Hutang Untuk Pembangunan: NO!!

Neraca. Terkait investasi program MP3EI yang fantastis, Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan, mendesak pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri. “Semakin besar kita mengandalkan utang, maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional,” jelas Dani Setiawan di Jakarta.

Ia mengingatkan, bahwa Indonesia harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan negeri ‘paman sam’ tersebut. Di AS, kata Dani, mereka terlilit utang dan menjadi krusial. Tetapi di Indonesia, isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah menilai, total utang luar negeri Indonesia, baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati. “Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati,” jelas Didi akhir Juni lalu.

Sampai kwartal I 2011, jumlah utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 214,5 miliar, atau meningkat US$ 10 miliar dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang pemerintah sebesar US$ 128,6 miliar dan utang swasta US$ 85,9 miliar. Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini, sebesar 28,2% lebih baik dibanding 1997/1998, sebesar 151,2%. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini, mencapai 42,6% lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7%.

Anggota DPD RI, Dr. H. Rahmat Shah lebih jauh mengingtkan, bahwa bukan hanya hutang untuk pembangunan, namun pentingnya melibatkan unsur masyarakat dalam perencanaan sebuah pembangunan di daerah, termasuk dalam program MP3EI yang dicanangkan pemerintah pada Mei 2011 lalu.

Dengan keterlibatan nyata dan aktif dari masyarakat, kata Rahmat, maka pembangunan akan mendapat dukungan dan tujuannya akan lebih mudah dicapai. “Jangan biarkan rakyat hanya menjadi penonton dari sebuah proses pembangunan,” ungkapnya menekankan.

BERITA TERKAIT

Bos Pengembang Kuningan Place Jadi Terdakwa Kasus Pidana di PN Jaksel - Jual Hunian untuk Komersial

Bos Pengembang Kuningan Place Jadi Terdakwa Kasus Pidana di PN Jaksel Jual Hunian untuk Komersial NERACA Jakarta - Meskipun telah…

Peneliti Temukan Obat Baru untuk Kanker Stadium Lanjut

Peneliti memberikan harapan baru bagi penderita penyakit ganas, kanker stadium lanjut. Sekelompok peneliti di Inggris berhasil menemukan obat yang dapat…

TKN: Karakter Jokowi Dibutuhkan Untuk Memimpin Indonesia

TKN: Karakter Jokowi Dibutuhkan Untuk Memimpin Indonesia NERACA Jakarta - Debat kedua Pilpres 2019 pada Minggu (17/2) malam siap digelar.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Media dan Tantangan Teknologi Milenial

Indonesia merupakan negara di dunia yang memiliki banyak media dengan perkiraan berjumlah 47 ribu media yang terbagi dari berbagai model,…

Pers dan Usaha Mendorong Ekonomi Digital

Pers memiliki peran vital mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis digital di Indonesia. Melalui pemberitaan, pers dapat mempromosikan sekaligus mengedukasi pelaku…

Pers di Era Digital: Idealisme Versus Industri

Pers di Indonesia lahir dari idealisme para pendiri bangsa guna menyuarakan semangat memperjuangkan kemerdekaan kepada masyarakat luas, sejak zaman penjajahan…