Rekonsiliasi Kemajemukan Indonesia - Oleh: Rafly Kande, Anggota DPD Terpilih Periode 2014-2019

Kesatuan, bukan tidak mendasar bahwa penamaan atas “Kesatuan” merupakan sebuah konsep penyetaraan yang sangat bersahaja dalam bernegara.

Keberagaman Indonesia yang diikat dalam Kebhinekaan, menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya Negara di dunia yang memiliki nilai kesatuan tinggi dalam perbedaan culture, budaya dan ras. Cenderung persatuan beberapa Negara lain terbentuk atas penaklukan oleh pendiri bangsa sebelumnya hingga akhirnya terbentuk sebuah negara, namun tidak pada Indonesia.

Indonesia yang terbentuk atas kenuranian yang sama sebagai pemilih daerah yang terus dijajah oleh para penakluk memberi nilai “plus” untuk Indonesia sebagai Negara yang sangat santun dan toleransi. Sebagai Bapak Pendiri Bangsa, Ir. Soekarno menjadi sosok yang sangat ideal dalam menyatukan perbedaan. Siapa sangka? Perbedaan yang menyekat keberagaman budaya, warna kulit, ras dan perbedaan Kerajaan/Pemerintahan pada saat itu mampu dipersatukan dalam satu unsur kebangsaan hingga terbentuknya Indonesia. Hal ini merupakan anugerah yang tak terhingga.

Melirik beberapa Negara di belahan dunia, seperti Jepang merupakan keturunan Suku Ainu yang dahulu mendiami pulau Hokaido, mereka merupakan satu kesukuan dari daratan China kuno di beberapa abad sebelum masehi yang mendiami Pulau Hokaido. Timur Tengah sendiri dengan keekstrimisnya yang suka berperang merupakan ras yang sama meski berbeda kabilah. Afrika dengan keturunan asli manusianya yang berkulit hitam berkumpul pada satu daerah yakni Afrika. Meski telah menyebar ke beberapa negara, identitas Afrika terlihat jelas melekat pada diri mereka.

Menelisik Indonesia, sebuah negara terbesar di Asia Tenggara. Indonesia merupakan kumpulan ragam etnik dan ras yang menjadi satu dalam kebhinekaan. Dari etnik kulit putih sampai hitam serta ras yang hidung mancung sampai pesek, keseluruhnnya mendiami Indonesia. negara yang telah 69 tahun merdeka ini konon dalam pengetahuan antropologi merupakan imigran dari China Selatan yang dahulu hidup berpindah-pindah hingga memilih Indonesia sebagai daerah akhir. Di balik itu, beberapa daerah di Indonesia ternyata didiami oleh ras yang berbeda dan tetap santun dalam berbudaya.

Sebagai negara yang berbatas dengan selat yang menjadi perlintasan dunia yakni selat Malaka. Ternyata para pedagang dengan keberagaman bangsa dunia, sebagian memilih tinggal di Indonesia dengan perbedaan dalam kesantunan yang bersahaja. Sejak saat itulah, mungkin sebuah nama “persatuan” lahir. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa “persatuan” negeri ini lahir dari rahim perbedaan.

Menerawang Indonesia 69 tahun, 17 Agustus 2014 menjadikan Indonesia tentu semakin dewasa dalam segi usia, namun belum dari sisi budaya. Tampaknya, semakin tua negeri ini, nilai budaya semakin luntur karena tua-nya bahkan lumpuh untuk sebagian daerah.

Banyak putra putri Indonesia hanya mengetahui asal kedaerahannya, namun tidak mengetahui nilai budaya yang dimilikinya. Isue penghapusan Agama dan suku yang telah di hapus dari KTP ternyata membuat nilai kebudayaan Indonesia semakin terkikis dalam kurun waktu yang semakin tua. Padahal, dahulu sejak Pemerintahan Presiden Bung Karno sampai Pak Harto, nilai kesukuan masih tercantum. Nasionalisme yang digembar-gemborkan ternyata menyimpan efek samping. Sepantasnya Indonesia dibangun atas nilai Indonesia, bukan nilai ke barat-barat-an. Kekayaan Indonesia yang kabarnya kian hadis ternyata tak hanya merupakan hasil bumi, namu juga kekayaan budaya kian hari hilang tergadai oleh kapitalisme yang berlebihan.

Kini, Indonesia 69 Tahun, menapaki jejak baru dengan pemimpin yang juga akan baru serta Dewan Pimpinan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang baru mendapat tugas dan mandat nyata bahwa Indonesia haruslah dibangun dengan Ke-Indonesian yang berbudaya pula, bukan dengan nilai barat. Kekayaan Negeri Indonesia yang lahir sejak awal adalah warisan budaya. Ditinjau dari segi pariwisata, Indonesiapun sebagai Negara Maritim amatlah berpeluang besar menjadi Negara seribu budaya nyata.

Indonesia masa depan yang diharapkan, tentu tidak hanya merakyat dan berdaulat namun juga berbudaya dengan kebudayaan Indonesia, identitas Ke-Indonesia hendaknya menjadi prioritas dalam berbangsa. Kedaulatan Negara tentu tidak hanya terletak pada ujung militer namun pada budaya yang kita miliki. Sadar atau tidak, Indonesia Merdeka karena Diplomasi, bukan karena Perang. Sadar juga bahwa kita mempunyai kemampuan berdiplomasi yang baik dan ini merupakan budaya kesantuan yang menjadi warisan pada pendahulu dan harus terus diwariskan untuk generasi selanjutnya, Generasi Muda Indonesia. (haluankepri.com)

BERITA TERKAIT

Ekspor Sumsel Januari 2019 Turun 17,24 Persen

Ekspor Sumsel Januari 2019 Turun 17,24 Persen NERACA Palembang - Nilai ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) melorot pada Januari 2019 sebesar…

Pengamat: Seleksi Cakim MK Oleh DPR Hanya Setengah Hati

Pengamat: Seleksi Cakim MK Oleh DPR Hanya Setengah Hati NERACA Jakarta - Direktur Pusat Pengkajian Pancasila dan Konstitusi (PUSKAPSI) Fakultas…

Produk Indonesia Jelajah Lebih dari 100 Negara

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengaku senang karena ada produk dengan merek asli Indonesia yang telah "menjajah" lebih dari…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Prasyarat Kebijakan Penurunan Tarif Pajak

  Oleh: Netadea Aprina, Staf Direktorat Jenderal Pajak *)   Di tengah tahun politik, kebijakan penurunan tarif pajak untuk meningkatkan…

Upaya Kandidat Menyalip di Tikungan

  Oleh : Izul Kurniawan, Pengamat Sosial Kemasyarakatan             Ibarat balapan MotoGP, Tuan Guru Bajang (TGB) menilai bahwa Jokowi mampu…

Mewaspadai Utang Luar Negeri BUMN

Oleh: Awalil Rizky, Pokja Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Defisit Transaksi Berjalan makin membesar dan menjadi sumber kerentanan sektor…