Harum Energy Tidak Lagi Ekspor Ke Jepang - Jenis Baturabara Tidak Sesuai

NERACA

Jakarta—Perusahaan tambang PT Harum Energy Tbk (HRUM) menyatakan, perseroan telah memberhentikan penjualan batubara ke Jepang sebab sudah tidak memiliki batubara dengan kalori yang sesuai permintaan,”Dulu perseroan masih punya jenis batubara yang sesuai dengan spesifikasi yang diminta klien dari Jepang, di mana nilai kalorinya cukup tinggi," kata Direktur Utama Ray Antonio Gunara dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (26/8).

Menurut dia, perseroan melakukan ekspor batubara mayoritas ke China. Hal ini dilakukan menyusul China sebagai pasar yang paling agresif dari sisi harga."Kami terus mempertahankan negara-negara lain sebagai pasarnya, antara lain Korea Selatan dan Taiwan," ujarnya.

Untuk kebutuhan domestik, ia mengakui, perseroan tidak menjual batubara ke dalam negeri. Disebabkan adanya perbedaan spesifikasi kalori batubara antara yang dimiliki perseroan dengan permintaan domestik yang pada umumnya penggunaannya pembangkit listrik,”Kadar kalori yang digunakan oleh industri pembangkit listrik adalah kalori rendah, sedangkan kalori dari batubara yang diproduksi perseroan relatif lebih tinggi," ungkap dia.

Dia menambahkan, prospek batubara ke depan masih menjadi fundamental sumber energi. Sebab, terlihat dari sisi kebutuhan PLTU yang semakin berkembang. Asal tahu saja, perseroan belum lama ini merevisi target produksi komoditas lantaran untuk menghindari biaya produksi yang besar dan menjadi beban kinerja keuangan.

Ray Gunara pernah mengatakan, guna menekan biaya produksi tahun ini, perseroan memaksa harus merevisi target produksi tahun ini, “Realisasi produksi akhir tahun 2013 mencapai 11,5 juta ton. Untuk target produksi tahun ini kami kurangi sebesar 30% menjadi hanya 7,5-8 juta ton,”ujarnya.

Menurut dia, upayanya merevisi target produksi sekaligus sebagai strategi perusahaan untuk melakukan efisiensi pada tahun 2014. Apalagi kondisi perekonomian nasional maupun global masih belum menentu. Di samping itu, alasan merevisi target produksi juga disebabkan ketersediaan batu bara di pasar internasional kian berlebih

Akibatnya, kata Ray, saat ini harga jual batu bara rendah. Walau perseroan mengurangi produksi, kinerja semester I/2014 tetap menunjukkan hal yang positif,”Situasi tersebut terlihat dari performa laba pada semester I/2014 mencapai Rp200 miliar,”paparnya.

Meski kinerjanya positif, lanjutnya, sampai sekarang perseroan justru tidak menargetkan nominal laba secara detail hingga akhir tahun 2014. Di sisi lain, terkait potensi pelambatan penyerapan batu bara di Tiongkok, pihaknya memprediksi hal itu bisa saja terjadi. Namun untuk proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara tetap akan tumbuh.

Permintaan Pasar

Bahkan, rencana pembangunan 10 tahun ke depan pembangkit listrik mayoritas masih menggunakan batu bara. Maka dengan demikian, situasinya menjadi berimbang,”Ketika terjadi penurunan permintaan di Tiongkok maka masih ada permintaan batu bara di negara lainnya," katanya.

Sementara untuk pembangkit listrik di luar negeri, lanjut dia, perusahaan tersebut memproduksi batu bara dengan kadar kalori 5.500. Standar kalori itu digunakan supaya pasar internasional tetap meminati menggunakan batu bara yang diproduksi perusahaan tersebut.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$10 juta. Dimana sumber pendaaan berasal dari kas internal. Hal ini dilakukan karena perseroan memiliki arus kas yang masih kuat sebesar US$ 200 juta. Nantinya, belanja modal tersebut akan digunakan untuk ekspansi perseroan dan maintenance port, jalan yang dekat pada pertambangan batu bara.

Tercatat per 30 Juni 2014, PT Harum Energy Tbk meraih pendapatan menjadi Rp262,4 miliar dari Rp465,6 miliar pada periode yang sama 2013. Selain itu, perseroan juga mencatat beban pokok penjualan mencapai Rp209,3 miliar dari Rp374,07 miliar. Dengan demikian laba kotor menjadi Rp53,1 miliar dari Rp90,9 miliar. Sementara untuk laba sebelum pajak menjadi Rp23,6 miliar dari Rp34,04 miliar. Beban pajak penghasilan menjadi Rp3,7 miliar dari Rp7,9 miliar. Jadi laba bersih perseroan menjadi Rp19,9 miliar dari Rp26,1 miliar. (bani)

BERITA TERKAIT

AMMDes Pacu Produktivitas, Siap Rambah Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian secara konsisten dan berkelanjutan terus mendorong pemanfaatan dan pengembangan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) untuk…

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel

Penurunan Harga Batu Bara Pengaruhi Kinerja Ekspor Sumsel NERACA Palembang - Tren penurunan harga batu bara di pasaran internasional sejak…

Mantan Ketua MK - Milenial Rugi Kalau Tidak Memilih

Mahfud MD Mantan Ketua MK Milenial Rugi Kalau Tidak Memilih  Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…