RI Menuju Produsen Rumput Laut Terbesar Dunia - Integrasi Hulu-Hilir Akuakultur

NERACA

Jakarta-Rumput laut saat ini adalah salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya baik sebagai salah satu komoditas industrialisasi tetapi juga karena volume produksinya yang cukup besar. Produksi rumput laut Indonesia tahun 2013, menurut data sementara, adalah sebesar 7,68 juta ton meningkat lebih dari 2 juta ton dari sebelumnya pada tahun 2012 sebesar 5,73 ton.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) terus mendorong pengembangan budidaya rumput laut melalui kebijakan industrialisasi seiring meningkatnya permintaan dunia terhadap komoditas rumput laut yang cenderung meningkat,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela pelaksanaan kegiatan Indonesian Aquaculture (Indoaqua) 2014, di Jakarta, kemarin.

Slamet menambahkan Indonesia saat ini menuju produsen rumput laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Hal ini di dukung dengan potensi pengembangan lahan budidaya rumput laut yang masih terbuka lebar, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. “Indonesia bagian timur dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai sentra rumput laut, seperti di Nusa Tenggara Timut, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara dan juga di wilayah Kalimantan seperti di Nunukan dan Tarakan,” tambah Slamet.

Kebijakan Industrialisasi untuk komoditas rumput laut sangat tepat untuk mengembangkan komoditas ini baik sari segi peningkatan produksi maupun memberi nilai tambah sehingga rumput laut dari Indonesia mampu bersaing di pasar global. “Saat ini yang diperlukan adalah meningkatkan dukungan sector pengolahan terhadap usaha budidaya rumput laut. Dukungan yang diperlukan antara lain di dirikannya unit pengolahan rumput laut di sentra-sentra budidaya rumput laut, sehingga mempermudah pemasaran dan menurunkan biaya transportasi. Hal ini akan selaras dengan kebijakan industrialisasi yang mengintegrasikan sector hulu yaitu budidaya dengan sector hilir yaitu pengolahan,” ungkap Slamet.

Dari sektor hulu atau budidaya, saat ini telah dikembangkan bibit rumput laut kultur jaringan (kuljar) hasil kerjasama DJPB dan SEAMEO BIOTROP Bogor. “Dengan keunggulan yang dimiliki rumput laut kultur jaringan (kuljar) ini, kendala yang selama ini dihadapi dalam berbudidaya rumput laut seperti kendala lokasi, salinitas, dan curah hujan, dapat diatasi sehingga mampu mendorong peningkatan produksi rumput laut nasional khususnya jenis E. Cottonii,” papar Slamet.

Dengan bibit rumput laut kuljar, pengembangan lokasi budidaya rumput laut melalui kegiatan ekstensifikasi dapat dilakukan. “Penguasaan teknologi dalam hal peningkatan kualitas bibit rumput laut ini perlu di dukung dengan pengembangan kebun bibit rumput laut kultur jaringan sehingga masyarakat tidak mengambil bibit dari hasil pembudidayaannya tetapi dari pembibit rumput laut yang memang focus pada usaha pembibitan. Sehingga kualitas bibit tetap terjaga dan ketersediaannya berkelanjutan. Hal ini pun akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja karena membuka lapangan pekerjaan sebagai penghasil bibit rumput laut yang berkualitas,” kata Slamet.

Slamet menambahkan bahwa Industrialisasi rumput laut telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. “Melalui kebijakan industrialisasi, integrasi hulu dan hilir akan dapat dilakukan dengan mudah karena pembudidaya rumput laut akan dapat dengan mudah memasarkan produknya, sementara pabrik pengolah akan mudah mendapatkan bahan baku," pungkas Slamet.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tingkatkan Daya Saing, KKP Dorong Digitalisasi UMKM Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kelautan dan perikanan untuk memanfaatkan…

API Sarankan Pemerintah Tambah Sekolah Industri Tekstil

NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan agar pemerintah menambah jumlah sekolah dan lembaga pendidikan untuk mencetak sumber daya…

Energi - Jaga Efisiensi Sektor Migas, Maksimalkan Industri Dalam Negeri

NERACA Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama PT Pertamina Hulu…