Mayoritas Saham di Bank BUMN Tak Tepat Dibatasi

Jakarta - Kepemilikan saham mayoritas perbankan hanya ditujukan bagi bank-bank asing dan tidak tepat ditujukan bagi bank BUMN. "Di mana-mana, bank BUMN itu kepemilikannya tidak diatur. Jadi sepengetahuan saya kepemilikan dari bank-bank BUMN di China, Thailand dan India itu nggak diatur bahwa ini bank BUMN kepemilikannya 20%. Nggak ada aturan itu," tegas Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini saat buka puasa bersama media di Jakarta, Senin (15/8) malam.

Menurut Zulkifli, di luar negeri tidak ada aturan kepemilikan negara dalam bank BUMN. "Di luar negeri itu nggak ada yang mengatur mengenai bank-bank BUMN itu berapa persen boleh kepemilikan negara. Orang punya negara kok. Punya negara itu punya siapa? Punya rakyat Indonesia seluruhnya. Jadi, ngapain diatur," tukasnya.

"Mau 100% silahkan, mau 60% silahkan. Bank-bank BUMN setahu kami, bisa aja kami salah. Tapi setahu kami tidak pernah diatur berapa batas maksimum kepemilikan bank BUMN. Yang diatur itu yang selain kepemilikan dari BUMN. Makanya juga adalah logis di India, Thailand dan di negara lain. Itu bank-bank BUMN itu tidak dikonsolidasikan. Sementara bank-bank swasta dikonsolidasikan," imbuhnya.

Ia mencontohkan, di India tidak ada upaya mengkonsolidasikan bank BUMN. Di China hampir semua bank besar adalah bank pemerintah walaupun publik dalam arti mayotitasnya publik. "Kita tahu ICBC kemudian Agriculture Bank of China itu semua bank negara semua walaupun porsinya kecilnya adalah publik. Tapi apakah ICBC, Agriculture Bank of China dan Contruction Bank of China itu digabung? Nggak. Di sana nggak ada usaha menggabung-gabungkan bank BUMN," bebernya.

Di negara-negara tetangga, kepemilikan asing di bank memang dibatasi. "Yang kami ketahui bahwa di negara lain porsi kepemilikan asing di bank-bank di Malaysia, Singapura sepengetahuan kami memang dibatasi. Misalnya di Malaysia porsi kepemilikan asing di Bank di Malaysia sepengetahuan saya itu sekitar 20%, kemudian di Filipina 30%. Data ini yang kami dapat dari pengkajian terhadap kondisi diluar negeri," ucapnya.

Sementara porsi kepemilikan asing di bank-bank Singapura, imbuhnya, ada beberapa macam ada 15%, 20% dan 25%. "Jadi kalau seandainya ke depan Bank Indonesia membatasi kepemilikan asing di bank-bank di Indonesia saya kira itu sesuatu yang logis dan wajar karena memang di luar negeri peraturannya memang demikian," tukasnya.

BERITA TERKAIT

Pimpinan KPK Tak Datang, Pansus Tetap Bekerja

Pimpinan KPK Tak Datang, Pansus Tetap Bekerja NERACA Jakarta - Ketua panitia khusus (pansus) DPR Agun Gunandjar menegaskan akan tetap…

Targetkan Satu Juta Pengunjung - Mandiri PRI 2017 Akan Jadi Ajang Pameran Unik dan Tak Terlupakan

Targetkan Satu Juta Pengunjung Mandiri PRI 2017 Akan Jadi Ajang Pameran Unik dan Tak Terlupakan NERACA Jakarta – Mandiri Pekan…

Saham Malacca Trust Dalam Pengawasan - Bergerak Di luar Kewajaran

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mencermati pola transaksi saham PT Malacca Trust Wuwungan (MTWI) karena telah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah usai melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2017.…

Sinarmas MSIG Life Luncurkan 4 Produk Bancassurance - Gandeng Bank BJB

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) dan Bank BJB, berkolaborasi meluncurkan…

BTN Masuk Jajaran Perusahaan Terbaik Indonesia

      NERACA   Jakarta - Setelah berhasil meraih beragam penghargaan atas kinerjanya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.…