pada 2014 (Jan-Mei) menunjukkan surplus bagi Rusia sebesar US$ 303,4 juta.

Dirjen Kerja sama Perdagangan Internasional Kemendag Bachrul Chairi menyatakan, Rusia merupakan salah satu negara mitra dagang potensial bagi Indonesia. Pada 2013, Rusia menduduki urutan ke-29 sebagai negara tujuan ekspor Indonesia. Pertumbuhan kinerja perdagangan bilateral antara kedua negara selama 5 tahun terakhir (2009-2013) rata-rata sebesar 45,1% per tahun.

"Ekspor utama Indonesia ke Rusia meliputi produk minyak sawit dan turunannya, alas kaki, kopi, kopra, dan karet alam pada tahun 2013. Sementara itu, impor utama Indonesia dari Rusia mencakup produk turunan dari besi dan baja, suku cadang pesawat, peralatan militer, asbes, serta gandum," katanya.

Pada tingkat ASEAN, kinerja perdagangan Indonesia dengan Rusia pada tahun 2013 menduduki urutan ke-3 dengan nilai total sebesar US$ 2,96 miliar. Posisi pertama dan kedua ditempati oleh Vietnam (US$ 3,97 miliar) dan Thailand (US$ 3,36 miliar).

Kerjasama ASEAN

Tak hanya dari Indonesia, pemerintah Rusia dalam hal ini diwakili oleh Menteri pembangunan ekonomi Rusia Ulyukayev menyerukan kepada negara-negara ASEAN untuk meningkatkan ekspor mereka ke Rusia.

Demikian laporan RIA Novosti, pemerintah Rusia menyebutkan akan menyambut baik ekspor-ekspor produk pertanian dari Negara-negara ASEAN. “Saya ingin menarik perhatian Anda sekalian atas kesempatan yang hadir di hadapan negara-negara ASEAN dalam hal ekspor produk-produk pertanian, yaitu buah-buahan dan sayur mayur. Kami sudah mengenal tingginya standar produksi pertanian dari negara-negara Anda dan kami akan menyambut baik ekspor produk-produk makanan ke Rusia, seperti seafood, kacang-kacangan, daging sapi, babi, ayam, sebagai tambahan bagi buah-buahan dan sayur mayur,” kata Ulyukayev dalam pertemuan di Myanmar.

Ulyukayev berada di Myanmar bersama menteri ekonomi negara-negara ASEAN dalam pertemuan Komosi Internasional Rusia-Myanmar untuk kerjasama ekonomi dan perdagangan. Ulyukayev menekankan meningkatnya hubungan ekonomi antara Rusia dengan ASEAN.

Tahun lalu perdagangan antara Rusia-ASEAN mencapai angka $17,5 miliar, dan tahun ini angka tersebut telah terlampaui. Diharapkan nilai perdagangan tahun ini akan meningkat 6% dari angka tahun lalau.

Ulyukayev juga menekankan pada peningkatan investasi Rusia di negara-negara ASEAN, dengan rencana investasi ke Vietnam yang mencapai $20 miliar dan ke Indonesia yang akan mencapai $7 miliar.

Sebelumnya, terkait dengan ekspor produk pertanian, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan bahwa setidaknya ada enam komoditas ekspor yang akan meningkat nilai dan volumenya pada semester II tahun 2014. Keenam komoditasnya antara lain otomotif, kopi, kakao, udang, furnitur dan batubara. Untuk batubara, Bayu mengatakan dengan dikeluarkannya ketentuan ekspor batubara dan produk batubara yang tertera dalam Permendag No. 39/M-DAG/PER/7/2014 dan akan mulai berlaku pada 1 September 2014, maka nilai ekspor akan meningkat.

“Dengan dikeluarkannya Permendag tentang ketentuan ekspor batu bara dan produk batubara. Saya rasa nilai ekspor batubara akan meningkat sekitar 17,19% dan volume nya diperkirakan juga akan meningkat sekitar 16,52%,” ungkap Bayu.

Untuk produk otomotif, Bayu menjelaskan yang menjadi faktor pendorong adanya peningkatan ekspor adalah tren permintaan konsumen dunia terhadap kendaraan cukup baik. Selain itu, Indonesia juga merupakan output pabrikan otomotif. Tak hanya itu, saat ini juga telah adanya perubahan investasi dan output pabrikan otomotif di ASEAN dari yang awalnya Thailand, saat ini mulai mengarah ke Indonesia.

BERITA TERKAIT

Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin - Tingkatkan Daya Saing

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…

HM Sampoerna Perkuat Jaringan Kemitraan - Tingkatkan Daya Saing Agro Industri

NERACA Jakarta - Dalam rangka meningkatkan daya saing sektor agro industri nasional, PT HM Sampoerna Tbk sebagai produsen rokok terus…

UKM Berharap Ada Aturan Baku e-Commerce

Sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah berharap pemerintah segera membuat aturan baku perdagangan barang/jasa secara elektronik (sistem daring) demi…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemudahan Impor Tujuan Ekspor - Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Tingkatkan Daya Saing - Standar Keamanan Produk Perluas Ekspor Mamin

NERACA Jakarta – Pengembangan inovasi dan penerapan standar keamanan produk mampu memacu daya saing industri makanan dan minuman (mamin) nasional…

Perdagangan Bilateral - Indonesia-Australia Jajaki Tarif BM Nol Persen

NERACA Jakarta – Indonesia dan Australia tengah menjajaki kerja sama bilateral untuk pemberlakuan tarif bea masuk nol persen (0%) terhadap…