Menanti Gebrakan Nahkoda Baru Untuk Garuda - Keluar Dari Beban Utang dan Rugi

NERACA

Jakarta – Dibalik agresifnya ekspansi PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menambah armada baru dan membuka rute-rute potensial, ternyata performance keuangan maskapai penerbangan plat merah ini masih rapuh dengan segudang utang dan penurunan kinerja keuangan. Maka memasuki pergantian dan pemilihan direktur utama baru Garuda, pemegang saham berharap ada perubahan mendasar.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta pada 1 September 2014, Garuda harus melaporkan upaya-upaya untuk menangani masalah tersebut, “Saya minta Senin (1 September 2014) jam 12 harus ada usulan direksi sekarang selamatkan keadaan sulit,”ujarnya di Jakarta, Kamis (28/8).

Dahlan menyebutkan, dalam upaya penyelamatan Garuda dari utang yang ditanggungnya, harus diselesaikan melalui RUPSLB. Dalam agenda tersebut sekaligus membahas dan menentukan siapa calon yang akan menggantikan Emirsyah Satar. "Harus ada RUPSLB, karena kerugian Garuda sangat besar, termasuk direksi masuk satu paket," tukas dia.

Sebelumnya, emiten BUMN di sektor penerbangan, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatat kenaikan jumlah utang (liabilitas) sebesar 31,09% pada akhir tahun 2013 menjadi US$1,84 miliar, atau setara Rp21,6 triliun (kurs Rp11.725 per dollar AS). Sebagai perbandingan, akhir tahun 2012, total liabilitas perusahaan mencapai US$ 1,4 miliar.

Utang tersebut, antara lain berasal dari penerbitan obligasi perusahaan, pinjaman jangka panjang sindikasi III, pinjaman jangka panjang Bank Permata, dan pinjaman jangka pandang BRI. Lalu dari pinjaman jangka panjang Bank Panin dan pinjaman jangka panjang sindikasi BCA Club Deal.

Asal tahu saja, derita rugi yang masih membebani keuangan PT Garuda Indonesia Tbk rupanya memberikan dampak signifikan terhadap rating perseroan. Pasalnya, Fitch Rating sebagai lembaga pemeringkat internasional memberikan sinyal lampu merah bagi emiten plat merah bidang maskapai penerbangan ini.

Bahkan Fitch Rating memperkirakan, kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk dua sampai tiga tahun kedepan masih tetap lemah. Kendatipun demikian, Fitch masih menyematkan Outlook Stabil atas peringkat Garuda ini didukung oleh pandangan Fitch bahwa meskipun posisi likuiditas Garuda lemah, perusahaan akan dapat menjaga posisi likuiditas yang cukup dalam waktu 12 bulan ke depan untuk mencukupi utang jangka pendek.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Emirsyah Satar pernah bilang, guna menunjang ekspansi bisnis Garuda kedepan diperlukan modal besar dan pendanaan ini diharapkan melalui suntikan modal pemegang saham, “Ke depan sedang perlu permodalan, nanti kami akan membicarakan kepada pemegang saham bahwa ke depan mesti ada penambahan modal lagi. Karena bila tidak ada modal, perusahaan tidak akan mampu melakukan pengembangan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, Garuda akan menyusun strategi agar lebih fokuskan dan lebih baik. Pasalnya, saat ini Garuda menghadapi persaingan yang cukup tinggi. Kemudian untuk menghadapi kondisi penerbangan yang dinilai berpengaruh pada kinerja keuangan, perseroan akan memfokuskan terhadap rute profit, perkuat domestik nasional, sales marketing yang lebih agresif dan mengoptimalkan utilisasi aset, serta meningkatkan produktivitas pegawai. (bani)

BERITA TERKAIT

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

Lunasi Utang - Taksi Express Jual Tanah Rp 112,15 Miliar

NERACA Jakarta - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Ekspres Jakarta Jaya (EJJ) telah…

Sektor Otomotif - Realisasi Kendaraan Listrik Hemat Rp798 Triliun dari Impor BBM

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan regulasi terkait penggunaan kendaraan motor listrik yang dapat menghemat sekitar Rp798 triliun dari impor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Penetrasi Pasar di Luar Jawa - Mega Perintis Siapkan Capex Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta – Rencanakan membuka 20 gerai baru tahun ini guna memenuhi target penjualan sebesar 14%-15% menjadi Rp 509 miliar,…

Lagi, Aperni Jual Kapal Tidak Produkif

Dinilai sudah tidak lagi produktif, PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL) resmi mendivestasi aset perusahaan berupa kapal, yaitu kapal…

Rig Tender dan Petrus Sepakat Berdamai

Perkara hukum antara PT Rig Tenders Indonesia Tbk (RIGS) dengan PT Petrus Indonesia akhirnya menemui kata sepakat untuk berdamai. Dimana…