Perlu Langkah Konkret

Kamis, 18/08/2011

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Keyakinan pemerintah Indonesia, bila krisis ekonomi global hanya sesaat dan tidak bakal mempengaruhi secara signifikan industri keuangan di dalam negeri, khususnya pasar modal terkesan terlalu percaya diri. Entah hanya untuk menyakinkan investor atau memang pemerintah sudah memprediksi kondisi tersebut. Jurus yang dipakai pemerintah lagi-lagi soal fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan ekonomi positif.

Bahkan apa yang disampaikan Dirut BEI Ito Warsito, bila industri pasar modal tidak bakal terpengaruh sistemik dari krisis ekonomi global, mungkin ini bagian upaya otoritas pasar modal mencoba memberikan ketenangan bagi para investor, bila Indonesia masih surganya untuk berinvestasi. Pasalnya, fundamental ekonomi yang kuat dan kinerja emiten positif dengan mencatatkan laba tumbuh 30% diyakini bakal menarik dana asing masuk lagi ke Indonesia.

Begitu percaya dirinya, investor asing diyakini tidak akan meninggalkan Indonesia. Klaim tersebut juga mempertegas bila Indonesia masih diatas China dan India sebagai negara yang nyaman untuk berinvestasi. Soalnya, China dan India telanjur disikapi rentan berpotensi negatif oleh pelaku pasar karena kedua itu sedang dilanda tingkat inflasi tinggi.

Apa yang diungkapkan Ito Warsito, tentang kenyakinan Indonesia akan lepas dan bisa menghindar dari pengaruh krisis global, juga disampaikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraannya kemarin, bila Indonesia mampu menghadapi krisis global dan bila benar terjadi, tidak akan berimbas secara berkepanjangan.

Tentu apa yang disampaikan para pembuat kebijakan perlu diapresiasi, bila Indonesia masih tangguh dan mampu menghadapi krisis tersebut dengan berbagai pengalaman. Namun sejatinya, dengan pernyataan tersebut juga harus diimbangi dengan tingkat kewaspadaan dan bukan hanya sesumbar yang nantinya berimbas potensi kerugian yang cukup besar.

Pelajaran krisis ekonomi global tahun 2008, menjadi pelajaran telak akibat sikap masa bodoh pemerintah soal krisis yang ujungnya berimbas bagi industri perbankan nasional. Selain itu, dampak tersebut juga menguras dana negara hanya untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri dari penarikan dana besar-besaran.

Maka dari itu, sikap waspada dengan langkah konkret lebih penting ketimbang hanya janji-janji gombal hanya untuk menina bobokan pelaku pasar atau meredam kepanikan investor. Asal tahu saja, pelaku pasar lebih bersikap rasional dalam menyikapi krisis ekonomi global dan bukan retorika. Bila sudah begini, apakah cukup pemerintah hanya memperlihatkan angka-angka pertumbuhan positif dibandingkan penyelesaian yang tuntas dan nyata. Karena dalam dunia bisnis dan investasi, upaya menjaga kepercayaan pelaku pasar sangat penting dan bukan sekadar lips-service.