Nilai Ekonomis Mudik

Jumat, 25/07/2014

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, setidaknya hal inilah yang dirasakan masyarakat kecil atau pedagang kaki lima yang banyak meraup untung dari berkah ramadhan, lantaran semakin meningkatnya konsumsi masyarakat seiring dengan perubahan pola hidup dan konsumsi masyarakat selama sebulan penuh. Karena, aktivitas ekonomi khususnya perdagangan melonjak dibandingkan dengan bulan bulan biasa. Selama sebulan penuh hampir semua sektor ekonomi bergerak lebih cepat dan dinamis untuk memenuhi permintaan masyarakat yang meningkat tajam. Dari pangan, pakaian, hingga transportasi dan jasa-jasa lainnya.

Alhasil, begitu padatnya roda perekonomian selama bulan Ramadhan hingga banyak masyarakat berandai-andai, kalau saja hari raya itu terjadi tiap bulan, pertumbuhan ekonomi bisa tujuh persen per tahun, bahkan dua digit, disertai pemerataan yang lebih baik. Kini mendekati di penghujung Ramadhan, masyarakat dihadapkan pada fenomena mudik lebaran. Dimana kondisi ini menjadi puncaknya lantaran tingginya aktifitas ekonomi, peredaraan uang hingga transfer uang.

Salah satu pengelola provider anjungan tunai mandiri (ATM) mengakui, menjelang hari raya Idul Fitri terjadi lonjakan transaksi nasabah bank sebesar 30%. Bahkan transaksi melalui ATM Bersama sepanjang Juni-Juli tumbuh 17%. Bila jumlah transaksi per hari normal mencapai 500.000 kali transaksi, sementara pada hari-hari di bulan Juli tahun ini bisa mencapai 738.000 kali. Angka tersebut terus meningkat mendekati Lebaran.

Fenomena mudik menjadi kabar baik karena daya beli masyarakat meningkat seiring dengan hadirnya gaji ke 13 atau tunjangan hari raya (THR). Selain itu, imbas dari mudik lebaran ini juga terjadi perputaran dan roda perekonomian di daerah. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat pekerja yang memilih mudik, tentunya akan banyak mengeluarkan uang untuk belanja dan membeli oleh-oleh bagi sanak saudara. Oleh karena itu, kehadiran pemudik di kampung halaman masing-masing hendaknya menjadi peluang bagi masyarakat di daerah tersebut untuk bisa menjual produk dan menggerakkan potensi daerah masing-masing.

Kini terlepas persoalan mudik lebaran menjadi tradisi atau fenomena tahunan, yang pasti pristiwa ini memberikan nilai positif karena memberikan dampak berganda bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat di daerah yang dilalui pemudik atau tujuan pemudik. Kemudian ekonomi puasa atau lebaran barangkali lebih tepat dipandang sebagai berkah, bukan berhura-hura menghamburkan uang dan memuja nafsu konsumsi. Nilai positifnya juga terletak pada redistribusi pendapatan yang dibawa oleh para pemudik ke kampung halamannya. Hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan menunjukkan perputaran uang selama arus mudik dan libur lebaran 2014 diperkirakan mencapai Rp 150 triliun.

Berkaca dari fenomena tahunan itu, semestinya pemerintah pusat dan daerah merancang berbagai program yang menyentuh langsung kepentingan rakyat, baik berupa proyek fisik maupun aneka jenis subsidi. Program- program itu diharapkan mampu memberdayakan mereka. Disamping itu, pemerintah ataupun perusahaan swasta selalu penyelenggaran mudik gratis juga diharapkan bisa memberikan fasilitas yang aman, nyaman sehingga tujuan mudik dengan niat baik untuk silaturahmi tidak dikotori dengan perilaku yang tidak bertanggung jawab dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.