Laba Bersih Dharma Satya Tumbuh 220%

Jumat, 25/07/2014

NERACA

Jakarta – Perusahaan perkebunan sawit, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan laba bersih semester I tahun ini sebesar Rp367,4 miliar atau meningkat sebesar 220% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (24/7).

Dijelaskan, peningkatan laba bersih yang cukup signifikan tersebut didorong oleh adanya kenaikan penjualan bersih perseroan yang mencapai Rp2,56 triliun selama enam bulan pertama tahun ini atau mengalami kenaikan sebesar 50,8% dibandingkan penjualan bersih pada periode yang sama tahun 2013.

Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk Djojo Boentoro mengatakan, perseroan berhasil membukukan laba bruto sebesar Rp846,1 miliar atau naik 77,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,”Sementara margin laba bruto meningkat jadi 33% dari 28,1% tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Adapun laba usaha juga meningkat sekitar 118,9% dari Rp259,7 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp568,3 miliar pada enam bulan pertama tahun ini. Margin laba usaha perseroan tumbuh 22,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15,3%. Menurutnya, kenaikan laba bersih tersebut disebabkan oleh meningkatkan produksi minyak sawit mentah (CPO) perseroan dan juga kenaikan Average Selling Price CPO dalam enam bulan terakhir.

Dia mengungkapkan, selama periode tersebut, produksi CPO perseroan naik sebesar 30,2% bandingkan periode yang sama tahun lalu. Sedangkan harga rata-rata CPO dalam enam bulan terakhir ini juga mulai membaik, dengan kenaikan dari Rp6,47 juta per ton pada semester I tahun lalu menjadi Rp8,78 juta per ton pada semester ini.

Djojo mengatakan, dari total laba bersih tersebut, total laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp362,6 miliar atau naik sebesar 232,8% dibandingkan enam bulan pertama tahun lalu Rp109,0 miliar. Sementara laba per saham ikut meningkat jadi Rp 171,05 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp58,34.

Tahun ini, perseroang mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 80 juta untuk mendanai penanaman baru sebesar 10 hektar. Dimana sumber belanja modal tersebut berasal dari pinjaman bank sebesar 70% dan sisanya 30% dari internal. Adapun pinjaman bank dimaksud adalah plafon yang telah ditandatangani dengan bank BCA dengan besaran hingga Rp2 triliun. Jika harus membiayai 70% capex tahun ini, maka DSN diperkirakan akan menarik sekira Rp500 miliar dari BCA.

Disebutkan, dana capex tersebut naik dari tahun lalu sebesar Rp 663 miliar. Kendati terus melakukan ekspansi, DSN tidak mematok target pertumbuhan yang fantastis di tahun ini. Adapun Target tahun ini tidak jauh berbeda dengan capaian 2013. Misalnya untuk produksi tandan buah segar (TBS) hingga penjualan CPO diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 20%-30%. "Ekonomi belum pulih. Target masih sama dengan tahun lalu," papar Djojo Boentoro. (bani)