Industri Pasar Modal RI Masih Ketinggalan

NERACA

Jakarta - Persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, sudah didepan mata. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku usaha lantaran kesiapana dan daya saing masih lemah. Hal inipulah yang dirasakan industri pasar modal dan tidak hanya sektor perbankan. Ironisnya, ditengah sibuknya pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan infrastruktur pasar modal dan kapitalisasi pasar saham yang terus tumbuh hingga Rp 5.200 triliun, rupanya kepemilikan saham masih di dominasi investor asing.

Oleh karena itu, menurut pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani, berbagai fasilitas dan kemajuan infrastruktur pasar modal belum menjadi kebanggaan bila peran investor lokal di bursa masih sedikit. Bahkan dirinya menilai, pasar modal Indonesia ternyata belum siap menyongsong ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pasalnya, perangkat seperti perundang-undangan belum memungkinkan. Di antara hambatan itu, masalah cross border offering atau penawaran saham publik lintas negara masih terhambat karena ketentuan mengenai profesi penunjang belum ada, bahkan di level ASEAN,”Sebelum memasuki MEA, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus menyiapkan regulasi terlebih dahulu. Masyarakat ekonomi ini awalnya konsepnya kerja sama, tapi akhirnya yang terjadi adalah persaingan. Bisa dilakukan karena terbentur regulasi, bisa terjadi bilateral antara negara-negara yang siap terlebih dahulu,” kata dia kepada Neraca di Jakarta, Kamis (28/8).

Menurut dia, Indonesia memang memiliki potensi untuk menjadi pasar yang besar selama produktivitas yang menjadi fondasi sudah cukup kuat. Sehingga pasar modal Indonesia masih dianggap menjadi pasar bagi investasi asing yang merajai pasar modal di Indonesia yang hampir mencapai 60 sampai 70 persen investor asing di pasar modal Indonesia.“Market Mekanisme kita masih dinikmati oleh investor asing sehingga memerlukan penguatan bagi investor lokal supaya dapat bersaing dengan inebstor asing tersebut,” ujar Agus irfani.

Dirinya menambahkan, investor asing perlu dibatasi, jangan dikurangi sehingga investor lokal bisa mengimbangi maraknya investor asing di pasar modal. Apabila dikurangi akan bisa mengganggu stabilitas pasar modal di Indonesia. Pasalnya, pasar modal Indonesia masih bergantung kepada investasi dari asing. Oleh karenanya, pasar modal Indonesia harus disemarakkan oleh investasi lokal sehingga bisa siap dalam persaingan menghadapi MEA nanti.

Dia pun menjelaskan, jumlah kapitalisasi pasar modal di Indonesia juga masih rendah, tercermin dari rendahnya jumlah perusahaan yang terdaftar di bursa. Jangankan bersaing secara global, untuk menghadapi persaingan modal di tingkat ASEAN saja BEI masih akan kewalahan,”Pemerintah harus segera membuat regulasi baru yang mendorong perusahaan agar berani listing di BEI. Selain itu Pemerintah harus tegas membatasi kepemilikan modal asing di bursa. Hal yang tidak kalah penting adalah pendalaman sektor keuangan agar seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi di bursa,” ungkap Agus Irfani.

Selain itu, kata Agus Irfani, perlu adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) sehingga mampu bersaing dalam hadapi MEA. Kemudian diperlukan good governance yang kuat dan baik dari pemangku kepentingan seperti otoritas pasar modal dan OJK.“OJK sendiri jangan hanya menjadi pengawas saja, namun harus menjadi suatu lembaga kontrol bagi perusahaan yang akan go public dalam pasar modal, seperti contohnya mengontrol perusahaan akan bersiap diri untuk go public,” tandas dia.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito penah bilang, banyak sisi positif yang bisa didapat dari MEA. Menurutnya, pasar bebas bisa dijadikan sebuah peluang positif bagi Indonesia,”Sisi positifnya bisa memasarkan produk Indonesia ke ASEAN. Tidak perlu takut, bagaimana kita memanfaatkan diri untuk pasar ASEAN," ujarnya.

Bahkan dirinya bersama OJK berjanji akan membantu para pengusaha pada pasar modal. Meski demikian, ada pula yang harus disiapkan sendiri oleh pengusaha,”Ya contohnya itu seperti kesiapan Sumber daya manusianya supaya bisa bersaing di ASEAN. Hal ini berlaku untuk pialang dan Manajer investasi," jelasnya.

Dirinya berharap, Indonesia bisa lebih maju dan lebih sejahtera, karena itu akan menjamin perkembangan pemodal lebih cepat dan keamanan terjamin. "Stabilitas terjamin. Kepastian Pasar, stabilitas, sosial politik, dan pertumbuhan ekonomi itu rumus pertumbuhan pasar modal yang baik," tandasnya. (mohar, bani)

BERITA TERKAIT

Indonesia Industrial Summit 2019 - Sektor Manufaktur RI Dipandang Siap Menerapkan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah peta jalan yang diterapkan untuk mencapai tujuan Indonesia menjadi negara 10 besar…

Terdistorsinya Ruang Pasar yang Luas

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Ruang pasar (market space) adalah ruang "tanpa batas" secara ketika the world…

Tren IHSG Menguat Terbatas - Pelaku Pasar Menaruh Asa Presiden Terpilih

NERACA Jakarta – Pasca pemilihan umum (Pemilu) Presiden dengan diumumkannya presinden terpilih nanti, pelaku pasar modal menaruh asa bisa membawa…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Investor Tidak Perlu Khawatirkan Situasi Politik

NERACA Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengimbau investor dan dunia usaha di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan situasi politik saat…

HASIL SEMENTARA PASLON JOKOWI-MA’RUF AMIN UNGGUL - Pemilu Aman, Citra Indonesia Makin Baik

Jakarta-Hingga Pk. 16.00 kemarin (17/4) proses perhitungan cepat (Quick Qunt) dari empat lembaga survei menunjukkan paslon Jokowi-Ma’ruf Amin untuk sementara…

Akuisisi Bank Permata Sejalan Aturan "Single Presence Policy"

NERACA Jakarta – Tren maraknya perbankan merger ataupun diakuisisi perbankan asing, tentunya memberikan gambaran ketatnya persaingan industri perbankan dalam negeri.…