Pertamina Bakal Kelola 11 Proyek Geothermal

NERACA

Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta agar PT Pertamina (Persero) dapat menambah dua proyek geothermal atau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yaitu ada di Kamojang, Jawa Barat dan Seulawah yang ada di Aceh. Sebelumnya, Pertamina telah menjalankan 9 proyek geothermal yang telah berjalan. Dengan ditambah dua proyek lagi, kata Dahlan, maka kini Pertamina mengelola 11 proyek geothermal. “Saat ini Pertamina sedang pembangunan 9 proyek, ditambah dua maka jumlah PLTP Pertamina menjadi 11 proyek,” kata Dahlan di Jakarta, Kamis (28/8).

Menurut Dahlan, penambahan dua proyek PLTP tersebut setelah mendapatkan izin kehutanan yang direkomendasikan Pemda setempat setelah disahkannya UU Panas Bumi (Geothermal) yang baru pada 26 Agustus 2014. “Selama ini Pemda setempat agak sulit mengerluarkan izin rekomendasi karena takut seperti kasus Bupati Bogor soal hutan alam. Karena UU Geothermal yang baru sudah ada, maka rekomendasi yang lama kita cabut dan diproses perizinan sesuai dengan UU yang baru,” tegas Dahlan.

Khusus untuk geothermal Seulawah, Aceh, Dahlan yang juga mantan Dirut PT PLN ini meminta Pertamina sebagai pemenang tender untuk mengkaji kembali proyek tersebut. Diketahui Pertamina sudah lama memenangkan tender Seulawah, dengan harga jual beli listrik 6,9 sen dolar AS per Kwh, namun tidak dilanjutkan karena harus menunggu perizinan. “Saya minta diselesaikan. Kalau dianggap akan merugikan jangan diteruskan. Namun jika tidak diteruskan, maka Pertamina akan kehilangan uang sekitar Rp1 miliar karena sudah investasi di sana. Tapi kalau dianggap layak maka silahkan dikerjakan,” katanya.

Menurut Dahlan, patut disyukuri bahwa proyek 9 pertama sudah dalam pengerjaan, yaitu PLTP Sungai Penuh Unit 1 dan 2 di Jambi 2 x 55 MW, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu 2 x 55 MW, PLTP Kotamobagu Unit 1, 2, 3 dan 4 di Sulut 4 x 20 MW. Selanjutnya, PLTP Lumut Balai Unit 1, 2, 3, dan 4 di Sumsel 4 x 55 MW, Ulubelu Unit 3 dan 4 di Lampung 2 x 55 MW, Kamojang Unit V di Jabar 1 x 30 MW, Karaha Unit 1 di Jabar 1 x 30 MW, dan Lahendong Unit V dan VI di Sulut 2 x 20 MW.

Dengan berjalannya proyek geothermal tersebut akan menghasilkan sekitar 1.000 MW, yang masing-masing proyek penyelesaiannya diperkirakaan selesai sesuai target. Proyek geothermal dengan investasi sekitar Rp15 triliun itu sempat mangkrak karena harga jual yang belum kunjung mencapai kesepakatan.

Target Produksi

Sebagai salah satu pengelola, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) menargetkan produksi listrik dari panas bumi sebesar 2.300 megawatt (MW) hingga 2025. Presiden Direktur Pertamina Geothermal Rony Gunawan mengatakan, saat ini produksi listrik panas bumi perseroan mencapai 402 MW. Beberapa proyek pembangkit listrik panas bumi (PLTP) dengan total kapasitas 655 MW, sedang digarap perusahaan, sementara 1.210 MW proyek-proyek baru tengah dipersiapkan untuk dilaksanakan. “Jadi, apabila seluruh proyek tersebut tuntas kelak kapasitas produksi listrik panas bumi Pertamina Geothermal akan mencapai 2,3 gigawatt (GW),” kata Rony.

Rony menambahkan, dari proyek-proyek yang sedang berjalan dalam jangka menengah sampai dengan tahun 2018, kapasitas PLTP ditargetkan mencapai 847 MW. Seperti PLTP Kamojang unit 5 dengan kapasitas 35 MW akan mengalirkan uap pada 2015, PLTP Karaha unit 1 berkapasitas 30 MW di tahun 2016, PLTP Lahendong unit 5&6 dengan kapasitas 2×20 MW pada 2016, PLTP Ulubelu unit 3&4 berkapasitas total 40 MW masuk pada 2016 dan 2017.

PLTP Lumut Balai 1&2 dengan kapasitas total 2×55 MW akan masuk pada 2016 dan 2018 serta PLTP Hululais 1&2 dengan kapasitas 2×55 MW masuk pada 2017 dan 2018. “Sehingga nanti pada tahun 2018, PGE sudah memiliki kapasitas produksi 847 MW, baik dari kegiatan total proyek maupun produksi uap. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak pernah berdiam diri untuk terus mencari dan memproduksi listrik dari panas bumi,” paparnya.

Rony mengungkapkan, untuk mempercepat pelaksanaan proyek-proyek panas bumi di masa mendatang diperlukan beberapa dukungan yang memungkinkan investasi yang ditanamkan dapat memberikan hasil yang menarik bagi investor.

Setelah masalah tarif kini sudah ada solusi, namun, kata dia, ada kendala utama yang dihadapi perusahaan saat ini, terutama pada wilayah kerja pertambangan (WKP) baru adalah tidak adanya komitmen atau jaminan yang mengikat pada proses tender sehingga kecenderungan pengembang menawar dengan harga rendah agar menang dan tidak ada batas waktu pengembangan yang pasti. “Ini merugikan bagi perusahaan yang serius ingin mengembangkan panas bumi, termasuk PGE,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Gedung Bertingkat Jakarta Bakal Dicek Kelaikannya

Gedung Bertingkat Jakarta Bakal Dicek Kelaikannya NERACA Jakarta - Komite Keselamatan Konstruksi (K2) bakal melakukan pengecekan kepada berbagai bangunan gedung…

Mandiri Investasi Bakal Terbitkan KIK- EBA

NERACA Jakarta – Sukses mengantarkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) menerbitkan produk inovatif di sektor pasar modal Indonesia, yaitu…

Tekan Angka Kerugian - OASA Selektif Pilih Proyek Margin Bagus

NERACA Jakarta – Mencatatkan pendapatan di 2018 sebesar Rp 22,82 miliar atau turun 28,59% dibanding tahun lalu Rp 31,96 miliar,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Komoditas - Penyerapan Biodiesel Strategi Hadapi Diskriminasi Sawit Eropa

NERACA Jakarta – Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta menilai penyerapan biodiesel di dalam negeri…

Kemendag Pastikan Izin Impor Bawang Putih 7 Perusahaan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan memastikan izin impor bawang putih bagi tujuh perusahaan…

CIPS Sebut Distribusi Minol Lewat PLB Rentan Tambah Korban

NERACA Jakarta – Distribusi minuman beralkohol (minol) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) rentan menambah korban luka dan korban jiwa akibat…