Listrik Nasional yang Mandiri, Berdaulat dan Bermartabat - Dirut PT Bakrie Power, Ali Herman Ibrahim

Sosok kelahiran Palembang 55 tahun silam ini dikenal cerdas dan tegas dalam mengentas berbagai persoalan di sektor kelistrikan. Dialah Direktur Utama PT Bakrie Power, Ali Herman Ibrahim.

Neraca, Perhatian dan pemahamannya yang besar pada pemanfaatan listrik dan energi, membawa sosok Ali Herman Ibrahim kental dengan seluk beluk efisiensi energi. Baginya, efisiensi adalah penghematan namun tidak bermakna pelit atau kikir. ”Efisiensi lebih tepat disebut tidak berlebihan, pas, cukup, tapi memiliki tujuan meminimalkan risiko dengan hasil yang maksimal dan memuaskan.”

Kebiasaan berhemat listrik diterapkan pula dalam rumah tangganya. Bersama sang istri, Herta Hermanu yang dinikahinya pada 1984, dan kedua putranya, Hafi Rengga Yuda dan Hana Dayu Kinasih, Ali menerapkan kedisiplinan dalam menghemat listrik di rumah.

Sejak kanak-kanak, kedua anaknya diajarkan menggunakan alat listrik dengan efisien. ”Begitu keluar ruangan, mereka langsung mematikan lampu. TV jika tidak ditonton segera dimatikan. Penggunaan AC (air conditioning) dilakukan sangat efisien,” kata Ali.

Efisiensi juga mewarnai kebijakan-kebijakan Ali ketika duduk di jajaran direksi PLN periode 2003-2008. Kesempatan itu ia gunakan untuk merancang dan melaksanakan program-program efisiensi pada Direktorat Energi primer yang dipimpinnya. Tujuannya jelas, menghemat pengeluaran dari sektor belanja energi primer.

Sebagai Ketua Tim Efisiensi PLN (EDP/Effisiency Drive Program), Ali merencanakan sederet penghematan. Untuk Pulau Jawa misalnya, ia berharap pembangunan pembangkitan berbahan bakar minyak dihentikan. Ia menghendaki percepatan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara, juga panas bumi dan bahan bakar nabati yang sifatnya bisa diperbaharui. Ia menyadari, Indonesia sangat kaya dengan potensi panas bumi. ”Energi panas bumi relatif lebih murah dan aman digunakan,” cetusnya.

Ali juga mendukung dan mendorong pembangunan pembangkit listrik bertenaga nuklir. Meski masih menuai silang pendapat, Ali berpendapat, nuklir merupakan energi masa depan yang murah, bersih, efisien dan berdaya maksimal dalam mendukung kelistrikan nasional yang andal dan bermutu tinggi.

Okeh karenanya, ia memandang keikutsertaan swasta tetap diperlukan. ”Tentu secara proposional, tanpa mengabaikan peran sosial dan nasionalisme bangsa”. Menurutnya, kedaulatan energi listrik suatu bangsa adalah ciri berdaulatnya sebuah nation. Untuk itu, campur tangan swasta – terutama pihak asing – dalam penyediaan kapital perlu dijaga. ”Pemerintah harus dapat memformulasikan sedemikian rupa, agar tidak mengurangi rasa nasionalisme dan kemandirian bangsa,” tegasnya.

Ali Herman berharap, reformulasi regulasi yang berkaitan dengan investasi asing di bidang kelistrikan nasional perlu mendapat perhatian semua pihak. ”Kalau selama ini investasi pembangkitan masih disokong pihak asing, baik dana, tenaga dan teknologi, maka pada tahun mendatang komposisi kedaulatan kelistrikan perlu dirombak secara gradual reformatif”.

Intinya, harus ada keberanian dari pemerintah untuk melibatkan swasta domestik. ”Pada saatnya, kita pasti mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional secara mandiri, berdaulat dan bermartabat,” ujarnya, optimis.

Pria yang memang lahir dan besar dari rahim perusahaan sektor ketenagalistrikan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), memulai kariernya usai menamatkan pendidikan di ITB (1978) dan bergabung di PLN Wilayah III Sumatera Barat. Satu tahun berselang, semangat dalam bekerja mengantar dirinya menduduki posisi Kepala Seksi Teknik, 1979-1983. Dilanjutkan dengan menjadi Kepala Bagian Teknik PLN Wilayah III hingga 1985. Selama bekerja di Padang, kecintaan Ali terhadap dunia kelistrikan tak terbendung. Di sela waktu kerja, ia sempatkan mengajar motor-motor listrik di IKIP, Padang.

Ali bercerita, pada 1980-an, sebuah mesin pembangkit listrik diesel terbesar di Kota Padang mati. Motor listrik rusak. Kumparan stator pun hangus terbakar. Meski sudah diperbaiki teknisi langganan PLN, mesin diesel tetap saja mati. Suatu hari sang teknisi mendatangi Ali. ”Orang bilang, Bapak suka mengajar motor listrik. Bisa bantu saya, Pak?” ucapnya berharap. Meski masih pegawai yunior, Ali melihatnya sebagai sebuah tantangan. Ia pun mengangguk setuju.

Mulailah ia memperhatikan mesin diesel. Ehm, ini mesin double spoel dengan kecepatan putaran yang bertingkat. Ujung kumparan pun bermunculan dengan banyak kabel. ”Mungkin dia (teknisi) salah sambung,” ucapnya dalam hati. Setelah memberitahu rangkaian kabel yang seharusnya, mesin pun hidup dan bekerja. ”Rancak bana (bagus benar),” teriak sang teknisi, setelah tiga hari tak dapat menghidupkan mesin. Ali pun berlalu dengan perasaan bangga.

Dari Bumi Sumatera, Ali kemudian menjalani penugasan sebagai Pimpinan Bagian Kelistrikan Nusa Tenggara Barat (1985-1988), lalu menjadi Kepala Bagian Operasi Konstruksi PLN Wilayah XI Bali-Nusa Tenggara, sebelum dipercaya menjabat Kepala PLN Cabang Tangerang pada 1992-1995.

Selama di Tangerang, Ali menyempatkan diri kembali menimba ilmu manajemen di IPPM-Jakarta, dan lulus tahun 1997. Ia pun menyandang gelar pascasarjana. Selanjutnya, ia kembali beroleh penugasan ke luar Jawa, menjadi Deputi Pemimpin Bidang Pengusahaan PLN Wilayah VII Sulawesi Utara.

Sejak itu, kepercayaan dan tugas silih berganti dipercayakan kepadanya. Mulai dari Manajer Divisi Pemasaran PLN PJB I, Dirut PT Cogindo Daya Bersama, anak perusahaan PT PLN (1999-2000), Dirut PLN Batam (2000-2003), Direktur Pembangkit dan Energi Primer PT PLN (Persero) dari 2003-2008. Dan sejak 2008, Ali Herman Ibrahim dipercaya sebagai Direktur Utama, PT Bakrie Power hingga sekarang.

Related posts