Semen Indonesia Raup Laba Rp 2,8 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sepanjang enam bulan pertama tahun ini mengantongi laba bersih sebesar Rp2,83 triliun. Angka tersebut naik 9,7% dibanding enam bulan pertama tahun sebelumnya Rp2,58 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis(24/7).

Kenaikan laba bersih perseroan ditopang melonjaknya pendapatan sekitar 12,87% menjadi Rp12,89 triliun dibanding peiode yang sama tahun lalu Rp11,42 triliun. Namun naiknya pendapatan diikuti bertambahnya beban pokok pendapatan menjadi Rp7,12 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp6,28 triliun. Di samping itu, beban penjualan juga meningkat menjadi Rp1,31 triliun dari Rp1,03 triliun.

Beban operasi lainnya naik menjadi Rp4,42 miliar dari Rp2,37 miliar dan beban keuangan bertambah menjadi Rp159,59 miliar dari Rp154,41 miliar. Di sisi lain, perseroan berhasil meningkatkan pendapatan operasi lainnya menjadi Rp46,03 miliar dari Rp26,82 miliar dan pendapatan keuangan juga melonjak menjadi Rp148,46 miliar dari Rp78,28 miliar.

Adapun laba periode berjalan naik 10,12% menjadi Rp2,83 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp2,57 triliun. Sedangkan laba per saham daasar dan dilusi meningkat menjadi Rp476 dari Rp436 per lembar. Sementara aset perseroan per akhir Juni tercatat sebesar Rp30,76 triliun, dengan total utang mencapai Rp8,56 triliun. Angka ini menurun dibanding akhir tahun lalu, di mana jumlah aset sebesar Rp30,79 triliun, dengan total utang Rp8,99 triliun.

Belum lama ini, perseroan bersama pemerintah Jepang melakukan inovasi pembangunan pembangkit listrik berbasis panas industri atau Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) di Tuban, Jawa Timur (Jatim). Disebutkan, pabrik Tuban panas yang dihasilkan diprediksikan akan menghasilkan listrik dengan kapasitas 26 megawatt ampere (MWA) per tahun. Pembangkit listrik ini menggunakan energi dari hasil pembuangan gas buang dalam proses pembakaran dan untuk mengoperasikan turbin generator penghasil energi listrik.

General Manager of Corporate Secretary Semen Indonesia, Agung Wiharto pernah bilang, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik ini akan digunakan kembali oleh pabrik untuk mencukupi kebutuhan listrik yang saat ini masih mengandalkan dari PLN,”Pembangkit ini nantinya bisa menghemat biaya listrik sangat besar. Untuk Tuban, penghematan diperkirakan sekitar Rp120 miliar sampai Rp150 miliar per tahun. Karena, rata-rata kebutuhan listrik di pabrik Tuban mencapai Rp93 miliar per bulan atau sekitar Rp1,1 triliun per tahun," katanya.

Menurutnya, dalam pembangunan ini investasi yang dilakukan perseroan cukup besar, diperkirakan investasinya mencapai Rp560 miliar. Di mana, 20% di antaranya didapatkan melalui hibah pemerintah Jepang dan 80% merupakan dana internal perusahaan.

Proyek ini akan mulai dikerjakan bulan ini oleh kontraktor asal jepang, JFE Engineering, dan ditargetkan selesai pada akhir 2016. Sebelum dibangun di Pabrik Tuban, Semen Indonesia juga sudah membangun pembangkit serupa di Pabrik Indarung di Semen Padang. Untuk pembangkit di Semen Padang yang sudah dijalankan sejak 2012 dihasilkan listrik setara dengan 8 MWA atau senilai Rp33 miliar per tahun serta mereduksi emisi gas CO2 sebesar 43.000 ton per tahun."Ke depan kami juga akan kembangkan pembangkit serupa di Pabrik Semen Tonasa dengan potensi 14 MW. Paling cepat tahun depan akan dimulai proses studi untuk pengembangan pembangkit listrik di Tonasa," ujar Agung.

Related posts